Posted in My thought

Out of breathe

Semenjak gw merasakan dan mulai khawatir dengan adanya lump, gw makin concern dan cemas.

Setiap hari gw mulai merasakan nafas gw makin pendek dan tersenggal. Tidak nyaman. Entah karena lump itu atau sekedar kegendutan atau ada masalah lain.

Gw ga tau sampai bisa periksa ke dokter dan itu berarti 2 bulan lagi. Gw yang selalu cemas akan sakit sendirian, semakin cemas dan ketakutan.

Meski orang bilang berfikiran positif akan membantu dalam penyembuhan tapi kondisi gw yang dalam status quo menyulitkan buat berfikir positif.

Bahkan dalam pengambilan keputusan akan masa depan pun gw ga berani. Gw hanya berani berencana untuj hari ini, tidak untuk esok hari.

Gw takut.

Posted in Curhat Colongan, My thought

Lump (2) – The Anxiety

Minggu pagi.  Baru jam 4. Alarm di hp teriak-teriak membangunkan. Biasanya gw pasang alarm 3x selama Ramadhan kemarin: jam 3 untuk masak nasi dan menghangatkan makanan, jam 3.30 untuk siap-siap makan, dan jam 4 untuk membangunkan seandainya gagal bangun jam 3.30 pagi. Tapi Ramadan sudah lewat, alarm kembali di-setting 1x: 4.00 AM. Seminggu libur lebaran.

Tiga hari pertama diisi dengan menyelesaikan kristik yang ga beres-beres setelah berbulan-bulan. Dua hari terakhir dilakukan dengan memperak-porandakan rumah: tempat tidur tua seukuran king size dibongkar dan diganti dengan tempat tidur single yang dulu dibelikan adik untuk mama. Sampai menjelang akhir hayatnya mama ga pernah tidur di tempat tidur yang layak. Kami tidur di kasur yang digelar di depan tv.

Adik membelikan karena melihat hal itu dan mama tetap memilih mengelar kasur depan tv. Gw belom bisa menyiapkan kamar yang layak karena semenjak pindah, gw ga sempat atau ga mau bongkar barang cepat-cepat dan kami tetap dengan moto kami: tidur depan tv.

Sekarang ruang tamu sudah bersih dari kasur dan sedikit lebih layak. TV dipindahkan ke dalam. Seandainya mama masih ada, beliau pasti ikut pindah ke kamar. Seandainya…..

So pagi ini sambil menarik kembali selimut, gw merasakan hawa sejuk dingin yang bikin malas keluar dari kamar. Hawa sejuk yang hanya dirasakan di Jakarta pada pukul 3 dini hari, tapi disini, kesejukan bisa sampai siang dan bikin enak berlindung dalam selimut. Tapi gw harus bangun. Rindu dengan lontong padang yang dibuat ibu itu di depan RM Simpang Raya. Ibu Padang cuma buka maksimal sampai jam 9 atau bisa jadi lebih cepat tutup, tergantung dagangannya habis atau enggak. Gw ga mau ketinggalan. Ini hari terakhir libur, besok gw cuma bisa lewat dan ga bisa mampir.

Dengan berat hati gw keluar dari balik selimut, ganti baju dan cuuus berangkat. Kalo ada proses yang tertinggal, lupakan saja. Ini hari Minggu, gw ga harus mandi pagi. Menjelang belok ke Ibu Padang, dari jalur depan, satu mobil putih melaju melewati mobil dihadapannya, gw yang berenti memberikan jalur sebelum belok, terpana: kalau memang harus ditabrak, gw pasrah. Ga perduli siapa yang benar dan salah. Toh ga ada gunanya hidup.

Dalam perjalanan pulang gw nangis. Hidup sepertinya meluncur ke bawah. Hidup sendirian, ga punya pasangan apalagi anak, orang tua sudah ga ada, apalagi yang gw pertahankan? hidup gw cuma menunggu kematian. Gw ga tau apakah operasi besok akan membawa gw kekebaikan atau malah memulai fase baru: sebagai nama yang tinggal kenangan atau bertahun-tahun menderita sebagai pejuang kanker. Gw udah menyaksikan bagaimana kanker menyiksa dan merenggut nyawa secara perlahan

Dan gw akan menjalaninya sendirian

Beberapa waktu yang lalu teman gw bercerita bahwa dia bermimpi gw meninggal dan dia menangis terisak sampai dibangunkan. Gw sempat menyebut sekilas bahwa gw memang sakit. Tapi selayaknya orang Indonesia, yang ada gw di-sush untuk tidak berfikir yag tidak-tidak. Dan gw berhenti bicara. Gw ga bisa berbagi dan takut berbagi. Mereka hanya ingin mendengar bahwa semua baik-baik saja padahal gw menjerit sendirian. Gw cuma ingin mereka mendengar dan tidak perlu menilai atau bilang gw baik-baik saja. Karena keadaan gw ga baik. Gw cuma butuh teman bercerita.

Kemarin kembali dia bertanya kenapa gw selalu pasang status tentang kematian. Mengingat dia cuma bisa dan hanya ingin mendengar semua baik, gw jawab karena gw sedang belajar dan baru sampai pada ayat tentang kematian. WTF, kembali gw diceramahi tentang mengkaji ayat seorang diri. Lolos dari hardikan: “lo ngomong apa sih” masuk ke teguran: “lo ngaji dengan setan”.

