Posted in Kuliner, Pengalaman

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Ini Idul Fitri ketiga gw tanpa orang tua, sebagai yatim piatu. Rasanya berbeda ketika orang tua masih ada tapi gw ga bisa pulang dengan orang tua sudah wafat. Rasanya kosong.

Note: gw sedang bulanan dan mood cengeng lebih mendominasi.

Shalat Idul Fitri kali ini (dan sepertinya akan jadi langganan, kalau masih ada jatah umur) bertempat di halaman restoran Rindu Alam Taman. Lapangan parkirnya luas dan tepat di tepi jalan. Jadi ga susah cari parkir. Menurut gw, prosesi ibadahnya (shalat, berdoa dan ceramahnya) bisa khusyu meski di tepi jalan propinsi yang menghubungkan dua kota. Tikar dan karpet sajadah disediakan sehingga tidak perlu khawatir tentang ga dapat tempat, meski gw sedia kertas koran, jaga-jaga kalau ga dapat tempat (berangkat jam 5.45, tempat masih kosong. Shalat Id start jam 6.30)

Salah satu kejutan yang menarik saat pertama kali gw shalat Id disini adalah sajian lontong Padang setelah shalat. Pemiliknya menyediakan sajian dan pegawainya melayani jamaah peserta shalat Id. Tadi sepertinya ada 100 orang lebih dan makanan tersedia melimpah. Minuman kopi, teh dan air putih tersedia.

Buat gw, ini adalah blessing. Gw ga pernah bikin ketupat karena ga akan ada yang makan dan kalaupun ada yang makan cuma gw sendirian. Ngabisin 4 buah ketupat aja bisa berhari-hari bahkan pernah terbuang. Lebaran tanpa ketupat tuh ibarat sayur asam tanpa asam, ada yang kurang. So saat tahu ada sajian lontong padang, feel soooooooo happy.

It is not about the food, it is about the kindness and humanity. Saat gw sendirian, ga ada siapa-siapa, sajian ala rumahan bikin gw termehek-mehek. Mengingatkan kembali atas ibu dan bapak, mengingatkan kembali atas kenangan lebaran dengan keluarga lengkap.

Semoga kesediaan mereka untuk menyediakan tempat dan makanan menjadi ibadah dan pahala yang melimpah.

So buat pemudik yang kebablasan dan masih di jalan saat hari raya tiba, bisa minggir dan mampir di resto ini dan sama2 shalat serta menikmati hidangan ala rumahan di sini.

Info

Restoran Rindu Alam Ciherang: Jalan Raya Ciherang, Cianjur Regency, West Java 43253.

Image result for rindu alam taman ciherang
Sumber: google
Advertisements
Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalan sejauh ini: Tumor – Paska operasi

Empat hari menunggu itu serasa berbulan-bulan. Rasanya lama banget. Gw bahkan lupa hari dan tanggal. Banyak dilewatkan dengan menjahit kristik dan tidur. Gw berusaha belajar memasang bebat sendiri. Bebat itu membantu supaya dada gw ga banyak bergerak dan jadi nyeri. Setelah bebat merosot terus, gw kira gw harus punya beha yang nyaman dan tidak ketat. So gw beli online bra sport yang diagung-agungkan sebagai magic bra. Lumayan.

Mandi gw dengan cara di lap. Gw bisa mandi sendiri karena terlatih mengurus diri pasca operasi. Ini bukan operasi pertama gw: tangan kiri, perut kanan bawah karena usus buntu dan sekarang ini. Gw ga berani melihat jahitan yang diperban.

