Posted in Curhat Colongan, tumor

Perjalanan sejauh ini: Sebulan sejak operasi

Sudah sebulan sejak operasi dan sampai hari ini gw belum dapat hasil PA dari rumah sakit. Gelisah? Takut? Bingung?

Tapi ga ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu dan pasrah.

Gw makin ga berani melihat ke bekas operasi tapi kadang saat berpakaian, gw bisa melihat pantulan dari cermin. Bekas luka memanjang dengan warna kecoklatan, sedikit warna gelap di sekitar. Gw ga merasakan lagi ada benda keras didalam dada. Kadang gatal, kadang sakit terutama saat kedinginan dan menjelang menstruasi.

Sialnya, pada saat yang hampir bersamaan alergi gw kambuh. Alergi yang baru gw tahu dan sadari setelah bertahun-tahun hidup. Yup… eczema. Dokter cuma bilang untuk menghindari stress dan mengetahui apa pencetusnya. Bisa aja makanan, udara, debu, tungau…. Sampai sekarang gw ga tahu apa pencetusnya selain lembab, panas, keringat dan abu.

Ga pakai pelembab, kulitnya kering banget dan gatel. Pakai pelembab, gatal dan bikin luka. Kepanasan dan debu bikin gatal. Ditambah dengan ga sadar untuk menahan diri buat ga garuk.

Berobat ke dokter cuma dikasih salep yang ga mempan. Gw cuma ingin jangan gatal sehingga ga menambah luka dan sejauh ini gagal. Sekarang setiap gatal gw jadi ketakutan. Takut kalau menyebar dan ga sembuh.

Nasib….

Advertisements
Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalan sejauh ini: Tumor – Paska operasi

Empat hari menunggu itu serasa berbulan-bulan. Rasanya lama banget. Gw bahkan lupa hari dan tanggal. Banyak dilewatkan dengan menjahit kristik dan tidur. Gw berusaha belajar memasang bebat sendiri. Bebat itu membantu supaya dada gw ga banyak bergerak dan jadi nyeri. Setelah bebat merosot terus, gw kira gw harus punya beha yang nyaman dan tidak ketat. So gw beli online bra sport yang diagung-agungkan sebagai magic bra. Lumayan.

Mandi gw dengan cara di lap. Gw bisa mandi sendiri karena terlatih mengurus diri pasca operasi. Ini bukan operasi pertama gw: tangan kiri, perut kanan bawah karena usus buntu dan sekarang ini. Gw ga berani melihat jahitan yang diperban.

Senin (28) tiba. Gw mendaftar online, jadi sampai sana gw langsung ke meja pendaftaran online. Gw diminta ke loket 13 untuk BPJS kemudian balik ke meja pendaftaran online menyerahkan rujukan dan surat konsul kemudian diberi nomor. Setelah itu diberi pengantar ke poli bedah dan menunggu sampai jam 11. Menunggu di Musholla yang berdekatan dengan kandang rusa sampai jam 10.30. Kembali ke poli bedah. Menunggu

Dokter datang jam 11 lewat. Menunggu lagi sampai gw dipanggil. Gw dah bisa ketawa lega. Dokter bilang dah ga nangis lagi ya dah bisa ketawa. Perban dibuka oleh dokter koas wanita dan buset…. nyeriiiiii….. “dah mau kering kok” kata dokter koas.

“Bagus kok” Dokter bilang. Ternyata gw ga dijahit tapi dilem, jadi gw ga ngerasain ngilu saat benang dicabut, cuma nyeri saat plester perban dibuka. Gw diminta kembali lagi nanti saat hasil PA. Gw ga bisa diskusi lama karena dokter koas ngegiring gw keluar. Gw masih mau tanya tentang bagaimana perawatan paska operasi, bagaimana penanggulangan tumor di payudara kiri gw, apakah ada yang harus dilakukan?

Oh well, next time mungkin.

Dada gw masih terasa nyeri kadang-kadang, apalagi kalau terguncang. Selain itu gw merasakan bahwa ada massa yang keras dibawah bekas operasi. Gw ga berani megang, gw cuma membersihkan saat mandi dengan tidak menekan keras-keras kemudian mengusapkan antibiotik di luka operasi, mengingatkan kembali adanya kemungkinan tumor baru. Dokter bilang sih semua tumor sudah diangkat tapi gw tetep cemas.

