Posted in Curhat Colongan, Pengalaman

Lump (1)

Gw pagi ini malas pergi ke kantor. Gara-garanya sih bakal ada upacara dan sebagai pengecut pemberani, gw memutuskan ga berangkat. Tapi buat ga berangkat harus ada alasan dan memang beberapa hari ini gw merasa sakit.

Diare mulai tadi malam

Perut mulai perih.

Mungkin karena puasa dan gw jarang iftar dengan makanan full, cukup teh dan sepotong cemilan. Beres.

Tapi sakitnya kok makin menjadi. Ga cuma sekedar perih yang biasa. Harus ke dokter nih. Tapi kalau cuma ke dokter buat periksa perut ga usum deh. Ga asik. Mari kita koleksi penyakit lainnya: Nyeri di ulu hati, diare, panas dingin dan oh ya, lump di dada kanan.

Sebenarnya dah setahun sih, dulu kecil sekarang membesar. Dulu sih berharap bisa operasi tahun ini, namun salah satu saudara bilang: aaah palingan cuma benjolan biasa. Well, sepertinya ini luar biasa.

Dokter yang memeriksa menatap dengan takjub sedang gw malu-malu. “periksa ya.., dirujuk ke rumah sakit”. Aiyoooh serius ni. Memang harus dilakukan biopsi mau ga mau. Meski ga dirasa mengganggu tapi kemunculan bola asing ini memang harus segera ditndaklanjuti.

Bargain lah gw. Secara tahun lalu, gue dah siap-siap berangkat terpaksa batal karena operasi usus buntu. Masak tahun ini harus masuk meja operasi dan batal lagi. hadeeeh….

Advertisements
Posted in My thought, Pengalaman

Wajahku…..

Wajah Ko tu ga cantik. Ga ada yang menarik meski menurut Ko diantara tumpukan organ yang ga menarik, mata adalah yang paling bagus. Iris mata berwarna coklat sehingga sering dituduh memakai contact lens. Selebihnya hanyalah tumpukan indra yang sempurna tapi tidak menarik.

Setidaknya buat Ko…

dan sejauh ini memang belum ada yang memuji selain iris mata.

Body Ko juga diatas rata-rata. Mo dibilang obes kayaknya agak sedih ya, gimana kalo jadi “plus size” aja. Membengkaknya badan ini banyak faktor, antara lain nasib dan genetik. Meski makan sedikit pun tampaknya makanan lebih menyukai mengisi relung badan dibandingikan keluar lagi dan terbawa aliran air. Ditambah posisi kerja yang kebanyakan duduk diam dibandingkan bergerak. Akibat plus size ini, Ko sering dituduh makan banyak dan rakus. Padahal tetangga sebelah, *lirik Ny. A, makannya lebih banyak tapi body yang tetap menjulang langsing, dia pun memiliki pola kerja yang sama. Tapi nasib berat badan berbeda.

Ngobrolin soal tipuan, Ko nih dah sering jadi tertuduh. Bukan sebagai orang yang kena tipu (pernah sih sekali) tapi sebagai orang yang dituduh sebagai orang yang berniat macam-macam.

Dulu waktu kuliah, Ko tinggal di rumah kontrakan sendirian. Meski rumah itu dikontrak tapi si pemilik minta 1 kamar belakang buat diisi anaknya yang kadang berkunjung. Jadi, hari itu, teman Ko datang untuk mengerjakan tugas dan si anak pemilik rumah pun datang. Ko sibuk mengerjakan tugas dan sekali ke kamar mandi untuk mandi. Teman Ko beberapa kali ke kamar mandi untuk pipis. Sore itu terjadi kehebohan setelah diketahui bahwa anak pemilik rumah kehilangan jam yang tertinggal di kamar mandi. Ko sebagai satu-satunya orang di rumah pun menjadi tertuduh. Siapa lagi yang bisa dituduh? Merasa tidak mengambil dan tidak melihat jam itu, Ko tentu saja menolak tuduhan. Menuduh orang lain rasanya pun tak tepat (masak sih kawan Ko yang ambil). Meski sampai sekarang kasus ini tak terpecahkan, Ko tetap menjadi tertuduh.

