Posted in My thought

Penyintas

Pagi ini Ko melihat seorang selebriti yang diwawancarai karena beliau adalah penderita kanker dan sedang berjuang untuk sembuh. Ko memang melihatnya selintas, tidak duduk dengan tekun dan mengamati. Sambil berusaha memasukan kaki ke kaos kaki, Ko melihat wanita ini menceritakan perjuangannya sambil sesekali menghapus air mata. Entah memang ada air yang keluar dari matanya atau hanya gerakan simpati, entahlah. Tak baik menduga.

Gerakan menghapus air matanya tidak menyebabkan bulu mata tambahannya copot. Eyeshadow dan segala taburan warna di mukanya tidak hilang. Alisnya tetap tebal. Mungkin hasil tato, mungkin. Rambutnya yang dulu dibotakin sudah mulai tumbuh, hitam mengkilap.

Ko belum pernah di kemo dan berharap ga pernah tapi Ko pernah menemani penderita kanker yang dikemo. Jangankan untuk berdandan, untuk senyum pun sulit. Inginnya punggungnya dielus-elus. Satu baskom selalu ada di dekatnya. Muntah. Setiap buku jari dan lipatan kulit menghitam. Rambut rontok, alis hilang, bulu kakinya yang lebat yang suka Ko ketawain, habis. Matanya sayu. Sehabis kemo, kami selalu siaga 1, seandainya tiba-tiba dehidrasi akibat muntah dan diare.

Bald is beautiful but cancer is not – Talia Castelliano

Mungkin tidak semua penderita kanker yang mendapat pengobatan kemo tidak mengalami seperti yang dialami oleh adik Ko. Mungkin. Karena selebriti ini masih mampu untuk kepo berbagai macam medsos dan muncul dimana-mana dengan alis yang tebal (mungkin ditato) dan bulu mata tebal yang lentik (mungkin disambung) dan berbagai macam warna di mukanya.

Make up is my wig – Talia Castellano

Memang tidak semua penderita kanker harus muncul dengan kesedihan. Kenapa tidak dengan kecantikan dan kemudaan. tapi melihatnya, hati Ko serasa tertusuk, sepertinya berlawanan dengan kejadian didepan mata dulu. Jangankan bercerita untuk melawan penyakit, berjuang dari hari ke hari pun sulit. Sulit menyisakan cerita buat berbagi. Kami yang tertinggal yang bisa bercerita dan menyemangati penderita lainnya.

rs_600x600-130716115720-600-2talia-ls-71613_copy

Salah satu penyintas kanker yang terkenal adalah Talia Castellano. Beliau menderita kanker sejak berusia 7 tahun dan menikmati hidupnya hingga ajal menjemputnya. Melihat Talia, melihat ups and downs-nya, serasa manusiawi. Semoga muncul penyintas-penyintas kanker lainnya yang memberi semangat dan menjadi teladan

talia_joy_castellano_in_hospital-sleeping

Advertisements
Posted in My thought

Dandan dooong

“Kamu tuh coba dong jangan kayak preman. Dandan dikit”

Aih aih aih… setelah hampir 3 bulan ga ketemu, tante sebelah rumah langsung mengajukan protes.

Ish… ish… ish.. ish…

Sambil tersipu-sipu, ko mengelap wajah yang keringetan dan mengkilat karena minyak muka keluar semua akibat dihajar matahari Jakarta. “iya Tan. Kemarin dari lapangan 3 minggu. Nih muka masih belum bisa bersih lagi”.

“Pantes, kayaknya mukanya gosong”.

Booo… tiap Ko jalan ke kawasan dataran rendah, jangan harap kulit yang berwarna coklat ini akan memutih. Harapkan untuk lebih menggelap. Sudah terbiasa dengan kawasan dataran tinggi yang adem, wajah Ko akan menggelap (lebih dari sekedar memerah). Jadi kalau baru pulang dari lapangan ditambah dengan kepanasan di dataran rendah, jangan harap wajah yang ga cantik berubah menjadi bidadari.

Itu penjelasan Ko tentang harus dandan.

Eh tapi dah sering loh, orang mengingatkan untuk little bit girly and put make up. Well, yea, many times, I wear girly dress and put some make up. Tapi ga setiap saat. Pekerjaan Ko menuntut kostum yang lebih fleksibel dengan mementingkan anti UV yang tinggi. Jadi, kalo berharap always girly, ya susah.

Eh tapi, sambil mesem-mesem depan si tante, Ko sempat berfikir: why people expect us to be more girly and have make up on our face? Kenapa harus selalu bergaya cewe dan dandan supaya dapat menarik perhatian lawan jenis?

Well, I am straight. I am sure. Tapi saya ga terlalu suka dandan. Kalaupun dandan, memilih menggunakan yang simple dan cepat. Too much time wasting in front of the mirror. Saya suka berpakaian girly (not too girly). Rok, dan gaun. Tapi Ko lebih suka simpel dan memakai celana denim. Dan kalau itu dianggap penghalang mendapatkan pasangan, what can I say?

I am happy with myself, I love my own skin and sometimes I show it. Tapi berharap untuk menjadi gadis yang ideal sesuai bayangan orang pada umumnya, ya ga bisa. Yang terjadi malah gagap.

I dress myself for me. I put make up on my face, for me. I work out, for me. I eat, for me. For me. If I am happy, and if I am happy, i will be glowing. and my surrounding will be glow.

Cara berpakaian Ko adalah untuk Ko, dandan pun untuk diri sendiri. Olahraga juga buat kesehatan ko. Bukan untuk orang lain. Jika Ko bahagia dan senang, maka akan terpancar dan orang sekeliling pun akan melihat kebahagiaan itu.

Sialnya, kadang mereka masih melihat kesendirian Ko menjadi cacat yang enak buat diotak atik. Menutupi semua kelebihan yang mungkin dimiliki seorang single.

Menurut saya sih, ga usah memaksakan diri menjadi sesuatu yang lain supaya fit in. Be different (in good way). Be happy with yourself. Kalau kita bahagia, maka kebahagiaan akan terpancar.

Kadang dalam menentukan siapa kita, seringkali kita mencoba berbagai cara dan arah. Mungkin pernah salah dan tersesat. Tapi pada saatnya menemukan style sendiri, embrace it.