Gw balik ke rumah Senin malam. Dijemput abah. Kakak gw bilang: “operasi lagi bah” Abah cuma ketawa aja. Gw memang ga memberi tahu banyak orang. Gw ga sanggup kalau ditanya-tanya. Sedih rasanya. Apalagi dengan ketidakpastian gini. Gw cuti kerja sampai lebaran. Pengen sendiri dan belajar menerima bahwa mungkin satu saat gw akan mengalami masa-masa sulit.

Let me enjoy my last times.

Gw masih menunggu telepon dari RS untuk megetahui hasil PA. Semoga setelah lebaran….

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalanan sejauh ini: Tumor – Operasi

Gw benci menunggu tapi gw juga ga suka telat. Kombinasi yang membingungkan tapi begitulah.

So menunggu 7 hari untuk operasi itu sangat menyiksa. Belum lagi bayangan potensi kanker, bikin hidup gw berantakan. Karena gw sementara tinggal dengan sepupu, otak gw harus selalu benar dan normal. Menjaga otak dan emosi supaya normal itu susah tapi mo gimana lagi. Gw kurang suka menunjukan emosi, gw ga suka dikasihani.

So gw memutuskan pulang dulu dan menenangkan diri. Ga tenang juga sih. Gw cenderung nangis bermalam-malam. Namun “kerjaan” gw dalam menjaga emosi dan otak lebih ringan. Gw nangis dan mengeluh sendirian sepuasnya. Menjelang operasi gw terpuruk flu. Dah deg-degan karena cemas operasi dibatalkan karena flu berarti demam dan rentan. Ditambah mens gw tepat waktu. Berharap mens terlambat malah dia datang tepat waktu: dua hari menjelang operasi.

Mens tidak mengganggu operasi meski dikabarkan mens akan menyebabkan perempuan lebih rentan terhadap rasa sakit. Tapi flu yang bikin gw takut. So, gw langsung hajar dengan obat-obatan dan membatalkan puasa di hari kedua. Pertimbangan gw, ini darurat dan gw harus sehat dan semoga Allah mengampuni gw.

Hari Minggu, gw berangkat ke Jakarta. Hujan deras gila-gilaan. Pandangan terbatas dan macet ampun-ampunan. Sampai Jakarta jam 8 dan langsung istirahat. Gw masih punya waktu sehari buat menikmati ketakutan dan kemulusan kulit gw. Hari Minggu dilewati dengan kecemasan: belum ada telepon dari rumah sakit, cemas akan tekanan darah, cemas akan kemungkinan kanker. Tapi seperti biasa, gw berusaha menjaga otak dan emosi berjalan normal. Meski mungkin kakak sepupu bisa mengidentifikasi kecemasan gw.

Senin sore tanggal 21, sekitar jam 4, rumah sakit telepon dan meminta gw masuk kamar malam itu. Gw bilang akan datang setelah maghrib. Harus buka puasa dulu. Sekitar jam 7 sampai di RS, mendaftar langsung ke unit perawatan, mengisi beberapa formulir dan gw diminta istirahat. Puasa mulai jam 12 nanti malam dan nanti akan dipasang infus malam nanti. Ok. Gw masuk kamar, istirahat dan mulai tertidur ketika seorang perawat pria masuk dan bilang: pasang infus dulu ya….

Oke, pasang infus sebelah kanan, sakit dikit tapi karena gw penakut maka banyak drama. Sehabis pasang infus, perawat bilang besok operasi sekitar jam 8-10 pagi. Oke…. siap. Balik tidur. Pagi-pagi bangun dan berusaha mandi tapi ga bisa dengan segala infus dll. Akhirnya cukup sikat gigi. Ganti baju operasi dengan susah payah karena gw sendirian, dan membiarkan underwear ga ganti. Mudah2an dimaklumi.

Darah menggumpal di infus gw. Kata perawat gw kebanyakan gerak. ya iya lah…. pipis, ganti baju, dengan satu tangan terikat itu butuh banyak gerakan. Perawat Pria yang tadi malam memperbaiki infus gw dan ganti ke tangan kiri yang menurut gw lebih bebas dan ga terlalu mengganggu. Menunggu lagi….

Dah jam 8….

Dah jam 9….

Dah jam 10…

“yuk siap bu” Suster ruangan tau-tau datang dan merubung gw. Membawakan kursi roda. Oke it’s about the time. Kakak sepupu gw baru datang waktu gw digiring ke lantai 3, adek cowo gw datang dari jam 8. Jam 10.15 gw masuk ke ruang persiapan operasi. Menunggu. Lagi. Tiduran. Lagi. Kepala gw mulai agak pusing. Dokter koas beberapa kali datang menanyakan hal yang mirip: Berat badan, tinggi, keluhannya, ada diabetes, darah tinggi atau alergi?