Mystery…..

Yang berikutnya adalah saat kejadian intip mengintip jadi heboh. Setelah kejadian kehilangan jam, kami pun pindah berbondong-bondong (5 kawan). Pindah ke rumah baru berupa ruko. Ruko depan diisi oleh serombongan pemuda sedang kami dibelakang. Kamar mandi saling berhimpitan dan entah desain terinspirasi dari siapa, bagian atas kamar mandi dibuat lubang memanjang. Mungkin biar udara kedua kamar mandi saling bertukar. Entahlah.

Ketika itu kuliah libur, sebagai anak luar pulau, Ko malas pulang hanya untuk seminggu. Capek di jalan. Mandi pagi di hari libur berarti jam 11 siang. Saat membasuh dan menengadah, Ko menjerit melihat sebuah muka sedang memandang di celah diatas dinding kamar mandi. Muka itu pergi tapi meninggalkan gemetar parah. Segera membereskan mandi dan keluar, gemetar. Teman yang baru tiba dari kampungnya menemukan Ko duduk di ruang tengah. Ko menceritakan kasus itu dan teman memutuskan untuk menutupnya dengan kertas tebal. Sore itu mereka mendatangi orang sebelah rumah kontrakan dan menegur. Yang ada mereka marah-marah dan merobek kertas penghalang. Sekali lagi Ko merasa tertuduh sebagai penyebar berita palsu.

Namun akhirnya kasus ini diselesaikan dengan pindah kontrakan karena kemudian ditemukan dua lubang di kertas pembatas yang kembali kami pasang.

Mystery was solved…

Tuduhan berikutnya adalah saat sekolah di luar. Entah kenapa mereka mencurigai Ko memiliki aura tertentu yang benar. Bule-bule itu bilang kalo ko mischievous.  Yang tentu saja Ko tolak. Lah Ko aja ga tau mischief-nya ko macam mana. Tapi mereka bilang: mata mu itu loh yang nunjukin kalo kalo tuh mischief.  Walhasil tiap belanja beberapa kali mereka memperhatikan Ko lebih teliti. *hela napas.

Eike bukan maling neeeeeek… apalagi pengutil 😦

Nasib.. nasib… entah kenapa muka Ko menjadikan Ko sebagai orang yang ga bisa dipercaya. Entahlah.

Nasib…..

 

Posted in Pengalaman

Usus buntu! Sebuah perjalanan

Never ever ever again.

Untung usus buntu itu diciptakan untuk ga tumbuh lagi. Jadi setidaknya ga akan ada kemungkinan terjadi lagi appendisitis.

Sehari setelah operasi, Ko masih merasakan kantuk yang lumayan dan otak yang melayang. Berusaha untuk sadar dan berfikir jernih. Mendapati tangan tertancap jarum dan setiap 8 jam disuntik obat-obatan, bikin pasrah. Kateter masih dipakai, blood drain masih tertancap. Bergerak pun susah.

Untung sepupu bersedia menemani dan mengurus selama Ko sakit. Salah satu kesedihan yang paling dalam adalah saat sakit sendirian dan ga ada yang bisa mengurus saat lemah tak berdaya.

Balik lagi cerita. Hari kedua masih tak berdaya. tapi otak mulai cerdih. Penghilang nyeri yang disuntikan setiap beberapa jam memberikan rasa sakit yang parah saat disuntikan. Dokter bilang: “kamu sempat kesakitan saat akhir operasi”. Ya Ko masih mengingat erangan dan rasa sakit yan sangat. Jadi, saat penghilang nyeri menimbulkan nyeri saat masuk ke pembuluh darah, Ko bersedia menahannya. Mulai diberikan makanan karena observasi 24 jam telah selesai dan pergerakan usus ditemukan sudah membaik.