1338379b01647eb935f0d449108b3c12
Source: pinterest

So I shut up. Close the connection for today. Sejauh ini, teman-teman yang fisiknya berdekatan tidak bisa menjadi kawan. CP sesekali bertanya dan mengingatkan untuk ke dokter, menanyakan kabar dan gw bisa nangis meski cuma lewat kiriman text. Dia ga pernah menilai gw salah, dia akan mengingatkan kalau dianggapnya gw salah pilihan, meski keputusan tetap di masing-masing.

Kami punya sifat yang sama: berkorban apapun buat orang lain tapi ketika diri sendiri sakit, mulai sulit menentukan keputusan. Dia yang menguatkan saat ini dan gw yang berusaha membuka pikirannya waktu CP mengeluh giginya bermasalah dan harus operasi. Seperti gw, dia juga tahu bahwa harus mengambil tindakan medis dan seperti gw juga, dia mengulur untuk cari pembenaran.

Kembali ke kamar, gw menangis. Gw percaya tuhan ada. Gw percaya tuhan akan memanggil gw. Gw percaya tuhan punya caranya. Tapi gw ga percaya apakah gw sanggup melewatinya, Gw ga percaya apakah gw bisa menerimanya. Hidup gw jatuh, karir gw ga ada, sekolah gw gagal, dan gw sakit. Apalagi…

Jangan bilang gw ga bersyukur, karena gw bersyukur tapi gw ga tau apakah gw sanggup menjalani cobaan atau anugrah berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu gw memberikan komentar tentang seorang pria yang meninggalkan surat untuk anak-anaknya dan melakukan bunuh diri. Gw bilang; It is easy to judge people as not a believer or easily give up but actually it is hard for him so he decides to do suicide. So please don’t judge them, they need our help. Banyak yang likes komentar gw dan kayaknya ada juga yang membantah. I don’t care, I just give my sincere opinion. Karena gw tahu, gw seperti bapak itu dan gw ga tahu apakah gw sanggup melewati besok.

137743138705fdabb5fd96186b93c5c6
Source: pinterest

Lump di payudara kanan gw terasa membesar dan mendekati jadwal menstruasi gw, saat payudara mengeras, lump akan makin terasa.

Gw nangis lagi saat menulis ini, tapi gw yakin sebentar lagi gw akan berusaha menikmati setiap detik kehidupan dan berharap tuhan bersabar dan sayang gw. Mengampuni semua kenakalan gw yang mungkin sampe detik ini gw masih kelepasan. Gw ga berharap menikah, gw ga berharap memiliki anak, but being single sometimes suck.

Semoga tuhan mengampuni gw…

Posted in My thought

Penyintas

Pagi ini Ko melihat seorang selebriti yang diwawancarai karena beliau adalah penderita kanker dan sedang berjuang untuk sembuh. Ko memang melihatnya selintas, tidak duduk dengan tekun dan mengamati. Sambil berusaha memasukan kaki ke kaos kaki, Ko melihat wanita ini menceritakan perjuangannya sambil sesekali menghapus air mata. Entah memang ada air yang keluar dari matanya atau hanya gerakan simpati, entahlah. Tak baik menduga.

Gerakan menghapus air matanya tidak menyebabkan bulu mata tambahannya copot. Eyeshadow dan segala taburan warna di mukanya tidak hilang. Alisnya tetap tebal. Mungkin hasil tato, mungkin. Rambutnya yang dulu dibotakin sudah mulai tumbuh, hitam mengkilap.

Ko belum pernah di kemo dan berharap ga pernah tapi Ko pernah menemani penderita kanker yang dikemo. Jangankan untuk berdandan, untuk senyum pun sulit. Inginnya punggungnya dielus-elus. Satu baskom selalu ada di dekatnya. Muntah. Setiap buku jari dan lipatan kulit menghitam. Rambut rontok, alis hilang, bulu kakinya yang lebat yang suka Ko ketawain, habis. Matanya sayu. Sehabis kemo, kami selalu siaga 1, seandainya tiba-tiba dehidrasi akibat muntah dan diare.

Bald is beautiful but cancer is not – Talia Castelliano

Mungkin tidak semua penderita kanker yang mendapat pengobatan kemo tidak mengalami seperti yang dialami oleh adik Ko. Mungkin. Karena selebriti ini masih mampu untuk kepo berbagai macam medsos dan muncul dimana-mana dengan alis yang tebal (mungkin ditato) dan bulu mata tebal yang lentik (mungkin disambung) dan berbagai macam warna di mukanya.

Make up is my wig – Talia Castellano

Memang tidak semua penderita kanker harus muncul dengan kesedihan. Kenapa tidak dengan kecantikan dan kemudaan. tapi melihatnya, hati Ko serasa tertusuk, sepertinya berlawanan dengan kejadian didepan mata dulu. Jangankan bercerita untuk melawan penyakit, berjuang dari hari ke hari pun sulit. Sulit menyisakan cerita buat berbagi. Kami yang tertinggal yang bisa bercerita dan menyemangati penderita lainnya.

rs_600x600-130716115720-600-2talia-ls-71613_copy

Salah satu penyintas kanker yang terkenal adalah Talia Castellano. Beliau menderita kanker sejak berusia 7 tahun dan menikmati hidupnya hingga ajal menjemputnya. Melihat Talia, melihat ups and downs-nya, serasa manusiawi. Semoga muncul penyintas-penyintas kanker lainnya yang memberi semangat dan menjadi teladan

talia_joy_castellano_in_hospital-sleeping