Ada 3 pasien. Satu mau dikuret, gw dan satu bapak-bapak. Beberapa kali terdengar bayi menangis. Suster yang menjaga pasien bilang kalau dokter itu yang membantu kelahiran pasti cepat. Selama gw nunggu udah 2 x bayi menangis.

Ibu yang dikuret dah masuk…. Bapak yang tua sudah masuk… tau-tau ibu sebelah tempat tidur gw masuk. Dia mau dioperasi juga mengambil tumor di payudara kanan tapi ukurannya lebih kecil. Kami berbincang. Gw udah berdoa dan membaca berbagai surat yang gw baca, adanya ibu itu udah cukup mengalihkan pikiran

jam 11 kurang gw dibawa masuk ke ruang operasi. Pindah dari tempat tidur ke tempat tidur operasi. Perawat masih sibuk keliling. Dokter belum datang katanya. Pengukur tekanan darah dipasang. Menunggu lagi. Gw agak heran karena mereka tidak memasang kateter. Entah kenapa gw merasa perlu untuk dipasangin kateter. Gw tanya dan mereka jawab, ga dipasang. So gw bilang apakah gw boleh pipis dulu, in case nanti kalo dibius gw ngompol. Mereka antar gw ke toilet dan ketika balik gw liat para perawat masih duduk dan berdiri menunggu dokter. Mereka bilang supaya gw balik ke ruang tunggu karena dokter belum datang.

Somehow gw ngerasa capek. Perawat magang ngajak gw ngobrol. Lumayan buat penghalau kecemasan. Seorang dokter masuk dan bilang: ibu ini (ibu sebelah gw) masuk duluan. Damn… masih harus nunggu

Gw ngantuk dan tertidur. Gw bangun ketika dokter koas ngomong: ngantuk ya: ayo siap. Sat set sat set… balik lagi: pindah ke ruang operasi, naik meja operasi, bentangkan tangan kanan kiri, disuntik dan blessss gw hilang kesadaran. payudara yang mo dibuka sudah ditandai. Ukuran tumor yang besar sepertinya memudahkan mereka buat menemukan keberadaannya. Gw ingat jam menunjukan pukuk 11.30 siang pas dibawa keluar. Gw sadar jam 3 sore di luar ruang operasi. Gw bisa melihat tapi sulit bicara. jam 4 gw balik ke kamar. Gw sadar saat mereka bilang: keluarganya mana dan ada yang jawab: sudah duluan kebawah.

Di kamar gw merasa dunia terang banget seperti ribuan lampu sorot menyoroti muka. Gw minta supaya mata gw ditutup kain untuk menghalangi sinar masuk. Gw masih bisa ngomong dan berfikir. Sempat minta digarukin hidung karena gatal.

Jam 5 kakak gw datang, kakak sepupu gw pulang. gw udah bisa ngomong dan membuka mata. Ternyata ruangan ga seterang yang gw rasa, sore dah menjelang, suasana kamar dah mulai muram. Gw dah bisa makan, dah mulai kentut beberapa kali dan gw terus tidur.

Selasa pagi gw bangun lebih enak. Dah bisa ke kamar mandi untuk pipis dan sikat gigi. Dada gw terasa kencang dan ga terlalu nyeri karena dibebat. Masih ga mandi. Seharian itu benar-benar membosankan: tidur, bangun, makan, tidur. Gw ga tahan kalau berhari-hari harus begini. Dokter bilang minimal 3 hari dirawat. Gw bosan. Dokter belum datang juga. Yang nungguin gw malah bikin gw kepikiran. Kasian mereka nunggu. Nunggu tuh membosankan. Gw suruh pulang, kakak gw ga mau. Teman gw datang ngejenguk.

Dokter belum datang.

Jam 4 dokter datang. Menanyakan keadaan gw dan gw jawab: dah bisa jalan, dah bisa bangun. dah bisa makan. Boleh pulang? Dokter tanya sudah lihat belum tumornya kayak apa? Tumornya sebesar bakso. Gw cuma mengerling. Baso? baso urat, baso telor, baso setan, baso beranak yang happening, baso volley atau baso apa nih.

“segini…” sambil membuat lingkaran besar dengan telunjuk dan ibu jari. “besar”

“ganas ga?”