Senin (28) tiba. Gw mendaftar online, jadi sampai sana gw langsung ke meja pendaftaran online. Gw diminta ke loket 13 untuk BPJS kemudian balik ke meja pendaftaran online menyerahkan rujukan dan surat konsul kemudian diberi nomor. Setelah itu diberi pengantar ke poli bedah dan menunggu sampai jam 11. Menunggu di Musholla yang berdekatan dengan kandang rusa sampai jam 10.30. Kembali ke poli bedah. Menunggu

Dokter datang jam 11 lewat. Menunggu lagi sampai gw dipanggil. Gw dah bisa ketawa lega. Dokter bilang dah ga nangis lagi ya dah bisa ketawa. Perban dibuka oleh dokter koas wanita dan buset…. nyeriiiiii….. “dah mau kering kok” kata dokter koas.

“Bagus kok” Dokter bilang. Ternyata gw ga dijahit tapi dilem, jadi gw ga ngerasain ngilu saat benang dicabut, cuma nyeri saat plester perban dibuka. Gw diminta kembali lagi nanti saat hasil PA. Gw ga bisa diskusi lama karena dokter koas ngegiring gw keluar. Gw masih mau tanya tentang bagaimana perawatan paska operasi, bagaimana penanggulangan tumor di payudara kiri gw, apakah ada yang harus dilakukan?

Oh well, next time mungkin.

Dada gw masih terasa nyeri kadang-kadang, apalagi kalau terguncang. Selain itu gw merasakan bahwa ada massa yang keras dibawah bekas operasi. Gw ga berani megang, gw cuma membersihkan saat mandi dengan tidak menekan keras-keras kemudian mengusapkan antibiotik di luka operasi, mengingatkan kembali adanya kemungkinan tumor baru. Dokter bilang sih semua tumor sudah diangkat tapi gw tetep cemas.

Gw balik ke rumah Senin malam. Dijemput abah. Kakak gw bilang: “operasi lagi bah” Abah cuma ketawa aja. Gw memang ga memberi tahu banyak orang. Gw ga sanggup kalau ditanya-tanya. Sedih rasanya. Apalagi dengan ketidakpastian gini. Gw cuti kerja sampai lebaran. Pengen sendiri dan belajar menerima bahwa mungkin satu saat gw akan mengalami masa-masa sulit.

Let me enjoy my last times.

Gw masih menunggu telepon dari RS untuk megetahui hasil PA. Semoga setelah lebaran….

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalanan sejauh ini: Tumor – Operasi

Gw benci menunggu tapi gw juga ga suka telat. Kombinasi yang membingungkan tapi begitulah.

So menunggu 7 hari untuk operasi itu sangat menyiksa. Belum lagi bayangan potensi kanker, bikin hidup gw berantakan. Karena gw sementara tinggal dengan sepupu, otak gw harus selalu benar dan normal. Menjaga otak dan emosi supaya normal itu susah tapi mo gimana lagi. Gw kurang suka menunjukan emosi, gw ga suka dikasihani.

So gw memutuskan pulang dulu dan menenangkan diri. Ga tenang juga sih. Gw cenderung nangis bermalam-malam. Namun “kerjaan” gw dalam menjaga emosi dan otak lebih ringan. Gw nangis dan mengeluh sendirian sepuasnya. Menjelang operasi gw terpuruk flu. Dah deg-degan karena cemas operasi dibatalkan karena flu berarti demam dan rentan. Ditambah mens gw tepat waktu. Berharap mens terlambat malah dia datang tepat waktu: dua hari menjelang operasi.

Mens tidak mengganggu operasi meski dikabarkan mens akan menyebabkan perempuan lebih rentan terhadap rasa sakit. Tapi flu yang bikin gw takut. So, gw langsung hajar dengan obat-obatan dan membatalkan puasa di hari kedua. Pertimbangan gw, ini darurat dan gw harus sehat dan semoga Allah mengampuni gw.

Hari Minggu, gw berangkat ke Jakarta. Hujan deras gila-gilaan. Pandangan terbatas dan macet ampun-ampunan. Sampai Jakarta jam 8 dan langsung istirahat. Gw masih punya waktu sehari buat menikmati ketakutan dan kemulusan kulit gw. Hari Minggu dilewati dengan kecemasan: belum ada telepon dari rumah sakit, cemas akan tekanan darah, cemas akan kemungkinan kanker. Tapi seperti biasa, gw berusaha menjaga otak dan emosi berjalan normal. Meski mungkin kakak sepupu bisa mengidentifikasi kecemasan gw.

