Posted in My thought, Pengalaman

Wajahku…..

Wajah Ko tu ga cantik. Ga ada yang menarik meski menurut Ko diantara tumpukan organ yang ga menarik, mata adalah yang paling bagus. Iris mata berwarna coklat sehingga sering dituduh memakai contact lens. Selebihnya hanyalah tumpukan indra yang sempurna tapi tidak menarik.

Setidaknya buat Ko…

dan sejauh ini memang belum ada yang memuji selain iris mata.

Body Ko juga diatas rata-rata. Mo dibilang obes kayaknya agak sedih ya, gimana kalo jadi “plus size” aja. Membengkaknya badan ini banyak faktor, antara lain nasib dan genetik. Meski makan sedikit pun tampaknya makanan lebih menyukai mengisi relung badan dibandingikan keluar lagi dan terbawa aliran air. Ditambah posisi kerja yang kebanyakan duduk diam dibandingkan bergerak. Akibat plus size ini, Ko sering dituduh makan banyak dan rakus. Padahal tetangga sebelah, *lirik Ny. A, makannya lebih banyak tapi body yang tetap menjulang langsing, dia pun memiliki pola kerja yang sama. Tapi nasib berat badan berbeda.

Ngobrolin soal tipuan, Ko nih dah sering jadi tertuduh. Bukan sebagai orang yang kena tipu (pernah sih sekali) tapi sebagai orang yang dituduh sebagai orang yang berniat macam-macam.

Dulu waktu kuliah, Ko tinggal di rumah kontrakan sendirian. Meski rumah itu dikontrak tapi si pemilik minta 1 kamar belakang buat diisi anaknya yang kadang berkunjung. Jadi, hari itu, teman Ko datang untuk mengerjakan tugas dan si anak pemilik rumah pun datang. Ko sibuk mengerjakan tugas dan sekali ke kamar mandi untuk mandi. Teman Ko beberapa kali ke kamar mandi untuk pipis. Sore itu terjadi kehebohan setelah diketahui bahwa anak pemilik rumah kehilangan jam yang tertinggal di kamar mandi. Ko sebagai satu-satunya orang di rumah pun menjadi tertuduh. Siapa lagi yang bisa dituduh? Merasa tidak mengambil dan tidak melihat jam itu, Ko tentu saja menolak tuduhan. Menuduh orang lain rasanya pun tak tepat (masak sih kawan Ko yang ambil). Meski sampai sekarang kasus ini tak terpecahkan, Ko tetap menjadi tertuduh.

Mystery…..

Yang berikutnya adalah saat kejadian intip mengintip jadi heboh. Setelah kejadian kehilangan jam, kami pun pindah berbondong-bondong (5 kawan). Pindah ke rumah baru berupa ruko. Ruko depan diisi oleh serombongan pemuda sedang kami dibelakang. Kamar mandi saling berhimpitan dan entah desain terinspirasi dari siapa, bagian atas kamar mandi dibuat lubang memanjang. Mungkin biar udara kedua kamar mandi saling bertukar. Entahlah.

Ketika itu kuliah libur, sebagai anak luar pulau, Ko malas pulang hanya untuk seminggu. Capek di jalan. Mandi pagi di hari libur berarti jam 11 siang. Saat membasuh dan menengadah, Ko menjerit melihat sebuah muka sedang memandang di celah diatas dinding kamar mandi. Muka itu pergi tapi meninggalkan gemetar parah. Segera membereskan mandi dan keluar, gemetar. Teman yang baru tiba dari kampungnya menemukan Ko duduk di ruang tengah. Ko menceritakan kasus itu dan teman memutuskan untuk menutupnya dengan kertas tebal. Sore itu mereka mendatangi orang sebelah rumah kontrakan dan menegur. Yang ada mereka marah-marah dan merobek kertas penghalang. Sekali lagi Ko merasa tertuduh sebagai penyebar berita palsu.

Namun akhirnya kasus ini diselesaikan dengan pindah kontrakan karena kemudian ditemukan dua lubang di kertas pembatas yang kembali kami pasang.

Mystery was solved…

Tuduhan berikutnya adalah saat sekolah di luar. Entah kenapa mereka mencurigai Ko memiliki aura tertentu yang benar. Bule-bule itu bilang kalo ko mischievous.  Yang tentu saja Ko tolak. Lah Ko aja ga tau mischief-nya ko macam mana. Tapi mereka bilang: mata mu itu loh yang nunjukin kalo kalo tuh mischief.  Walhasil tiap belanja beberapa kali mereka memperhatikan Ko lebih teliti. *hela napas.

Eike bukan maling neeeeeek… apalagi pengutil 😦

Nasib.. nasib… entah kenapa muka Ko menjadikan Ko sebagai orang yang ga bisa dipercaya. Entahlah.

Nasib…..