Posted in Curhat Colongan, My thought

Lump (2) – The Anxiety

Minggu pagi.  Baru jam 4. Alarm di hp teriak-teriak membangunkan. Biasanya gw pasang alarm 3x selama Ramadhan kemarin: jam 3 untuk masak nasi dan menghangatkan makanan, jam 3.30 untuk siap-siap makan, dan jam 4 untuk membangunkan seandainya gagal bangun jam 3.30 pagi. Tapi Ramadan sudah lewat, alarm kembali di-setting 1x: 4.00 AM. Seminggu libur lebaran.

Tiga hari pertama diisi dengan menyelesaikan kristik yang ga beres-beres setelah berbulan-bulan. Dua hari terakhir dilakukan dengan memperak-porandakan rumah: tempat tidur tua seukuran king size dibongkar dan diganti dengan tempat tidur single yang dulu dibelikan adik untuk mama. Sampai menjelang akhir hayatnya mama ga pernah tidur di tempat tidur yang layak. Kami tidur di kasur yang digelar di depan tv.

Adik membelikan karena melihat hal itu dan mama tetap memilih mengelar kasur depan tv. Gw belom bisa menyiapkan kamar yang layak karena semenjak pindah, gw ga sempat atau ga mau bongkar barang cepat-cepat dan kami tetap dengan moto kami: tidur depan tv.

Sekarang ruang tamu sudah bersih dari kasur dan sedikit lebih layak. TV dipindahkan ke dalam. Seandainya mama masih ada, beliau pasti ikut pindah ke kamar. Seandainya…..

So pagi ini sambil menarik kembali selimut, gw merasakan hawa sejuk dingin yang bikin malas keluar dari kamar. Hawa sejuk yang hanya dirasakan di Jakarta pada pukul 3 dini hari, tapi disini, kesejukan bisa sampai siang dan bikin enak berlindung dalam selimut. Tapi gw harus bangun. Rindu dengan lontong padang yang dibuat ibu itu di depan RM Simpang Raya. Ibu Padang cuma buka maksimal sampai jam 9 atau bisa jadi lebih cepat tutup, tergantung dagangannya habis atau enggak. Gw ga mau ketinggalan. Ini hari terakhir libur, besok gw cuma bisa lewat dan ga bisa mampir.

Dengan berat hati gw keluar dari balik selimut, ganti baju dan cuuus berangkat. Kalo ada proses yang tertinggal, lupakan saja. Ini hari Minggu, gw ga harus mandi pagi. Menjelang belok ke Ibu Padang, dari jalur depan, satu mobil putih melaju melewati mobil dihadapannya, gw yang berenti memberikan jalur sebelum belok, terpana: kalau memang harus ditabrak, gw pasrah. Ga perduli siapa yang benar dan salah. Toh ga ada gunanya hidup.

Dalam perjalanan pulang gw nangis. Hidup sepertinya meluncur ke bawah. Hidup sendirian, ga punya pasangan apalagi anak, orang tua sudah ga ada, apalagi yang gw pertahankan? hidup gw cuma menunggu kematian. Gw ga tau apakah operasi besok akan membawa gw kekebaikan atau malah memulai fase baru: sebagai nama yang tinggal kenangan atau bertahun-tahun menderita sebagai pejuang kanker. Gw udah menyaksikan bagaimana kanker menyiksa dan merenggut nyawa secara perlahan

Dan gw akan menjalaninya sendirian

Beberapa waktu yang lalu teman gw bercerita bahwa dia bermimpi gw meninggal dan dia menangis terisak sampai dibangunkan. Gw sempat menyebut sekilas bahwa gw memang sakit. Tapi selayaknya orang Indonesia, yang ada gw di-sush untuk tidak berfikir yag tidak-tidak. Dan gw berhenti bicara. Gw ga bisa berbagi dan takut berbagi. Mereka hanya ingin mendengar bahwa semua baik-baik saja padahal gw menjerit sendirian. Gw cuma ingin mereka mendengar dan tidak perlu menilai atau bilang gw baik-baik saja. Karena keadaan gw ga baik. Gw cuma butuh teman bercerita.

