Posted in Curhat Colongan

Galau

Boleh dong galau. Apalagi si bujangan. Galau tuh kayak makanan sehari-hari. Eh enggak juga sih. Menurut Ko, sebagian besar dari hari-hari si single tuh lebih santai. Ga harus pagi-pagi berisik urus pasangan dan atau anak. Santai. Bangun semepetnya dan bisa berangkat tetap tepat waktu. Pulang kerja pun lebih santai. Ga ada yang harus diurus.

Gitu juga saat bepergian. Ga ada berisik mempersiapkan keperluan pasangan dan atau anak. Cukup bawa 1 ransel, angkut dan jalan. Ga ada juga alasan: “hadoooh suamiku melarang jalan” atau “gimana anak-anak kalo aku pergi lama-lama” atau “aduh sebenarnya aku pengen ikut training tapi papinya anak-anak melarang. Katanya, anak-anak siapa yang urus”.

Palingan, kalo dengar alasan seperti itu Ko paling cuma mesem. Bukan salah eike ya kalo you ga bisa kemana-mana. Toh yang memilih menikah itu you. Ya siap-siap aja dengan segala resiko dan ikutan dibelakangnya.

Nah, hari ini gantian Ko yang galau dan nangis. Gara-garanya sih karena urusan pekerjaan yang merasa semakin tertinggal dan ga menarik sedang tuntutan terus mendera. Hadooooh… capek badan, capek pikiran dan capek jiwa. Baru deh kerasa: I need someone to hug me and let me cry on his chest. Uh la..la… kalo bisa sih yang dadanya keker dan gagah.

I do not need someone to judge me. I have people who to do that, willingly. I just need someone who be my shoulder to cry on and listen to my sadness without judge me. Huhuhuhu…. Nangis deh sepanjang jalan.

Sambil nulis ini, air mata masih turun dengan deras dan begitu juga ikutan lainnya yang turun dengan deras. (entah kenapa kalo mata nangis, idung juga ikutan nangis). Diantara deraian air mata dan ketikan, masih terpikir: Apa yang tuhan sedang lakukan sekarang? Apakah Tuhan saat ini sedang melihat kebawah, ke arah Ko dan bilang: I am watching you atau I see you and let me see what you are going to do with this situation? atau I hear you atau I will help you. Atau Let me show you the way how to handle and get out from this situation.

Ko ga tau. Karena Ko belum pernah berada disisi tuhan. Diantara tangisan, Ko cuma bilang: Help me. Tanpa tau apakah pertolongan akan datang atau apakah Ko mampu bertahan dalam hidup ini.

Well, kalau Ko mampu berpuluh tahun hidup sendirian, mungkin Ko akan mampu melewati rasa susah ini. Semangat!

Advertisements