“hmmmm belum bisa bilang sih kan belum PA”

“Kira-kira menurut dokter?”

“hmmmm kemungkinan enggak”

Nyengir. “pulang ya?”

“Pulang lah kalau dah sanggup”

Makin nyengir.

Malam itu gw pulang. Dan kembali tidur. Satu-satunya kesenangan yang gw lakukan dengan senang hati. Melewatkan waktu untuk bertemu dokter lagi minggu depan hari senin.

4 hari lagi. dan gw ga tahan untuk pulang…..

Empat hari lagi bertahan….

 

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalanan sejauh ini: Tumor-Faskes 2 (2)

Oke diputuskan buat lanjut ke tahap berikutnya: faskes 2. Gw memutuskan untuk berobat ke RS TNI AU di Halim. Alasannya karena dekat rumah, cuma itu.

Berangkat jam 6 pagi dengan dugaan pasti ada antrian. Sampai sana, ambil nomor yang didampingi oleh seorang petugas. Syukurlah, karena gw emang ga tau sama sekali bagaimana mendaftar. Petugas itu menanyakan penjamin gw (BPJS) dan apakah ini kedatangan gw pertama. Gw dapat nomor 1027 kalau ga salah. Agak jiper juga. Dah seribuan yang daftar.

Ternyata angka 1 didepan menunjukan bahwa gw adalah pasien baru daftar. So cuma menunggu 26 nomor. Petugas pendaftaran menanyakan kartu BPJS dan surat rujukan. Kemudian gw dapat nomor antrian di dokter bedah umum (rujukan gw ke dokter bedah).

Disini baru perjuangan dimulai.

Pendaftaran butuh kurang dari satu jam tapi dokternya ternyata praktek jam 11 siang. Walhasil, nunggu sambil terkantuk-kantuk. Surat dari meja pendaftaran sudah gw serahkan ke petugas dokter bedah. Tinggal tunggu aja kata bu haji. Jam 11 pak dokter baru datang. Dokter yang menangani gw dr. Catur.

Saat pemeriksaan gw jelaskan kalo ada benjolan di payudara kanan gw. Besar. Bisa diraba dan dirasa. Dokter menyuruh gw tiduran dan buka baju. Well, what do you expect: kalau ada yang tumbuh di payudara lo dan perlu diperika, mau ga mau harus buka baju. Dokter meminta izin supaya dokter koas mendampingi dan ikut observasi. Gw jawab: ‘ga papa. Satu hari nanti dokter koas yang akan mengobati orang-orang kayak gw”. Sempet2nya gw sok bijak *facepalm

Dokter meraba, memencet, payudara gw. Di seitar benjolan. Kemudian gw suruh angkat tangan dan dia memeriksa daerah ketiak yang berbatasan dengan payudara. Setelah itu gw disuruh berpakaian dan memulai diskusi.

“Usia ibu sudah diatas 40 tahun. Berdasarkan usia, biasanya benjolan pada wanita diatas usia itu dicurigai sebagai tumor berpotensi ganas”

Mata gw mulai berair. Gw tanya apa yang akan dilakukan. Dokter bilang yang pertama kali harus dilakukan adalah pengangkatan benjolan tersebut kemudian dilakukan analisa patologi. Jika ganas, maka akan dilakukan masektomi dan kemoterapi.

Gw tercekat.

Keluarga gw mengalami kanker dan gw ga sanggup menjalaninya. Gw bersedia mengurus pasien tapi gw takut sebagai penderita kanker. Cukup gw melihat penderitaan adek gw yang kena osteosarcoma. Gw ga akan sekuat dan setegar dia.

Sambil menahan air mata gw minta tissue. Dokternya cukup concern dengan bilang: loh kok nangis, saya ga galak kan. Well dokter ga galak tapi berita yang dibawanya bikin kecut. Meski gw tahu prosedur yang akan dilakukan dan kemungkinan yang akan dihadapi, gw tetep jiper.

Dokter bilang ga ada obat yang akan diberikan, cukup persiapkan operasi. “Kapan mau operasi?” Gw langsung terdiam. Ga tahu kapan. Kakak sepupu gw bilang bahwa lebih baik kalau secepatnya. “Oke, gimana kalau tanggal 22 Mei?”. Otak gw dah mumet. Gw sudah mengosongkan jadwal selama 3 bulan dan ga mau berurusan dengan kerjaan. secara teori gw bebas, secara moral gw ketakutan.