Kemarin kembali dia bertanya kenapa gw selalu pasang status tentang kematian. Mengingat dia cuma bisa dan hanya ingin mendengar semua baik, gw jawab karena gw sedang belajar dan baru sampai pada ayat tentang kematian. WTF, kembali gw diceramahi tentang mengkaji ayat seorang diri. Lolos dari hardikan: “lo ngomong apa sih” masuk ke teguran: “lo ngaji dengan setan”.

1338379b01647eb935f0d449108b3c12
Source: pinterest

So I shut up. Close the connection for today. Sejauh ini, teman-teman yang fisiknya berdekatan tidak bisa menjadi kawan. CP sesekali bertanya dan mengingatkan untuk ke dokter, menanyakan kabar dan gw bisa nangis meski cuma lewat kiriman text. Dia ga pernah menilai gw salah, dia akan mengingatkan kalau dianggapnya gw salah pilihan, meski keputusan tetap di masing-masing.

Kami punya sifat yang sama: berkorban apapun buat orang lain tapi ketika diri sendiri sakit, mulai sulit menentukan keputusan. Dia yang menguatkan saat ini dan gw yang berusaha membuka pikirannya waktu CP mengeluh giginya bermasalah dan harus operasi. Seperti gw, dia juga tahu bahwa harus mengambil tindakan medis dan seperti gw juga, dia mengulur untuk cari pembenaran.

Kembali ke kamar, gw menangis. Gw percaya tuhan ada. Gw percaya tuhan akan memanggil gw. Gw percaya tuhan punya caranya. Tapi gw ga percaya apakah gw sanggup melewatinya, Gw ga percaya apakah gw bisa menerimanya. Hidup gw jatuh, karir gw ga ada, sekolah gw gagal, dan gw sakit. Apalagi…

Jangan bilang gw ga bersyukur, karena gw bersyukur tapi gw ga tau apakah gw sanggup menjalani cobaan atau anugrah berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu gw memberikan komentar tentang seorang pria yang meninggalkan surat untuk anak-anaknya dan melakukan bunuh diri. Gw bilang; It is easy to judge people as not a believer or easily give up but actually it is hard for him so he decides to do suicide. So please don’t judge them, they need our help. Banyak yang likes komentar gw dan kayaknya ada juga yang membantah. I don’t care, I just give my sincere opinion. Karena gw tahu, gw seperti bapak itu dan gw ga tahu apakah gw sanggup melewati besok.

137743138705fdabb5fd96186b93c5c6
Source: pinterest

Lump di payudara kanan gw terasa membesar dan mendekati jadwal menstruasi gw, saat payudara mengeras, lump akan makin terasa.

Gw nangis lagi saat menulis ini, tapi gw yakin sebentar lagi gw akan berusaha menikmati setiap detik kehidupan dan berharap tuhan bersabar dan sayang gw. Mengampuni semua kenakalan gw yang mungkin sampe detik ini gw masih kelepasan. Gw ga berharap menikah, gw ga berharap memiliki anak, but being single sometimes suck.

Semoga tuhan mengampuni gw…

Posted in Curhat Colongan, Pengalaman

Lump (1)

Gw pagi ini malas pergi ke kantor. Gara-garanya sih bakal ada upacara dan sebagai pengecut pemberani, gw memutuskan ga berangkat. Tapi buat ga berangkat harus ada alasan dan memang beberapa hari ini gw merasa sakit.

Diare mulai tadi malam

Perut mulai perih.

Mungkin karena puasa dan gw jarang iftar dengan makanan full, cukup teh dan sepotong cemilan. Beres.

