Posted in Curhat Colongan, My thought

It is a no-no untuk Single Baper

Nah nah nah… Jadi single itu punya masalah sendiri apalagi kalo yang baperan kayak gw. Jujur aja, gw baperan apalagi menjelang menstruasi: tingkat baper meningkat berkali-kali lipat.

Mulai dari baper yang tingkat rendah sampe baper yang tingkat tinggi dengan meraung-raung. Apalagi pas masa PMS, tingkat kebaperan tau-tau melonjak.

Nah masalahnya kan karena kita (ciyeeee… kita….) perempuan, doyan dong sama yang manis-manis, unyu, penuh pengharapan. Kayak nonton itu tuh “Say Yes to The Dress”. Itu acara tentang pencarian baju nikah yang ideal atau yang dicari para calon pengantin. Mereka mencoba berbagai baju, mendapatkan masukan dan membeli baju yang sesuai atau pulang dengan tangan hampa untuk mencari baju lain yang dirasa sempurna.

Menyaksikan mereka menangis bahagia karena menemukan baju yang sempurna itu bikin baper tingkat dewa. Karena gw tau gw ga akan bisa memakai baju indah atau berada dalam upacara penyatuan dua manusia.

Eh tapi gw tetep terus nonton sambil baper juga sih wkwkwkwk

Mana TLC siarinnya maraton lagi. Hadeeeh….

800
Source: The Onion

Terus dilanjut dengan Bride gone wild  dan the Big Day. Hadoh…hadoh… skala baper melonjak.

Eh tapi gw tetep terus nonton sambil siapin tissue dan ngutuk-ngutuk tapi iri. Campur aduk perasaan

Memang seharusnya single baperan ga boleh nonton acara-acara kayak gini.

Satu lagi yang bikin baperan adalah nonton channel food. Hadooooh… makanan dan masakan. Enaaaaak dan bikin lapar. Juga bikin baper. Lah mo masak, buat siapa? juga pasti butuh efforts yang banyak tanpa ada yang makan.

Mo kasih tetangga? tetangga gw cuma 1. Agak kurang memuaskan juga. Hadeeeeh.

8441725e94b3095e75b6de5d426479ca
Source: Instagram

Baper… baper… baper… laper….

Ga baik kayaknya kalo si single baperan nonton kayak ginian.

Baca chicklit juga bikin gw baper. Tuh buku-buku dah lama ga masuk dalam daftar pustaka gw. Ga sangguuuup liat wanita-wanita itu mendapatkan keinginan mereka sedang gw masih kejar-kejaran mencari cinta dan ga pernah tertangkap.

iriiiiii…….

Nonton film drama romantis satu lagi siksaan. Ish.. ish…ish…. Malah lebih banyak nangis dan bapernya. Rasanya sakiiiiit banget pas diakhir cerita pasangan itu mendapatkan kebahagiaan.

Gw kapaaaaann????

Bapernya si single yang baperan emang dasyat….

4a277054f1ebed5dfc57ac7ae2ecb654
Source : Instagram

 

 

 

Posted in My thought

Perempuan. Single

Tulisan ini saya buat hari ini. Setelah seseorang dari masa lampau datang menyapa dan bertanya: “bagaimana perkembangannya?”. Meski itu kalimat sapaan yang biasa namun saat ditambah dengan: “you know what i mean”, saya mulai berfikir: ada yang salah?

Dengan berusaha google beberapa saat (dan itu benar-benar beberapa menit) saya mulai mencari adakah blog tentang wanita single. Sejauh ini, 5 menit pencarian dengan keyword: blog, wanita, single, saya tidak menemukan hal yang berarti selain ciri-ciri wanita single, komunitas wanita single, wanita single parent.

Well, sebagai salah satu wanita single yang tidak memiliki hubungan berarti dengan lawan jenis (yes, I am straight), saya merasa ga ada salahnya untuk bercerita. Saya rasa mungkin ada beberapa reaksi, termasuk yang tidak menyenangkan atau tidak terduga. Kalau saya rasa sanggup, saya akan meneruskan dan jika tidak, saya akan berhenti.

Tidak bermaksud untuk membuat sedih atau melebihkan label single. Tapi living as a single just like living a a couple. Ada sedih. Ada senang. Tawa, tangis, rasa kesepian, kegembiraan, bersyukur, kesulitan…

Diamkan sejenak, dan berfikir apakah saya cukup berani bercerita

Posted in My thought

Keburu kiamat….

Ko dah bilang kan kalo yang paliiiiiing bikin rempong itu malah lingkungan sekitar? Bener-bener rempong dah. Mulai dari yang turut “berduka cita”, turut prihatin, ngajak jadi istri ke dua, ngajak jadi istri siri, nakut-nakutin kalo kiamat dah dekat, makin peyot dan bonyok, mateng di pohon, sampe ada yang ngejek parah.

Capek deeee……

Kayaknya gangguan dari sekitar ini berubah sejalan dengan usia. Kalo masih muda mungkin (lupa-lupa ingat). Masa muda lebih banyak godaan dari dalam diri. Saat yang lain asik-asik pacaran, eeeeh gw masih manyun kamana-mana sendirian. Waktu penelitian, yang punya pacar sih enak. Ada yang bantuin angkut tanah, nemenin ke lapangan, nemenin di lab. Bahkan salah satu alasan Ko ga mau ambil tugas akhir lapangan, karena repot cari teman yang mo bantuin!

Sejalan dengen pertambahan usia, masalah being single itu bertambah. Ga lagi cuma perasaan “sendirian” dan butuh kasih sayang, tapi juga tuntutan sekitar.