Senin sore tanggal 21, sekitar jam 4, rumah sakit telepon dan meminta gw masuk kamar malam itu. Gw bilang akan datang setelah maghrib. Harus buka puasa dulu. Sekitar jam 7 sampai di RS, mendaftar langsung ke unit perawatan, mengisi beberapa formulir dan gw diminta istirahat. Puasa mulai jam 12 nanti malam dan nanti akan dipasang infus malam nanti. Ok. Gw masuk kamar, istirahat dan mulai tertidur ketika seorang perawat pria masuk dan bilang: pasang infus dulu ya….

Oke, pasang infus sebelah kanan, sakit dikit tapi karena gw penakut maka banyak drama. Sehabis pasang infus, perawat bilang besok operasi sekitar jam 8-10 pagi. Oke…. siap. Balik tidur. Pagi-pagi bangun dan berusaha mandi tapi ga bisa dengan segala infus dll. Akhirnya cukup sikat gigi. Ganti baju operasi dengan susah payah karena gw sendirian, dan membiarkan underwear ga ganti. Mudah2an dimaklumi.

Darah menggumpal di infus gw. Kata perawat gw kebanyakan gerak. ya iya lah…. pipis, ganti baju, dengan satu tangan terikat itu butuh banyak gerakan. Perawat Pria yang tadi malam memperbaiki infus gw dan ganti ke tangan kiri yang menurut gw lebih bebas dan ga terlalu mengganggu. Menunggu lagi….

Dah jam 8….

Dah jam 9….

Dah jam 10…

“yuk siap bu” Suster ruangan tau-tau datang dan merubung gw. Membawakan kursi roda. Oke it’s about the time. Kakak sepupu gw baru datang waktu gw digiring ke lantai 3, adek cowo gw datang dari jam 8. Jam 10.15 gw masuk ke ruang persiapan operasi. Menunggu. Lagi. Tiduran. Lagi. Kepala gw mulai agak pusing. Dokter koas beberapa kali datang menanyakan hal yang mirip: Berat badan, tinggi, keluhannya, ada diabetes, darah tinggi atau alergi?

Ada 3 pasien. Satu mau dikuret, gw dan satu bapak-bapak. Beberapa kali terdengar bayi menangis. Suster yang menjaga pasien bilang kalau dokter itu yang membantu kelahiran pasti cepat. Selama gw nunggu udah 2 x bayi menangis.

Ibu yang dikuret dah masuk…. Bapak yang tua sudah masuk… tau-tau ibu sebelah tempat tidur gw masuk. Dia mau dioperasi juga mengambil tumor di payudara kanan tapi ukurannya lebih kecil. Kami berbincang. Gw udah berdoa dan membaca berbagai surat yang gw baca, adanya ibu itu udah cukup mengalihkan pikiran

jam 11 kurang gw dibawa masuk ke ruang operasi. Pindah dari tempat tidur ke tempat tidur operasi. Perawat masih sibuk keliling. Dokter belum datang katanya. Pengukur tekanan darah dipasang. Menunggu lagi. Gw agak heran karena mereka tidak memasang kateter. Entah kenapa gw merasa perlu untuk dipasangin kateter. Gw tanya dan mereka jawab, ga dipasang. So gw bilang apakah gw boleh pipis dulu, in case nanti kalo dibius gw ngompol. Mereka antar gw ke toilet dan ketika balik gw liat para perawat masih duduk dan berdiri menunggu dokter. Mereka bilang supaya gw balik ke ruang tunggu karena dokter belum datang.

