Posted in My thought

Menunggu Kematian

Cancer -Twenty One Pilot

Beberapa kali mendengar lagu ini dan ga pernah benar-benar menghayatinya sampai tadi pagi. Saat lagu ini terdengar di earphone, Ko mulai mencari tahu siapa penyanyi, judul dan liriknya. Ternyata dari film “The fault on our stars”. Twenty One Pilot yang terdiri dari 3 orang musikus.

Sebagai salah satu keluarga yang memiliki 2 orang penderita kanker dan tumor dan kemungkinan menderita tumor juga, mendengar lagu ini sangat menyayat hati. Menyaksikan satu persatu tumbang dalam penderitaan yang lama, betul-betul melelahkan dan menyakitkan. Bukan cuma pada penderita juga bagi keluarganya. Tapi kami bertahan (sayangnya hal itu tidak mendekatkan kami).

Kematian akan datang pada akhirnya. Pada waktu yang tidak bisa ditentukan, pada tempat yang tidak bisa diketahui, dengan cara yang tidak bisa dipilih. Bernapas hari ini, besok sudah menghilang. Tertawa saat ini, menjerit menahan sakit sebelum kematian datang. Berpesta di tempat mewah saat ini, ditemukan sendirian tanpa nyawa keesokan. Ga ada yang tahu.

Bagi orang yang sehat dan dianggap bugar, kematian dirasa masih sangat jauuuuh. Masih ada hari esok. Besok masih bisa bertemu. Hari-hari penuh dengan optimisme dan rencana masa depan. Namun buat orang yang sudah merasa ditentukan, hari-hari adalah penderitaan, penantian, pengharapan. Doa dipanjatkan untuk masa depan yang tidak bisa dihitung tapi dekat. Sewaktu-waktu, kematian jelas akan datang didepan mata.

Menyaksikan adik yang kesakitan selama 2 tahun dan pada akhir pertemuan, beliau sudah merasa melihat dead people around her. Asked me to allow my late brother to come him. Said that late father waved to her. Dan Ko memaksa dia buat sadar: It’s your illusion. It was hard. She sometimes realised it was just illusion but other times she believed it and forced me to open the window and allowed them to come in. Seeing her was sad and devastated but I believe she must be more sad and afraid. When she passed away, I was away, miles away, different continent.

Begitu pun saat ibu menjalani masa-masa akhir hidupnya. Tumor otak yang bersarang di kepalanya membuat beliau menjadi pikun. Keluhan beliau lupa mematikan kompor, lupa jalan, lupa kata-kata bahkan lupa abjad, terasa sangat menyedihkan. Dulu beliau mengajarkan saya buat membaca dengan sabar. Tapi kemarin, saya duduk disamping beliau, mengajarkan mengeja dari sebuah buku cerita. Saat beliau terbujur kaku, koma, dengan kaki dingin membeku, Ko berdoa bahwa itu bukan tanda kematian.

Sekarang, seorang teman terbujur setelah masektomi. Kanker payudara yang menyerang teridentifikasi ganas setelah seorang dokter memvonis itu hanya lump. Saat Ko bertanya bagaimana perasaannya, dia menjawab: “Pasrah. Tuhan pemberi hidup”

Easy to say, but hard when it puts into practice. 

Ko masih meng-google tentang bagaimana cara pasrah. Sambil merasakan lump di dada kanan yang terasa makin membesar….

Belum ingin mati….

Related image
from Dying with dignity