Posted in Curhat Colongan, My thought

B-Day, Be your Day

Happy Birthday…. Today, years ago, my mom delivered me at 10 am, Thursday. Wooooh… lupa. Kebiasaan sok berbahasa lain, kita kembali ke bahasa awal. Ko ga tahu apakah kelahiran ini memang dinanti atau hanya sebuah kecelakaan, mengingat perbedaan antara kakak dan Ko hanya 20 bulan. Terlahir sebagai anak kedua dengan jarak yang berdekatan, kehidupan awal susah-susah gampang. Tarik menarik perhatian, lungsuran, kesibukan orang tua, kelahiran adik-adik yang berturut-turut mengasah dan membentuk watak Ko: keras kepala, keras hati, tomboy, sulit untuk dilarang dan makin melawan kalo dilarang adalah sebagian dari sifat buruk yang Ko miliki. Ditambah penampilan yang jauh dibawah standar dibandingkan dengan saudara yang lain, bikin Ko makin berbeda.

So, hari ini adalah hari ulang tahun. Setahun yang lalu, ulang tahun adalah hari biasa yang sedikit berbeda karena biasanya Ko menyediakan sedikit kue buat diri sendiri, telepon dan sms dari Ibu, dan laporan kalo sudah dibuatkan nasi kuning. Meski sejak selepas SMA, Ko hidup sendiri tapi nasi kuning selalu dibuatkan. Ulang tahun, hari besar keagamaan, hari besar nasional, bagi Ko hanyalah hari biasa dengans edikit kelebihan: tidur lebih. Tapi tidak hari ini.

Setahun yang lalu, Ko seperti biasa menikmati hari ulang tahun sendirian, menanti sms atau telepon dari Ibu tentang nasi kuning. Seingat Ko, tidak ada telepon atau sms. Beberapa hari kemudian dapat berita kalau Ibu sakit dan semua menurun menjadi berita buruk. Sebulan kemudian ibu pun pergi.

Dan tahun ini, saat Ko membuka mata di pagi hari, rasanya berbeda. Sedih. Sendirian. Hopeless. Useless. Saat sepupu mengucapkan selamat, mendadak Ko menangis. Selama ini, Ko yang merasa tegar ternyata rapuh juga. Having no families, close relatives and close friends is sucks. Tapi saat nasib memilih kita untuk sendiri, kenapa tidak?

Hari ini adalah ulang tahun yang benar-benar sendiri. Bukan merasa sendiri tapi mengharap ada telepon yang mengingatkan ada nasi kuning, tapi benar-benar sendiri tanpa siapapun yang akan mengingatkan bahwa ada yang mengingat Ko. Hari ini serasa titik balik dan akan terus menurun.

Perjalanan menuju kantor pagi ini, penuh dengan percakapan monolog. “Hey, I am single, I have no one to consider, nothing about to consider, I live by my own, so enjoy it. Don’t be sad, Be the day, Be your day. Be Brighter”.

Menikmati hari hingga akhir. Mungkin besok ga akan pernah Ko nikmati lagi….

“life is about the journey, and making friends along the way,” and that “the true meaning of life is finding your own way to enjoy it.” – Sussie, The World of Gumball

 

Advertisements
Posted in Curhat Colongan, My thought

Ada apa dengan saya?

Kaca dihadapan saya tetap membeku. Masih menunjukan wajah yang sama. Wajah yang setiap pagi muncul dan mencoba mengaplikasikan segala macam krim, pupur, warna dan berusaha membentuk semua yang dianggap salah menjadi sesuatu yang dianggao benar.

Alis saya tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis. Hitam. Melebar di bagian ujung dan memiliki kekhasan di bagian pangkal. Keturunan dari ayah. Alis sebelah kiri ujungnya mencuat. Alis sebelah kanan agak lebih baik. Saya tidak puas dengan alis sebelah kiri dan pernah berusaha membuangnya yang menyebabkan sekarang alis sebelah kiri menjadi sedikit lebih buntung. Tapi pola mencuatnya tidak menyerah. Tetap ada. Menyebabkan saya harus rajin merapikannya supaya tidak seperti alis Kaisar Ming. Musuhnya Flash Gordon. Meski hanya sebelah.

Matanya saya seperti ladam. Kacang Almond. Dengan lipatan mata – yang menurut saya – cantik. Bola mata saya coklat. Sesuatu yang tidak pernah saya perhatikan sampai seorang teman menatap lekat-lekat dan bilang: “you have beautiful brown eyes“. Bikin tersipu-sipu.