Tapi sakitnya kok makin menjadi. Ga cuma sekedar perih yang biasa. Harus ke dokter nih. Tapi kalau cuma ke dokter buat periksa perut ga usum deh. Ga asik. Mari kita koleksi penyakit lainnya: Nyeri di ulu hati, diare, panas dingin dan oh ya, lump di dada kanan.

Sebenarnya dah setahun sih, dulu kecil sekarang membesar. Dulu sih berharap bisa operasi tahun ini, namun salah satu saudara bilang: aaah palingan cuma benjolan biasa. Well, sepertinya ini luar biasa.

Dokter yang memeriksa menatap dengan takjub sedang gw malu-malu. “periksa ya.., dirujuk ke rumah sakit”. Aiyoooh serius ni. Memang harus dilakukan biopsi mau ga mau. Meski ga dirasa mengganggu tapi kemunculan bola asing ini memang harus segera ditndaklanjuti.

Bargain lah gw. Secara tahun lalu, gue dah siap-siap berangkat terpaksa batal karena operasi usus buntu. Masak tahun ini harus masuk meja operasi dan batal lagi. hadeeeh….

Posted in GAD

GAD – General Anxiety Disorder – Gangguan Kecemasan Berlebih

Dalam tulisan yang lalu, Ko cerita tentang phobia email. Kecemasan yang berlebihan ketika menerima email, telepon, sms. Bikin gangguan dalam pekerjaan dan (mungkin) bisnis. Mungkin sudah banyak yang cerita tentang GAD ini, tapi Ko berniat buat cerita sebagai salah satu penderita yang menderita.

Teridentifikasi sebagai GAD saat kuliah dulu. Dan impactnya buruk. Sangat buruk. Pada pagi yang cerah, Ko mendapat tugas untuk presentasi. Dan mendadak kecemasan mencekam. Ko keluar kelas, duduk di taman dan menangis! Hanya untuk tugas presentasi. Saat Ko menceritakan ke seorang teman, dia malah bilang:“It’s just a presentation!”

I know! It is just a presentation. Giving talk and waiting for questions, answer it. Done!

Tapi……  Entah kenapa hal itu jadi kepanikan. Padahal biasa loh kasih presentasi.

Awalnya dari situ dan dilanjutkan dengan panic attack yang terus-terusan datang menyebabkan tangis histeris. Hampir setiap hari. Bahkan ada dalam 1 waktu, 3 bulan Ko hanya keluar untuk beli makanan dan mengurung diri di kamar. Dulu Ko ga tau, sampai seorang teman menyeret Ko ke counselor dan mereka memberi obat penenang yang ga Ko sukai. Cuma beberapa bulan, setelah Ko mulai menguasai metode penguasaan diri (hehehe), obat pun ga lagi dikonsumsi. It was suck.

GAD atau General Anxiety Disorder adalah gangguan kecemasan yang berlebihan dan biasanya berlangsung lama. Cemas memang normal namun pada penderita GAD, kecemasan ini sudah demikian mengganggu dan merusak kehidupan normal. Yang dicemaskan itu ga cuma 1-2 hal tapi dalam banyak hal.

Mayo Clinic dan Help Guide menjelaskan kalo orang dengan GAD itu:

  • Selalu sangat khawatir atau sangat terobsesi dengan masalah-masalah, baik yang besar ataupun kecil.
  • Ga mampu untuk tidak khawatir, selaluuuu khawatir dan cemas
  • Ga mampu santai, selalu cemas dan merasa selalu di ujung tanduk.
  • Sulit untuk berkonsentrasi akibat kecemasannya dan merasa pikiran kita sering “kosong”, blank
  • Cemas dan khawatir saat harus memberikan keputusan, takut salah dalam mengambil keputusan
  • Selalu mempertimbangkan segalanya termasuk yang bersifat negatif
  • Sulit menghadapi ketidakpastian dan ketidakjelasan
  • Kekhawatiran yang terus menerus ada di kepala
  • Merasa bahwa kecemasan itu ga bisa dikendalikan
  • Adaaaa aja pikiran yang bikin kahawatir meski kita sudah berusaha menyingkirkan rasa kekhawatiran itu
  • Iu yang bikin kita selalu menghindari hal-hal yang dirasa bikin khawatir