“Kuliah dah selesai. Kapan nikah?”

“Apa lagi yang dikejar? kerja udah, uang punya”

“Jangan milih-milih. Ntar kepilih yang busuk loh”

Nah itu pas masa muda dan masa berjaya. Gimana kalo udah lewat masa muda alias 30 tahunan ke atas?

Pertanyaan tersebut diatas ditambah prejudice. Dugaan-dugaan yang entah benar atau salah:

“Karir mulu yang dikejar, nikah ga mau dipikirin”

“Kamu sih sekolah tinggi-tinggi, cowo jadi takut milih kamu”

“Jabatan kamu tinggi sih. Mana ada cowo yang berani sama boss”

Lah kok jadi salah gw karena gw bisa terus melanjutkan pendidikan dan punya karir yang lumayan…. Bijimane ceritanye?

Nah kalo umur dah lebih dari 30, orang jarang ada yang nanya tuh. Biasanya bisik-bisik aja.
“Dia kan pertu”

“Dia ga ada yang mau melamar karena pendidikannya tinggi”

“Ada yang mau tapi begitu tau dia boss, pada mundur”

“Dia judes sih, cowo ngeri”

Bantu enggak, cariin enggak, ngomongin iya. Minjem uang juga iya.

Jadi single tuh cobaannya sama beratnya atau lebih berat dari emak-emak. Udah kena tuduh kiri kanan, jadi korban pamer kebahagiaan, dan ga ada yang mau nolong. Kalo dibalikin, jawabnya: “sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya, cari aja sendiri” atau “ntar kalo dicariin, kamu ga mau lagi”.

Hadeeeeh….

Lama-lama bukan mau kiamat tapi udah kiamat buat si single.

RIP dah….

Posted in My thought

Post Perdana

Segala sesuatu ada yang pertama dong. Sama kayak pertamanya post di blog ini. Antara iseng-iseng, ingin mengedukasi, ingin nulis dan meluapkan uneg-uneg maka dibuatlah blog Te Kohine ini.

Kohine itu berasal dari bahasa Maori, artinya girl, perempuan. Sedangkan Te itu berarti The. The Girl. Perempuan. Wanita.

Perempuan itu memiliki kromosom XX. Lawannya adalah XY. Perempuan itu punya ovarium dan uterus. Selebihnya perempuan itu adalah manusia. Dampak memiliki ovarium dan uterus mengakibatkan adanya menarche, mens, haid, period, datang bulan, palang merah, pendarahan rutin. Ada beberapa perempuan yang tidak memiliki kesempurnaan seperti itu tapi tetap diakui sebagai wanita. Ada juga pihak yang ingin menyeberang dan diakui sebagai wanita. Tapi ga usahlah kita bahas. Ntar jadi rame.

Beberapa perempuan juga tidak sempurna dalam menjalani daftar hidup normal. Saya dari kecil sudah memikirkan urutan kehidupan saya: sekolah, kuliah, kerja, menikah. Urutan yang sederhana. Ternyata dalam perjalanannya saya hanya sampai pada tingkatan bekerja. Tidak sampai untuk memenuhi cita-cita menikah.

Beberapa perempuan sampai pada tahapan menikah, namun terhenti sampai proses memiliki keturunan. Beberapa perempuan terus lanjut, tapi berhenti pada tahap mendapatkan keturunan dari keturunan pertama alias cucu, entah karena anak tidak menikah atau tidak mendapatkan keturunan. Beberapa wanita bahkan terputus dalam masa hidupnya. Entah terputus saat sekolaj, saat bekerja, saat menikah atau saat menuggu cucu. Alias meninggal.

Waktu usia masih berada angka yang kinyis-kinyis, masih pede dong bisa menikah. Bahkan sempat iri saat teman-teman seangkatan mulai meninggalkan masa lajang dan menjadi ganda campuran. Meski ketawa-ketawa tapi ada rasa sedih.

Masa iri menjadi masa mencari. Kalap. Berharap. “Jodohku… maunya ku dirimu….” Gitu kata Anang. Bahkan kalo ada tukang parkir niup peluit mo mundurin mobil pun, bisa bikin deg-degan: jangan-jangan lagi periwitin gue nih….

Lewat deh masa kalap. Timbul masa santai. Ya udahlah, kalo ga ada yang melamar, nikmatin aja hidup. Saking nikmatnya hidup, semua dibawa senang. Sampai ga bisa membedakan ni orang emang suka atau cuma main-main. Semuanya dibawa main. Bahkan mulai membalik: sibuk gangguin orang.

Saat ini sih, enak-enak aja. Tapi yang ga enak itu lingkungan sekitar. Entah kenapa mereka lebih ribut dibandingkan pelaku. Orang tua, jelaslah khawatir. Meski orang tua Ko masih ga nanya-nanya terlalu jauh, tapi paman, bibi, ponakan yang dah gede bahkan tetangga ikut “menghakimi”. Capek tauuuuuuu…

Teman, rekan kerja, ikut menanyakan bahkan mempertanyakan. Malah bikin tambah stress.

Tapi ya gitu lah. Normanya, normalnya, adabnya, baiknya, – apalagi tuhan sudah menjanjikan- bahwa semua orang itu berpasangan. Kayak pagi dan sore, siang dan malam, terang dan gelap, kanan dan kiri. Sialnya kadang suka ada gerhana yang berkepanjangan Atau mati lampu terus-terusan, atau kidal yang berkepanjangan. Walhasil, single bukan lagi pilihan, single bukan lagi kemauan tapi single adalah satu-satunya cara yang harus dihadapi.

Demikian