Hidung. Hidung saya pesek. Ga ada yang menarik dari hidung pesek ini. Ada bekas cacar di batang hidung pesek ini. Dengan hidung ala bemo di ujungnya. Si hidung ini bikin masalah: kaca mata selalu melorot karena ga ada penyangga selain kuping. Lubang hidungnya suka menghembus keras kalo kecapekan. Kayak lubang hitam yang menghisap planet sekitarnya, maka ini lubang hidung berusaha merampas oksigen dari lingkungan sekitar, bahkan oksigen yang berusaha masuk ke hidung orang lain.

Bibir dan mulut saya tidak cantik. Tidak ranum memerah. Tidak juga seperti sejuring jeruk yang menggairahkan. Tulang pipi saya tinggi. dan gembil menurut beberapa orang. Jidat saya lebar. Sesuatu yang dulu saya sembunyikan di balik lapisan poni tipis yang berusaha sekuat tenaga melaksanakan tugasnya dengan tidak sempurna.

Kulit muka saya coklat. Lebih tua dari warna kulit tangan apalagi kulit badan. Ada 3 warna di tubuh saya: Coklat tua (muka), coklat sedang (tangan) coklat muda (kaki dan badan). Kadang suka iseng memfoto perbedaan warna kulit ini. Rambut saya berusaha memastikan saya dapat menjawab: aku punya rambut juga koook… Tipis akibat rambut yang halus.

Seperti kata iklan susu: pertumbuhan kok ke samping. Itu yang terjadi pada saya. Mereka menolak tumbuh keatas dan memilih ke samping (atau ke depan atau ke belakang). Sesuatu yang dulu bikin saya minder dan berusaha menutupinya dengan jaket yang bikin saya makin membulat.

Dagu saya memiliki belahan yang hanya terperhatikan jika dilihat baik-baik. Akibat tertumpuk lemak. Kalau saya tertawa, lesung pipit samar akan muncul di pipi kiri. Hanya terperhatikan jika orang melihatnya baik-baik. Tahi lalat pemanis pipi mulai tersamarkan dengan jerawat dan noda matahari.

Ga ada yang menarik jika tidak diperhatikan.

Cermin didepan saya masih menunjukan roman dan perawakan yang sama. Hanya bertambah kerutan di garis tertawa dan ujung mata. Kerutan akan terus bertambah sejalan dengan pertambahan usia.

Ga ada yang menarik.

============================================================

“tapi, kenapa orang yang lebih ga sempurna bisa mendapatkan pasangan?”tuntut teman saya.

” iya ya. Padahal si itu tuh yang begitu tuh…” kami mulai membandingkan.

“Aku kalo jadi lelaki, malas lah… tapi kok bisa ya”

“Iya. Apa kita kurang baik? apa kita jahat sama orang? judes?”

“atau kita kurang berdoa pada tuhan?”

“kita kurang genit? kita kurang ramah?”

“kita ga cantik?”

Kami mulai mengurut semua alasan yang bisa dibuat untuk menjawab pertanyaan kenapa kami belum terpilih untuk menikah.

Kenapa tidak seorang pun yang mau meminang kami.

Rasanya sedih dan marah secara bersamaan. Sedih dan marah karena dunia memilih menyingkirkan kami dalam sejarah evolusi manusia. Mematikan gen yang akan diturunkan pada keturunan kami. Memusnahkan garis keturunan dari lineakage kami. Musnah.

Tuntutan dari dalam tidak hanya mendesak nurani. Tuntunan dari luar lebih menikam.

“kok ga nikah sih? kapan nyusul”

“nanti tuanya sendirian loh”

“cantik (tidak berlaku pada saya), pendidikan tinggi, kerjaan ada, tapi kok ga laku?”

“kamu ga ada pahala loh. Pahala yang besar itu adalah melayani suami”

“Menikah itu sebagian dari menegakan iman. Kamu kapan?

Agama pun mendadak jadi ancaman. Surga terasa jauh. Bidadara yang dijanjikan pun serasa terbang melayang.

=================================================

Kami terdiam. Ga bisa menentukan apa salah kami. Kekurangan mungkin banyak. Apakah sedemikian kurangnya sehingga tidak ada yang bersedia memilih?

Helaan napas dan tegukan kopi di sela-sela keheningan.

================================================

Kami berpisah. Kembali ke rumah masing-masing. Duduk sendirian. Dihadapan saya TV memutarkan program the Bachelorette (kenapa jugaaaaa masuk ke siaran kayak ginian). Jahitan kristik pembunuh waktu saya tergeletak di meja. Pikiran terbang. Sedih rasanya. Marah rasanya. Saat yang lain menghadiri wisuda anak, saya hanya berharap saya seharusnya disamping seorang anak yang mungkin saat ini sudah besar. Saat seseorang bilang: “pasanganku seusia kamu”, rasanya ingin teriak dan bilang: “i wish someone tell me that too!”. Saat melihat seorang anak dipeluk dan mencium ibunya, rasanya ingin merebut dan bilang: I long to kiss and hug my own baby. Saat seorang anak tersia-siakan, rasanya ingin saya ambil dan bilang you are not alone and you are loved.