Akhirnya disepakati kalau operasi tanggal 22 Mei, seminggu setelah konsul pertama. Dokter mengirimkan surat pengantar untuk pemeriksaan darah, jantung, rontgen thorax dan USG. Gw tau bahwa untuk pemeriksaan tumor payudara adalah USG dan atau mammography tapi gw kira ga perlu dengan benjolan yang bisa diraba secara fisik (meski kalau dilihat ga ada perbedaan antara payudara kanan dan kiri gw).

Gw diminta ke loket 13 untuk pengurusan BPJS sebelum lanjut ke proses berikutnya.

Sore itu gw langsung periksa darah dan pulang.

…… Bersambung…..

Posted in Pengalaman

Usus buntu! Sebuah perjalanan

Never ever ever again.

Untung usus buntu itu diciptakan untuk ga tumbuh lagi. Jadi setidaknya ga akan ada kemungkinan terjadi lagi appendisitis.

Sehari setelah operasi, Ko masih merasakan kantuk yang lumayan dan otak yang melayang. Berusaha untuk sadar dan berfikir jernih. Mendapati tangan tertancap jarum dan setiap 8 jam disuntik obat-obatan, bikin pasrah. Kateter masih dipakai, blood drain masih tertancap. Bergerak pun susah.

Untung sepupu bersedia menemani dan mengurus selama Ko sakit. Salah satu kesedihan yang paling dalam adalah saat sakit sendirian dan ga ada yang bisa mengurus saat lemah tak berdaya.

Balik lagi cerita. Hari kedua masih tak berdaya. tapi otak mulai cerdih. Penghilang nyeri yang disuntikan setiap beberapa jam memberikan rasa sakit yang parah saat disuntikan. Dokter bilang: “kamu sempat kesakitan saat akhir operasi”. Ya Ko masih mengingat erangan dan rasa sakit yan sangat. Jadi, saat penghilang nyeri menimbulkan nyeri saat masuk ke pembuluh darah, Ko bersedia menahannya. Mulai diberikan makanan karena observasi 24 jam telah selesai dan pergerakan usus ditemukan sudah membaik.

Hari ketiga sudah belajar untuk miring kanan dan kiri. Ko selalu tidur menghadap kanan. Tidur terlentang bukan pilihan yang menarik. Apalagi tidur tengkurep. Bakal ga bisa. Masih terasa ngiluuuu dan perih di bekas luka operasi yang tertutup perban. Salah satu kebijakan rumah sakit adalah mandi dengan menggunakan tissue basah. Hal yang sangat memberatkan karena tissue basah cenderung lama terdegradasi di tanah. Walhasil Ko menunggu sepupu untuk melap badan.

Hari ke empat dokter memutuskan untuk membuka selang infus. Lumayan. Meski jarum masih tertancap untuk memasukan obat tapi pergerakan tangan lebih baik. Bisa menggaruk. Kateter mulai diikat dan setiap 4 jam dibuka untuk memastikan kandung kemih sudah belajar untuk menahan pipis.

Hari ke lima, kateter dibuka. Ngiluuuuu saat dicabut. Tantangan baru. Karena berarti harus turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Belajar turun dengan berpegangan pada suster atau sepupu yang ko remas kuat-kuat saking ngilu dan perihnya. Hari itu adalah mandi pertama dan keramas pertama.

Hari ke enam, libur. Karena itu weekend dan dokter ga ada. Menikmati belajar turun sendiri. Ngilu dan nyeri sudah makin berkurang dan Ko HARUS belajar mandiri. Sulit membungkuk. Blood drain masih menghalangi.

Hari ke tujuh, suster membawa ke ruang periksa dokter. Perban diganti. dan blood drain dicabut. Tarik napas katanya. Tapi siapa yang sanggup menarik napas tanpa mengeluarkan selama beberapa menit saat blood drain dicabut. Ngiluuuuuuuuu dan perih. Dokter memutuskan untuk memulangkan Ko.

Hari ke delapan. Ko sudah di rumah sepupu. Entah emang kebluk, entah terbiasa di rumah sakit atau memang masih terbawa suasana bius, hari itu dilewati dengan tidur. Begitupun hari ke sembilan. Tapi Ko memutuskan untuk belajar mandi (mengelap diri) sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.

Luka pada perut masih sangat terasa. Menggunakan korset ibu paska melahirkan sangat membantu untuk mengurangi rasa nyeri meski menimbulkan kesan habis melahirkan. Bangkit dari kasur, duduk, berdiri, berjalan masih menyakitkan.