Somehow gw ngerasa capek. Perawat magang ngajak gw ngobrol. Lumayan buat penghalau kecemasan. Seorang dokter masuk dan bilang: ibu ini (ibu sebelah gw) masuk duluan. Damn… masih harus nunggu

Gw ngantuk dan tertidur. Gw bangun ketika dokter koas ngomong: ngantuk ya: ayo siap. Sat set sat set… balik lagi: pindah ke ruang operasi, naik meja operasi, bentangkan tangan kanan kiri, disuntik dan blessss gw hilang kesadaran. payudara yang mo dibuka sudah ditandai. Ukuran tumor yang besar sepertinya memudahkan mereka buat menemukan keberadaannya. Gw ingat jam menunjukan pukuk 11.30 siang pas dibawa keluar. Gw sadar jam 3 sore di luar ruang operasi. Gw bisa melihat tapi sulit bicara. jam 4 gw balik ke kamar. Gw sadar saat mereka bilang: keluarganya mana dan ada yang jawab: sudah duluan kebawah.

Di kamar gw merasa dunia terang banget seperti ribuan lampu sorot menyoroti muka. Gw minta supaya mata gw ditutup kain untuk menghalangi sinar masuk. Gw masih bisa ngomong dan berfikir. Sempat minta digarukin hidung karena gatal.

Jam 5 kakak gw datang, kakak sepupu gw pulang. gw udah bisa ngomong dan membuka mata. Ternyata ruangan ga seterang yang gw rasa, sore dah menjelang, suasana kamar dah mulai muram. Gw dah bisa makan, dah mulai kentut beberapa kali dan gw terus tidur.

Selasa pagi gw bangun lebih enak. Dah bisa ke kamar mandi untuk pipis dan sikat gigi. Dada gw terasa kencang dan ga terlalu nyeri karena dibebat. Masih ga mandi. Seharian itu benar-benar membosankan: tidur, bangun, makan, tidur. Gw ga tahan kalau berhari-hari harus begini. Dokter bilang minimal 3 hari dirawat. Gw bosan. Dokter belum datang juga. Yang nungguin gw malah bikin gw kepikiran. Kasian mereka nunggu. Nunggu tuh membosankan. Gw suruh pulang, kakak gw ga mau. Teman gw datang ngejenguk.

Dokter belum datang.

Jam 4 dokter datang. Menanyakan keadaan gw dan gw jawab: dah bisa jalan, dah bisa bangun. dah bisa makan. Boleh pulang? Dokter tanya sudah lihat belum tumornya kayak apa? Tumornya sebesar bakso. Gw cuma mengerling. Baso? baso urat, baso telor, baso setan, baso beranak yang happening, baso volley atau baso apa nih.

“segini…” sambil membuat lingkaran besar dengan telunjuk dan ibu jari. “besar”

“ganas ga?”

“hmmmm belum bisa bilang sih kan belum PA”

“Kira-kira menurut dokter?”

“hmmmm kemungkinan enggak”

Nyengir. “pulang ya?”

“Pulang lah kalau dah sanggup”

Makin nyengir.

Malam itu gw pulang. Dan kembali tidur. Satu-satunya kesenangan yang gw lakukan dengan senang hati. Melewatkan waktu untuk bertemu dokter lagi minggu depan hari senin.

4 hari lagi. dan gw ga tahan untuk pulang…..

Empat hari lagi bertahan….

 

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman

Perjalanan Sejauh Ini: Tumor – Persiapan Operasi

Besoknya, 16 Mei, gw kembali ke RS untuk mendaftar rontgen, USG, dan jantung. Sebenernya kemarin gw udah datang ke instalasi rontgen sekitar jam 2 tapi mereka meminta gw kembali esok hari karena sepertinya setelah jam 12 tidak ada lagi pemeriksaan kecuali yang darurat. Mereka bilang mereka buka jam 7.30.