=======================================================

Saya masih menatap wajah yang tidak menarik ini. Tidak menarik buat orang lain bahkan buat saya.

======================================================

Mungkin jodoh saya di surga? tapi kalau tidak masuk surga gimana?

Mungkin jodoh saya masih belum lahir? apakah ketika dia lahir, saya sudah menjadi mayat?

Apakah jodoh saya beda alam? saya alam nyata dan dia alam ghaib?

Entah.

 

 

 

Posted in My thought

Dandan dooong

“Kamu tuh coba dong jangan kayak preman. Dandan dikit”

Aih aih aih… setelah hampir 3 bulan ga ketemu, tante sebelah rumah langsung mengajukan protes.

Ish… ish… ish.. ish…

Sambil tersipu-sipu, ko mengelap wajah yang keringetan dan mengkilat karena minyak muka keluar semua akibat dihajar matahari Jakarta. “iya Tan. Kemarin dari lapangan 3 minggu. Nih muka masih belum bisa bersih lagi”.

“Pantes, kayaknya mukanya gosong”.

Booo… tiap Ko jalan ke kawasan dataran rendah, jangan harap kulit yang berwarna coklat ini akan memutih. Harapkan untuk lebih menggelap. Sudah terbiasa dengan kawasan dataran tinggi yang adem, wajah Ko akan menggelap (lebih dari sekedar memerah). Jadi kalau baru pulang dari lapangan ditambah dengan kepanasan di dataran rendah, jangan harap wajah yang ga cantik berubah menjadi bidadari.

Itu penjelasan Ko tentang harus dandan.

Eh tapi dah sering loh, orang mengingatkan untuk little bit girly and put make up. Well, yea, many times, I wear girly dress and put some make up. Tapi ga setiap saat. Pekerjaan Ko menuntut kostum yang lebih fleksibel dengan mementingkan anti UV yang tinggi. Jadi, kalo berharap always girly, ya susah.

Eh tapi, sambil mesem-mesem depan si tante, Ko sempat berfikir: why people expect us to be more girly and have make up on our face? Kenapa harus selalu bergaya cewe dan dandan supaya dapat menarik perhatian lawan jenis?

Well, I am straight. I am sure. Tapi saya ga terlalu suka dandan. Kalaupun dandan, memilih menggunakan yang simple dan cepat. Too much time wasting in front of the mirror. Saya suka berpakaian girly (not too girly). Rok, dan gaun. Tapi Ko lebih suka simpel dan memakai celana denim. Dan kalau itu dianggap penghalang mendapatkan pasangan, what can I say?

I am happy with myself, I love my own skin and sometimes I show it. Tapi berharap untuk menjadi gadis yang ideal sesuai bayangan orang pada umumnya, ya ga bisa. Yang terjadi malah gagap.

I dress myself for me. I put make up on my face, for me. I work out, for me. I eat, for me. For me. If I am happy, and if I am happy, i will be glowing. and my surrounding will be glow.

Cara berpakaian Ko adalah untuk Ko, dandan pun untuk diri sendiri. Olahraga juga buat kesehatan ko. Bukan untuk orang lain. Jika Ko bahagia dan senang, maka akan terpancar dan orang sekeliling pun akan melihat kebahagiaan itu.

Sialnya, kadang mereka masih melihat kesendirian Ko menjadi cacat yang enak buat diotak atik. Menutupi semua kelebihan yang mungkin dimiliki seorang single.

Menurut saya sih, ga usah memaksakan diri menjadi sesuatu yang lain supaya fit in. Be different (in good way). Be happy with yourself. Kalau kita bahagia, maka kebahagiaan akan terpancar.

Kadang dalam menentukan siapa kita, seringkali kita mencoba berbagai cara dan arah. Mungkin pernah salah dan tersesat. Tapi pada saatnya menemukan style sendiri, embrace it.

Posted in Curhat Colongan

Galau

Boleh dong galau. Apalagi si bujangan. Galau tuh kayak makanan sehari-hari. Eh enggak juga sih. Menurut Ko, sebagian besar dari hari-hari si single tuh lebih santai. Ga harus pagi-pagi berisik urus pasangan dan atau anak. Santai. Bangun semepetnya dan bisa berangkat tetap tepat waktu. Pulang kerja pun lebih santai. Ga ada yang harus diurus.

Gitu juga saat bepergian. Ga ada berisik mempersiapkan keperluan pasangan dan atau anak. Cukup bawa 1 ransel, angkut dan jalan. Ga ada juga alasan: “hadoooh suamiku melarang jalan” atau “gimana anak-anak kalo aku pergi lama-lama” atau “aduh sebenarnya aku pengen ikut training tapi papinya anak-anak melarang. Katanya, anak-anak siapa yang urus”.

