Posted in Curhat Colongan, My thought, tumor

First Appointment: gagal

So hari ini gw waste satu hari kerja. Antara disukuri dan enggak sih. Waktu gw makin sempit dan mendesak, sebenarnya gw harus berani mengambil keputusan.

Berangkat pagi-pagi. Sepaginya gw adalah tetap jam 6.30. It is quite hard for me to start earlier even though I wake up at 2 am. Gw lupa ambil uang di atm kemarin. So sambil menjaga kepala gw tetap tenang, stabil dan fokus, gw mengingat semua yang gw perlu bawa dan yang harus gw lakukan.

Surat rujukan, KTP, KK, ASKES, botol minum, botol infused water, kristik satu set, buku sketsa, tempat pensil, dompet uang, dompet kartu, topi. Ada semua. Apalagi: Sisir, bedak, dan lipgloss. Gw ga ingin muka ketakutan gw tampak nyata. Done. Dan tas gw pun jadi berat. Gw salah pilih tas, harusnya ransel bukan tas selempang. Oh well, ga ada waktu buat ganti tas.

Pemberhentian pertama adalah cari atm. Hari ini jalan lumayan lancar, Di tikungan tapal kuda, gw rada takut karena tikungan yang panjang dan tajam, untung mobil dibelakang gw sepertinya tau kalo cewe bermotor ini ga terlalu lihai, dia membututi gw dan melewati saat jalan aman buat gw dan dia buat salip. Oke. Done. Uang dah diambil dan gw mulai mempersiapkan Waze.

Gw ga tahu rumah sakit yang dituju.  Meski sudah bertahun-tahun tinggal di kota kecil ini, gw tipe orang rumahan. Gw ga akan naik motor gitu aja dan cabut kemana yang gw suka apalagi di daerah kecil ini yang bahasanya aja gw masih gagap. Rumah sakit yang dituju hanya 34 km dari rumah gw. Aman lah. Jalan macet di beberapa tempat, lampu lalu lintas parah ga terpakai dan jalan ga terlalu terurus. Well, ini kota kecil, what do you expect.

Tiga puluh menit kemudian gw sampai. Tanya gimana cara pendaftaran, ambil nomor dan mulai menunggu. Gw baca kalau mereka menerima pendaftaran lewat WA, kembali ke meja resepsionis dan kembali bertanya semua termasuk dokter bedah yang ada. Gw mulai google dan ketakutan kembali melanda. Bayangan buruk mulai lagi. Maju mundur. Gw memutuskan buat mundur dengan alasan dokter ada jam 5.20 sore, gw bisa ambil nomor antrian sekarang tapi tetap harus kembali sekitar pukul 5. So, it is not worth. Gw akan kecapekan menunggu di RS seharian atau gw balik lagi dan menghadapi jalan yang ga nyaman dan pulang malam.

Pulang. tapi gw butuh penghalau susah. So hari ini yang terbuang akan dipergunakan buat service motor dan potong rambut. Rambut gw panjang dan agak merepotkan kalau nanti harus dirawat,

=====================================

So, buat kasus kali ini, gw mempersiapkan diri. Tanpa siapapun di dekat gw. Tanpa orang tua dan saudara. Pasrah. Seandainya nyokap masih ada, mungkin beliau sudah berusaha sedemikian rupa dan akan selalu mengkhawatirkan gw. Gw akan berharap pada nyokap dan tergantung beliau. Sekarang ga ada nyokap, gw sendirian. Gw ga akan melihat nyokap sedih lihat keadaan gw. Satu keberuntungan yang bisa diambil.

Melihat orang tua susah, terasa menyedihkan dan menyesakan dada. Tanpa orang tua, lebih menyedihkan dan menyesakan.

Adik gw juga cancer. Gw menunggu di setahun terakhir sebelum wafat. Gw ga akan sanggup seperti adik gw. Bertahun-tahun menderita dan berkali-kali operasi, kemo, radiasi. Gw ga tahu rasanya adik gw menatap hidup bahwa tahu hidupnya dijatah dan kematian dipelupuk mata tanpa tahu kapan dalam penderitaan. Seperti hidup di ujung tanduk.

Mungkin gw akan gila akan ketakutan itu. Mungkin gw ga setabah itu. So malam ini gw nangis lagi, Setelah seharian ini gw membuang waktu dengan ketakutan, penyesalan dan kesia-siaan.

Tuhan, ampuni gw.

Advertisements
Posted in My thought

Sendiri dan kesendirian. Sepi dan Kesepian

“Kok kamu ga nikah sih? ntar masa tuanya sama siapa? Sendirian. Kasihan”.

Itu adalah salah satu “bujukan” atau pertanyaan yang paling sering diperdengarkan. Dulu sih kepikiran kalau itu ada benarnya. Sampai berkaca pada ibu. Anak ibu itu ada 5. Dua diantaranya pergi mendahului beliau setelah bapak wafat. Tersisa 3. Satu pergi sekolah ke luar negeri, 2 lagi pisah rumah karena pekerjaan. Ibu sendirian di rumah. Sesekali ada yang datang tapi lebih sering ibu sendirian.

Memang sih, kalau menikah dan punya anak, masih bisa diharapkan anaknya mengurus orang tua. Dengan catatan: (1) Punya anak (2) anaknya ga meninggal duluan (3) Anaknya tipe yang berbakti pada orang tua sehingga bersedia mengurus sampai tua (4) punya menantu yang baik (5) Semua berjalan dengan baik dan benar.

Yah dibandingkan yang ga punya anak, kalo ah jelas punya anak mah agak lebih sedikit tentram. Menurut Ko loh ya…

Tapi memiliki pasangan atau anak atau teman ga berarti kita ga merasa sendirian loh. Sendirian ditengah keramaian. Sendiri tidak harus sendirian. Sendirian ga melulu harus sendiri. Begitu juga dengan sepi. Sepi tidak harus kesepian. Kesepian tidak melulu sepi.

Ko lebih senang sendiri dan menyepi. Banyak orang seringkali membuat Ko terpana. Terlebih diantara orang yang tidak dikenal. Rame bikin pusing. Tapi tidak selalu Ko kesepian. Banyak bisa dilakukan dan dikerjakan. Meski demikian, ada saat-saat dimana ada rasa kesepian.

Rasa dimana benar-benar sendiri dan tidak ada teman. Buntu, terasing, terputus secara sosial, merasa otak berkecamuk. Sendirian. Kesepian. Saat-saat seperti itu seperti teriakan yang terbungkam.

Ko biasanya melanjutkan dengan menangis. Karena ga ada yang bisa dilakukan. Berbicara dengan teman sepertinya akan mengganggu. Mereka belum tentu mengerti dan memahami apa yang dirasa. Menangis adalah jalan satu-satunya.

Tapi rasa kesepian ini ga harus terjadi pada si single. Si ganda campuran pun bisa merasakannya. Merasa terputus dari pasangannya dan sendirian. Apakah mereka menagis? mungkin. Mungkin mereka menangis sendirian. Seperti ko yang menangis sendirian. Bedanya mungkin tingkat kekerasan suara tangis. Ko ga malu2 buat nangis kejer. Beberapa menit. Untuk kemudian kembali “sehat” dan melanjutkan hidup.

It’s ok to be alone. It’s not ok when you feel lonely. Since I know the feel of loneliness, I always love to cheer other people so they will not feel lonely. But they just don’t know.

tumblr_npv0rycvjw1sv0afuo1_500

Kalo kamu merasa sendirian, it is ok to cry. Tapi jangan lama-lama. Kembali semangat dan kembali bertemu dengan orang-orang.Cheer up.