Sebenarnya normal sih tapi menjadi tidak normal karena kecemasan terus-menerus hingga menyebabkan gangguan pada kehidupan sehari-hari. Seperti pada kasus Ko, yang mendadak suka menangis termehek-mehek kayak diputusin pacar (Padahal pas diputusin pacar beneran, Ko santai aja. Nangis bentar dan langsung patahin tangan hehehe).

GAD ini bikin:

  • perasaan capek dan tegang. Otot rasanya sakit
  • Sulit tidur karena selalu terbayang dengan pikiran, otak rasanya ga mau berhenti diam
  • Merasa ga santai
  • Perut sakit, mual, diare
  • Mudah kesal
  • Gemetar, lemes
  • Berkeringat berlebih
  • Sakit kepala
Insomnia
Lack of sleep

GAD ini bisa menyerang siapa aja: anak-anak, remaja, dewasa, orang tua. Bisa jadi menyerang si perfeksionis sehingga menyebabkan mereka terus menerus berusaha karena khawatir tidak sempurna. (Well, Ko bukan orang perfeksionis tapi Ko sangat takut akan penilaian orang yang beranggapan Ko tidak mampu).Orang GAD juga bisa menjadi rendah diri karena kecemasan terhadap hal-hal yang seharusnya ga perlu dicemaskan, selalu butuh persetujuan dan selalu butuh penilaian bagus atas semua pencapaian (well, itu yang Ko rasa. Satu hal yang dirasa mengecewakan orang lain, bisa bikin ga tidur dan merasa bersalah lamaaaa sekali).

Tapi ya, yang Ko rasa ga semua point diatas Ko rasakan. Ko malah banyak molor. Karena dengan molor, Ko bisa melupakan masalah. Tidur adalah mati yang dirindukan karena tahu, besok bisa bangun

Apakah GAD ini sama dengan Panic Attack Disorder dan Social Anxiety Disorder? Menurut NIMH sih beti, beda tipis. Semuanya sangat mengganggu.

Gimana cara pengobatannya?

Psikoterapi. Ngobrol dengan orang yang tepat, psikolog, konselor. Mereka tau cara menanganinya. Kadang ngobrol dengan orang yang tidak paham malah akan meilai kita gila, berlebihan, lebay, baper dan malah bikin tambah khawatir.

Support group. Bisa sih ngobrol ma temen. Tapi yang beneran paham dan mengerti. Ko punya “saluran” untuk meluapkan kekhawatiran. Mereka di luar negeri dan kami biasa bercakap via chat. Mereka ga akan bilang: “Ah itu mah kamu aja kali yang ketakutan”. Mereka bilang: “are you sure? let see other option” or “let see the cause of your worry” dan kami pun mulai menimbang. Aman dan tenang. Ga bikin makin suntuk dan khawatir.

Managemen stress. Banyaaaak: meditasi, shalat, zikir, yoga, olahraga, menjahit. Banyak. Pertanyaannya: mau ga? Juga selama melakukan hal itu, ga  berarti langsung hilang. Perlakuan teknik napas dalam: Ambil napas, keluarkan, ambil napas dalam, keluarkan, ambil napas, tahan di perut, keluarkan pelan-pelan. Konsentrasi pada hal itu.

Pengobatan. Kalau dirasa perlu, dokter akan memberikan obat yang bersifat menenangkan. Meski obat ini ga akan menghilangkan penyebab kecemasan, tapi setidaknya menghilangkan dampak dari kecemasan. Obat yang diberikan bisa dari golongan antidepresan, beta-blocker, obat anti kecemasan.