Hari ke sepuluh, semuanya jadi lebih baik. Tapi ketakutan akan rasa sakit masih menyebabkan semua pergerakan menjadi lambat. Hari kesebelas hingga saat ini (hari ke sembilan belas), rasa ngilu dan nyeri makin berkurang. Jika kita sudah terbiasa dengan kepedihan, maka kepedihan akan menjadi bagian dari diri kita. Namun kadang masih terasa pedih yang mendadak. Luka makin mengering. Kadang terasa baal dan aneh saat tersentuh. Napas terasa mudah habis meski perjalanan yang sedikit dan kepala terasa nyut-nyutan. Mungkin bukan karena dampak samping operasi tapi penyesuaian akibat terlalu lama beristirahat.

====================

Sebagai seorang single yang harus mengalami sakit dan harus dirawat, sendirian itu menyesakan. Kunjungan dari orang yang sangat dianggap dekat sangatlah membantu. Berbicang-bincang tanpa menyinggung soal sakit, akan sangat menyenangkan dibandingkan dikunjungi teman dan mereka menunjukan rasa kasihan.

Meski suster selalu ada dan siap membantu, diurus oleh keluarga sendiri menjadi sangat diharapkan. Yang paling susah adalah saat harus mengurus administrasi, pertanggungjawaban menjalankan operasi, pengambilan obat, yang membutuhkan pergerakan fisik.

Ko sempat mendengar dokter berbicang dengan suster yang merasa kerepotan dalam hal administrasi dan pertangungjawaban akibat sang pasien diantar teman dan dia ga berani bertanggung jawab dan membubuhkan tanda tangan. Sedih rasanya.

Posted in Pengalaman

Pertama….. Operasi perut

alodokter-usus-buntu
Source: alodokter

Kemarin udah cerita kan tentang segala sesuatu yang pertama dan bersyukur karenanya. Ternyata beberapa hari kemudian, Ko mengalami hal pertama.

Diawali dengan dada yang terasa panas pada hari selasa pukul 1 pagi yang terus menjalar ke bawah sampai ke perut kanan. Hadooooh… hadooooh…. sakit guling-guling. Memastikan itu bukan masuk angin atau kebelet doang, Ko sempat-sempatnya nongkrong di the loo dan malah muntah. Sejam kemudian perut mereda namun masih sakit. Telepon teman dan minta diantar ke UGD. Berangkatlah jam 2 ke RS dan dokter mulai angkat-angkat kaki kanan Ko.

“Sakit?”

“Enggak begitu”

“tapi mukanya kok nyengir?”

Walhasil di rujuk ke RS lain untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan indikasi apendiks akut. Tau dong kalo itu adalah usus buntu. Tapiiii… ko sudah janji untuk presentasi hari rabu malam dan kamis akan mengurus passport. Walhasil, mengingat sakit perut yang berkurang, kita tunda sajalah ke RS-nya.

Memenuhi janji semua, akhirnya kamis jam 2 dengan diantar kakak sepupu, belok ke RS. UGD. Dokter periksa sana sini, ambil darah, ambil pipis. Tekan sana sini daaaaaaan…..

“panggil dokter bedah ya”

Konsul daaaaaaaaan… BEDAH!

“Laparoskopi ga bisa dok?”

“Bisa tapi kamu lebih lama lagi ntar. Soalnya butuh tim panel kalo ini mah saya aja sendiri”

Terpaksa mau.

Jam 5 sore masuk ke kamar inap. Ganti baju operasi. Ga pake mandi. Jam 7 malam diseret ke ruang perantara. Jam 8 malam masuk ruang operasi. Jam 1 pagi, Jumat, kembali ke kamar.

Teringat dong cerita kemarin: segala sesuatu bisa jadi yang pertama. Dan meski operasi ini bukan yang pertama tapi operasi buka perut buat Ko ini adalah yang pertama. Operasi di Indonesia adalah yang pertama. Menggunakan BPJS adalah yang pertama dan mendapatkan pelayanan dari RS RP di Sunter adalah yang pertama. Diurus orang lain saat sakit adalah yang pertama.

Semuanya pertama.

Saat ingin mengeluh karena suster tidak terlalu membantu, saat ingin mengeluh karena sakit yang sangat dirasa, sangat ingin menangis karena merasa terabaikan, pusing karena kelamaan terbaring.

Semuanya pertama. Nikmati aja.

Sambil meringis saat pertama kali turun dari kasur untuk pipis….. “aduh susteeeer….”