Seperti tipikal gw yang nervous dan selalu ingin tepat waktu, begitu sampai RSAU, jam 7.15, gw langsung degdegan. Kakak sepupu gw yang lebih sabar dan taktis suruh gw bagi tugas. Dia daftar untuk jantung dan gw langsung ke instalasi rontgen. Kakak gw bawa berkas pendaftaran dan gw bawa surat pengantar. Sampai di instalasi rontgen, belum ada orang. Petugas kebersihan masih nyapu. Setelah gw masuk, seorang bapak-bapak juga masuk. Ikutan nunggu. Baru kemudian satu persatu petugas datang. Mereka bilang bahwa dokter harus apel dulu, jadi jam 8 baru bisa dimulai.

Menunggu

Kakak gw datang dan bilang pendaftaran dah beres tapi gw lebih baik selesaikan rontgen karena dokter jantung katanya langsung periksa tanpa tunggu. Jam 8 dokter ada yang masuk ruangan. Berpakaian loreng biru (bagus, gw suka warna biru), dokter Paulus bolak balik dan bertanya siapa aja pasiennya. Petugas menjawab: pemeriksaan abdomen dan kelenjar mammae. Dokter Paulus (gw tau dari name tagnya) tanya siapa yang pemeriksaan kelenjar mammae, gw tunjuk tangan.

“kamu puasa?

“Puasa”

“sama dokter perempuan aja ya. Nanti batal lagi puasa kamu kalau diperiksa saya”

“saya ga masalah diperiksa dokter pria, dok’

“tunggu aja lah. Bu Dokternya masih rapat. Paling jam 10 selesai”

Oh well, kalau dokter Paulus berpendapat begitu, oke lah. Mungkin menghargai agama gw. Nunggu lagi.

Yang pertama kali dipanggil ternyata untuk rotgen. Seperti biasa: buka baju, ganti baju, berdiri di depan papan, Letakan tangan di pinggang, tegakan dada, ambil nafas, dan bluuuush…. selesai.

Ganti baju, nunggu lagi. Otak gw kopong, kayaknya kena sinar rotgen. Gw minta hasil rotgen saat itu juga karena mau operasi, padahal belum dibaca. gw pikir dokter bedah bisa baca juga. Dan ternyata itu salah. Gw harus menghargai masing-masing peranan.

Sambil menunggu gw dengar dokter Paulus memberikan materi kepada dokter koas. Suaranya kencang: “Ca ini, kala begini Ca paru”. Gw terkesiap. Apa dokter Paulus baca hasil rontgen gw? “Ini penebalan pleura. Kalau gini biasanya harus ditusuk buat bisa bernafas”. Rasanya gw mau nangis di tempat. Masak sih paru-paru gw dah kena? Emang sih akhir-akhir ini gw sesak nafas. Huhu….

Dokter wanita akhirnya datang. Setelah mondar mandir, baru dia manggil pasien. Yang pertama seorang wanita, baru kemudian gw. Buka baju, buka bra, dada gw dilumuri gel yang buanyak dan mulai USG. “Ini ya… besar ya….” gw buang muka. Gw ga mau liat.

Dokter Paulus lewat. “Besar”

“Iya, tepinya ga terlalu jelas. tapi kok kebiruan ya”

Gw deg-degan. Gw ga tau artinya apa. Kalau bintang kebiruan itu berarti bintang muda. Kalo kulit gw kebiruan berarti gw lebam atau bisa jadi kematian sel darah merah. Atau kedinginan. Nah kalau tumor kebiruan apa artinya?

“Suka diraba dan dipegang2 ya?

“engga bu dokter. Kalau diraba paling pas mandi”

Gw takut megangnya, mana mau gw remes2 tuh benjolan. Paling selama ini yang gw lakukan adalah mengoleskan minyak zaitun asli yang katanya obat tumor. “Apa karena beha yang ketat ya bu?” (gw selalu mengenakan BH berkawat – nasib orang berpayudara besar). “wah saya ga tau ya penyebabnya…”

Logis. Tumor memang datang sesuka hati.

Dokter mulai memeriksa payudara kiri. Gw yang merasa yakin akan payudara kiri melihat kecut ketika melihat ada kacang dalam layar.