Palingan, kalo dengar alasan seperti itu Ko paling cuma mesem. Bukan salah eike ya kalo you ga bisa kemana-mana. Toh yang memilih menikah itu you. Ya siap-siap aja dengan segala resiko dan ikutan dibelakangnya.

Nah, hari ini gantian Ko yang galau dan nangis. Gara-garanya sih karena urusan pekerjaan yang merasa semakin tertinggal dan ga menarik sedang tuntutan terus mendera. Hadooooh… capek badan, capek pikiran dan capek jiwa. Baru deh kerasa: I need someone to hug me and let me cry on his chest. Uh la..la… kalo bisa sih yang dadanya keker dan gagah.

I do not need someone to judge me. I have people who to do that, willingly. I just need someone who be my shoulder to cry on and listen to my sadness without judge me. Huhuhuhu…. Nangis deh sepanjang jalan.

Sambil nulis ini, air mata masih turun dengan deras dan begitu juga ikutan lainnya yang turun dengan deras. (entah kenapa kalo mata nangis, idung juga ikutan nangis). Diantara deraian air mata dan ketikan, masih terpikir: Apa yang tuhan sedang lakukan sekarang? Apakah Tuhan saat ini sedang melihat kebawah, ke arah Ko dan bilang: I am watching you atau I see you and let me see what you are going to do with this situation? atau I hear you atau I will help you. Atau Let me show you the way how to handle and get out from this situation.

Ko ga tau. Karena Ko belum pernah berada disisi tuhan. Diantara tangisan, Ko cuma bilang: Help me. Tanpa tau apakah pertolongan akan datang atau apakah Ko mampu bertahan dalam hidup ini.

Well, kalau Ko mampu berpuluh tahun hidup sendirian, mungkin Ko akan mampu melewati rasa susah ini. Semangat!

Posted in My thought

Keburu kiamat….

Ko dah bilang kan kalo yang paliiiiiing bikin rempong itu malah lingkungan sekitar? Bener-bener rempong dah. Mulai dari yang turut “berduka cita”, turut prihatin, ngajak jadi istri ke dua, ngajak jadi istri siri, nakut-nakutin kalo kiamat dah dekat, makin peyot dan bonyok, mateng di pohon, sampe ada yang ngejek parah.

Capek deeee……

Kayaknya gangguan dari sekitar ini berubah sejalan dengan usia. Kalo masih muda mungkin (lupa-lupa ingat). Masa muda lebih banyak godaan dari dalam diri. Saat yang lain asik-asik pacaran, eeeeh gw masih manyun kamana-mana sendirian. Waktu penelitian, yang punya pacar sih enak. Ada yang bantuin angkut tanah, nemenin ke lapangan, nemenin di lab. Bahkan salah satu alasan Ko ga mau ambil tugas akhir lapangan, karena repot cari teman yang mo bantuin!

Sejalan dengen pertambahan usia, masalah being single itu bertambah. Ga lagi cuma perasaan “sendirian” dan butuh kasih sayang, tapi juga tuntutan sekitar.

“Kuliah dah selesai. Kapan nikah?”

“Apa lagi yang dikejar? kerja udah, uang punya”

“Jangan milih-milih. Ntar kepilih yang busuk loh”

Nah itu pas masa muda dan masa berjaya. Gimana kalo udah lewat masa muda alias 30 tahunan ke atas?

Pertanyaan tersebut diatas ditambah prejudice. Dugaan-dugaan yang entah benar atau salah:

“Karir mulu yang dikejar, nikah ga mau dipikirin”

“Kamu sih sekolah tinggi-tinggi, cowo jadi takut milih kamu”

“Jabatan kamu tinggi sih. Mana ada cowo yang berani sama boss”

Lah kok jadi salah gw karena gw bisa terus melanjutkan pendidikan dan punya karir yang lumayan…. Bijimane ceritanye?

Nah kalo umur dah lebih dari 30, orang jarang ada yang nanya tuh. Biasanya bisik-bisik aja.
“Dia kan pertu”

“Dia ga ada yang mau melamar karena pendidikannya tinggi”

“Ada yang mau tapi begitu tau dia boss, pada mundur”

“Dia judes sih, cowo ngeri”

Bantu enggak, cariin enggak, ngomongin iya. Minjem uang juga iya.

Jadi single tuh cobaannya sama beratnya atau lebih berat dari emak-emak. Udah kena tuduh kiri kanan, jadi korban pamer kebahagiaan, dan ga ada yang mau nolong. Kalo dibalikin, jawabnya: “sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya, cari aja sendiri” atau “ntar kalo dicariin, kamu ga mau lagi”.

Hadeeeeh….

Lama-lama bukan mau kiamat tapi udah kiamat buat si single.

RIP dah….