Orang dengan GAD harus menyingkirkan semua unsur yang bikin tambah otak cemas: kurangi kopi (hadeeeeh), jangan minum-minuman keras, kurangi nikotin, makan yang benar dan sehat, istirahat yang cukup.

Pergilah ke dokter (psikolog), jika kamu sudah merasa kekhawatiran kamu sangat berlebihan sehingga menyebabkan kamu terganggu bahkan merasa ingin bunuh diri.

Jangan takut dianggap gila, karena sebenarnya GAD tidak gila, melainkan orang-orang yang mengharapkan dan berusaha akan sebuah kesempurnaan.

Bayangan selalu lebih gelap dari kenyataan

 

Posted in GAD, My thought

Email Phobia

Well, Ko menderita anxiety disorder. Anxiety Disorder adalah gangguan akan ketakutan (fear) dan kecemasan (anxiety). Ketakutan yang amat sangat terhadap masa depan atau sesuatu yang belum pasti.

Yah, sebenarnya sih normal-normal aja takut akan masa depan. Siapa sih yang ga cemas akan masa depan yang ga pasti? Jangankan sebulan atau sehari, 1 jam dari saat ini pun belum pasti. Tapi buat penderita GAD, kecemasan dan ketakutan itu menimbulkan dampak yang sangaaaaaaaat besar. Mulai dari detak jantung yang mendadak cepat, gemetar, histeris, sakit kepala, sakit perut yang dikira maag, lemas, banyaaaak dan tiap orang memiiki dampak beda-beda.

Nah, salah satu yang dirasa makin mengganggu adalah anxiety terhadap surat, email, sms dan telepon! Semakin hari semakin sulit untuk membuka email dan membaca surat yang masuk. Semakin hari semakin cemas membuka sms dan menjawab telepon terutama dari nomor atau orang yang ga dikenal. Padahal setelah dibaca (atau diterima), isinya biasa-biasa aja. Ga perlu ditakutkan.

Namun setiap kali akan membuka email, atau membaca sms atau menjawab telepon, tiba-tiba detak jantung terasa lebih cepat, kaki dan tangan mendadak terasa dingin dan perasaan ga karuan. Bener-bener totally crazy. Butuh beberapa saat buat menenangkan diri dan menjawab telepon atau membuka email dan sms. Termasuk surat!

Ada surat yang Ko ga pernah buka selama bertahun-tahun! Cemas dan takut akan isinya (yang mungkin aja cuma bilang: hi, kamu kuliah besok). Butuh beberapa hari untuk membuka email dan mendapati kesempatan emas lepas begitu saja karena tidak segera direspon.

Ternyata phobia terhadap email ini tidak saja dialami oleh Ko. Beberapa orang mengalami hal yang sama: ketakutan membuka email. Dan memang sangat sangat sangat mengganggu pekerjaan dan kegiatan.

Orang-orang di sekitar Ko seringkali tidak mengerti dan beberapa orang menganggap Ko sakit jiwa. Tidak banyak yang tahu karena Ko memilih untuk men-share derita ini hanya pada beberapa orang. Seorang teman malah menganggap Ko sebagai seorang bipolar yang jelas jauh berbeda. Mereka hanya berkata: “halah cuma segitu aja masak lo takut” atau “lo aneh” atau “lo stress”. Ketakutan Ko amat sangat, melebihi ketakutan akan melihat ular yang Ko tau dia akan segera lewat dan menghilang dari pandangan.

Sejauh ini, Ko sendirian. Tidak berani untuk mengadu atau mengeluh. Tidak berani meminta pertolongan karena buat mereka, ini cuma ketakutan yang dianggap berlebihan. Ko berharap mereka mau memahami Ko tapi kalaupun mereka tidak memahami, ko mengerti.

Harapan Ko terwakili dengan video dari The Mighty: 14 THINGS THAT PEOPLE WITH ANXIETY WANT THEIR FRIENDS TO KNOW dan What People With Anxiety Want Their Significant Others to Know