“dikiri ada, tapi kecil”

“perlu dioperasi juga ga bu dokter?”

“tergantung dokter bedah. Oke, pakai baju”

Gw beresin gel dengan tissue yang diberikan oleh suster. Melimpah banget itu gel sampai susah ngilanginnya. Keadaan ruangan yang ga memadai menyebabkan orang luar bisa melihat gw susah payah berpakaian. Untung orang luarnya perempuan juga. Mungkin perlu dipertimbangkan privasi ruangan USG.

Habis dari sana, langsung ke bagian jantung. Daftar, nunggu sebentar. Dipanggil. Nunggu lagi sebentar, timbang berat badan (84 kg), tinggi (148), tekanan darah (150/110, daaaang darah gw tinggi terus akhir2 ini), kemudian EKG. Suster meminta gw buka semua perhiasan dan jam tangan. Tempel sana sini, dilarang ngobrol, ambil nafas dan beberapa saat kemudian beres.

Setelah itu gw lapor ke bagian bedah. Mereka bilang mereka akan mempersiapkan gw. Sekiranya lancar tanggal 21 gw masuk RS tapi tunggu panggilan. Gw diantar buat booking kamar. Diminta mengisi beberapa formulir dan diminta hasil rontgen, EKG, dan USG. Gw jawab belum beres. Petugas menyarankan pada petugas klinik bedah untuk mengambilkan punya gw biar cepat prosesnya. Petugas klinik bedah setuju dan gw bisa pulang.

Alhamdulillah lancar…..

Tinggal deg-degan. Menunggu seminggu untuk operasi….

 

 

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalanan sejauh ini: Tumor-Faskes 2 (2)

Oke diputuskan buat lanjut ke tahap berikutnya: faskes 2. Gw memutuskan untuk berobat ke RS TNI AU di Halim. Alasannya karena dekat rumah, cuma itu.

Berangkat jam 6 pagi dengan dugaan pasti ada antrian. Sampai sana, ambil nomor yang didampingi oleh seorang petugas. Syukurlah, karena gw emang ga tau sama sekali bagaimana mendaftar. Petugas itu menanyakan penjamin gw (BPJS) dan apakah ini kedatangan gw pertama. Gw dapat nomor 1027 kalau ga salah. Agak jiper juga. Dah seribuan yang daftar.

Ternyata angka 1 didepan menunjukan bahwa gw adalah pasien baru daftar. So cuma menunggu 26 nomor. Petugas pendaftaran menanyakan kartu BPJS dan surat rujukan. Kemudian gw dapat nomor antrian di dokter bedah umum (rujukan gw ke dokter bedah).

Disini baru perjuangan dimulai.

Pendaftaran butuh kurang dari satu jam tapi dokternya ternyata praktek jam 11 siang. Walhasil, nunggu sambil terkantuk-kantuk. Surat dari meja pendaftaran sudah gw serahkan ke petugas dokter bedah. Tinggal tunggu aja kata bu haji. Jam 11 pak dokter baru datang. Dokter yang menangani gw dr. Catur.

Saat pemeriksaan gw jelaskan kalo ada benjolan di payudara kanan gw. Besar. Bisa diraba dan dirasa. Dokter menyuruh gw tiduran dan buka baju. Well, what do you expect: kalau ada yang tumbuh di payudara lo dan perlu diperika, mau ga mau harus buka baju. Dokter meminta izin supaya dokter koas mendampingi dan ikut observasi. Gw jawab: ‘ga papa. Satu hari nanti dokter koas yang akan mengobati orang-orang kayak gw”. Sempet2nya gw sok bijak *facepalm

Dokter meraba, memencet, payudara gw. Di seitar benjolan. Kemudian gw suruh angkat tangan dan dia memeriksa daerah ketiak yang berbatasan dengan payudara. Setelah itu gw disuruh berpakaian dan memulai diskusi.

“Usia ibu sudah diatas 40 tahun. Berdasarkan usia, biasanya benjolan pada wanita diatas usia itu dicurigai sebagai tumor berpotensi ganas”

Mata gw mulai berair. Gw tanya apa yang akan dilakukan. Dokter bilang yang pertama kali harus dilakukan adalah pengangkatan benjolan tersebut kemudian dilakukan analisa patologi. Jika ganas, maka akan dilakukan masektomi dan kemoterapi.

Gw tercekat.

Keluarga gw mengalami kanker dan gw ga sanggup menjalaninya. Gw bersedia mengurus pasien tapi gw takut sebagai penderita kanker. Cukup gw melihat penderitaan adek gw yang kena osteosarcoma. Gw ga akan sekuat dan setegar dia.

Sambil menahan air mata gw minta tissue. Dokternya cukup concern dengan bilang: loh kok nangis, saya ga galak kan. Well dokter ga galak tapi berita yang dibawanya bikin kecut. Meski gw tahu prosedur yang akan dilakukan dan kemungkinan yang akan dihadapi, gw tetep jiper.

Dokter bilang ga ada obat yang akan diberikan, cukup persiapkan operasi. “Kapan mau operasi?” Gw langsung terdiam. Ga tahu kapan. Kakak sepupu gw bilang bahwa lebih baik kalau secepatnya. “Oke, gimana kalau tanggal 22 Mei?”. Otak gw dah mumet. Gw sudah mengosongkan jadwal selama 3 bulan dan ga mau berurusan dengan kerjaan. secara teori gw bebas, secara moral gw ketakutan.

Akhirnya disepakati kalau operasi tanggal 22 Mei, seminggu setelah konsul pertama. Dokter mengirimkan surat pengantar untuk pemeriksaan darah, jantung, rontgen thorax dan USG. Gw tau bahwa untuk pemeriksaan tumor payudara adalah USG dan atau mammography tapi gw kira ga perlu dengan benjolan yang bisa diraba secara fisik (meski kalau dilihat ga ada perbedaan antara payudara kanan dan kiri gw).

Gw diminta ke loket 13 untuk pengurusan BPJS sebelum lanjut ke proses berikutnya.

Sore itu gw langsung periksa darah dan pulang.

…… Bersambung…..

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalanan sejauh ini: Tumor – Faskes 2

Setelah dapat surat rujukan, jujur aja, gw masih terpukul. Memutuskan buat menenangkan diri dengan satu-satunya cara yang gw ketahui: Makan. Lagian gw lapar. Dah jam 2 siang. Pesen gojek dan gw mulai meracau alias ngobrol ngalor ngidul dengan si abang gojek. Sampai di mal, tujuan pertama adalah ngopi tapi mana kenyang, walhasil muter ke resto jepang. Lumayan, paket bentonya suka bikin gw food coma.

Sambil nunggu makanan, gw sempet nangis. Salah satu kelebihan gw adalah menangis kapan pun, dimanapun kalau memang gw pengen nangis. Perduli amat orang lihat. Ga sesungukan sih, cuma lap-lap air mata. Makan, bengong, beli oleh-oleh buat ponakan, pulang ke rumah ponakan. Muka gw dah ga terlalu sedih lagi. Cukup gw nangis sendiri.

Ponakan gw dua dan sedang senang-senangnya makan. Mereka lahap habis donat dengan sedikit drama karena berebut donat dengan toping yang sama-sama disukai. Gw balik ke rumah setelah mengantar ponakan ke tempat kursusnya (dan masih ada drama selama di perjalanan).

Besoknya gw datang pagi-pagi diantar kakak sepupu ke RS rujukan. Rumah sakitnya dijaga tentara. Banyak pasien senior. Gw ambil nomor setelah minta petunjuk pelaksaan dari petugas yang jaga tiketnya. Nunggu. Dapat no 1025. Serem ga sih, seribuan orang, padahal baru jam 6 pagi. Hehehe… ternyata angka 1 didepan menunjukan gw peserta baru. Nomor gw dipanggil, kasih surat tujukan, BPJS fotokopi dan dapat nomor antrian di dokter bedah umum. Nomor urut 12.

Ntar lanjut. Soalnya gw mo nangis dulu.

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Cerita Minggu ini: Tumor. Faskes 1

So setelah gw memeriksakan diri di puskes di sini, gw berangkat ke Jakarta untuk pengobatan. Kakak sepupu gw yang selama ini gw anggap sebagai pengganti ibu, memaksa buat memeriksa di Jakarta. Meski jujur aja, gw keberatan dengan biaya pengobatan tapi ternyata gw dapat bantuan dana KIS.

Haru biru. Takut. Cemas. Sedih.

Sore hari sebelum berangkat gw tumpahkan dengan menangis.

Berangkat di hari senin, awal minggu ini. Perlengkapan perang sudah siap: baju ganti, underwear, handuk, washlap, baju tidur, perlengkapan mandi, perlengkapan dandan, jaket dan kue. Semuanya dibawa. Juga laptop dan segala printilannya. So kalau gw harus masuk rumah sakit, gw udah siap.

Yang ga siap adalah diri gw sendiri. Mentally.

Sampai Jakarta sudah sore. Berbenah setelah kena tegur kakak sepupu gw (kebiasaan taruh sembarangan barang-barang), makan dan istirahat. Besoknya gw berangkat buat minta rujukan ke Faskes I. Di KIS gw cuma tertulis: KECAMATAN DS. Gw pikie semua puskesmas di kecamatan ini akan terima gw. So dengan pede gw kalan ke puskesmas terdekat.

Dapat antrian no 77 di jam 8 pagi setelah diajarin seorang bapak yang ga sabar saat gw tanya apa yang harus gw lakukan untuk pendaftaran. Banyak yang berobat, sesak, dan semua orang cenderung untuk berkumpul di depan meja pelayanan yang bikin makin sumpek. Sambil menunggu panggilan gw mulai mikir macam-macam. Kebiasaan. Pas panggilan no 75, gw maju kedepan supaya mudah dan cepat menghampiri meja layanan. Saat nomor gw dipanggil, si bapak di belakang meja tersenyum dan cuma bilang: “ini di kecamatan DS, silahkan ke sana”.

Buset.

Dah siang. Mo langsung apa balik lagi ya….

Langsung aja… eh tapi makan dulu. Laper.

Habis makan lontong padang, gw capcus naik gojek. Cuma 9000, ga jauh. Sampai puskesmas DS, ternyata sebagai pengguna baru, gw harus daftar data, ambil nomor dan nunggu antrian. Dapat no 358. Baru dipanggil nomor 320-an. Lumayan.

Nunggu sambil diganggu bapak-bapak yang kagum liat body besar gw. “Jantung ya?”

“enggak…”

“Lima tahun lagi nanti juga kena jantung. Situ gendut sih”

Buseeeeet….

Cuekin aja lah tuh si bapak yang terus ngoceh membanggakan keberhasilannya mengangkat tangan akibat gangguan jantung. Gw dipanggil, mendaftar, diarahkan ke lantai dua. Menunggu panggilan lagi buat diperiksa tekanan darah (140) dan tinggi serta berat badan. Nunggu dipanggil lagi ke dokter.

Dokter wanita periksa dada gw. Merasakan benjolan (besar, kasar/bertekstur). Dan langsung menyarankan operasi. Gw rasa dokternya sedikit menyesali karena gw datang baru sekarang setelah tumor membesar. If you knew doc, I was afraid. Need courage to come here.

Gw ditawarin buat dirujuk ke beberapa rumah sakit di kawasan gw. Satu-satunya cara adalah biopsy untuk tahu ganas atau enggak. Gw memilih salah satu rumah sakit yang paling deket. Paling deket menurut gw yang awam….

Neeeeext —–>