Hari ketiga sudah belajar untuk miring kanan dan kiri. Ko selalu tidur menghadap kanan. Tidur terlentang bukan pilihan yang menarik. Apalagi tidur tengkurep. Bakal ga bisa. Masih terasa ngiluuuu dan perih di bekas luka operasi yang tertutup perban. Salah satu kebijakan rumah sakit adalah mandi dengan menggunakan tissue basah. Hal yang sangat memberatkan karena tissue basah cenderung lama terdegradasi di tanah. Walhasil Ko menunggu sepupu untuk melap badan.

Hari ke empat dokter memutuskan untuk membuka selang infus. Lumayan. Meski jarum masih tertancap untuk memasukan obat tapi pergerakan tangan lebih baik. Bisa menggaruk. Kateter mulai diikat dan setiap 4 jam dibuka untuk memastikan kandung kemih sudah belajar untuk menahan pipis.

Hari ke lima, kateter dibuka. Ngiluuuuu saat dicabut. Tantangan baru. Karena berarti harus turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Belajar turun dengan berpegangan pada suster atau sepupu yang ko remas kuat-kuat saking ngilu dan perihnya. Hari itu adalah mandi pertama dan keramas pertama.

Hari ke enam, libur. Karena itu weekend dan dokter ga ada. Menikmati belajar turun sendiri. Ngilu dan nyeri sudah makin berkurang dan Ko HARUS belajar mandiri. Sulit membungkuk. Blood drain masih menghalangi.

Hari ke tujuh, suster membawa ke ruang periksa dokter. Perban diganti. dan blood drain dicabut. Tarik napas katanya. Tapi siapa yang sanggup menarik napas tanpa mengeluarkan selama beberapa menit saat blood drain dicabut. Ngiluuuuuuuuu dan perih. Dokter memutuskan untuk memulangkan Ko.

Hari ke delapan. Ko sudah di rumah sepupu. Entah emang kebluk, entah terbiasa di rumah sakit atau memang masih terbawa suasana bius, hari itu dilewati dengan tidur. Begitupun hari ke sembilan. Tapi Ko memutuskan untuk belajar mandi (mengelap diri) sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.

Luka pada perut masih sangat terasa. Menggunakan korset ibu paska melahirkan sangat membantu untuk mengurangi rasa nyeri meski menimbulkan kesan habis melahirkan. Bangkit dari kasur, duduk, berdiri, berjalan masih menyakitkan.

Hari ke sepuluh, semuanya jadi lebih baik. Tapi ketakutan akan rasa sakit masih menyebabkan semua pergerakan menjadi lambat. Hari kesebelas hingga saat ini (hari ke sembilan belas), rasa ngilu dan nyeri makin berkurang. Jika kita sudah terbiasa dengan kepedihan, maka kepedihan akan menjadi bagian dari diri kita. Namun kadang masih terasa pedih yang mendadak. Luka makin mengering. Kadang terasa baal dan aneh saat tersentuh. Napas terasa mudah habis meski perjalanan yang sedikit dan kepala terasa nyut-nyutan. Mungkin bukan karena dampak samping operasi tapi penyesuaian akibat terlalu lama beristirahat.

====================

Sebagai seorang single yang harus mengalami sakit dan harus dirawat, sendirian itu menyesakan. Kunjungan dari orang yang sangat dianggap dekat sangatlah membantu. Berbicang-bincang tanpa menyinggung soal sakit, akan sangat menyenangkan dibandingkan dikunjungi teman dan mereka menunjukan rasa kasihan.

Meski suster selalu ada dan siap membantu, diurus oleh keluarga sendiri menjadi sangat diharapkan. Yang paling susah adalah saat harus mengurus administrasi, pertanggungjawaban menjalankan operasi, pengambilan obat, yang membutuhkan pergerakan fisik.

Ko sempat mendengar dokter berbicang dengan suster yang merasa kerepotan dalam hal administrasi dan pertangungjawaban akibat sang pasien diantar teman dan dia ga berani bertanggung jawab dan membubuhkan tanda tangan. Sedih rasanya.

Posted in Pengalaman

Pertama….. Operasi perut

alodokter-usus-buntu
Source: alodokter

Kemarin udah cerita kan tentang segala sesuatu yang pertama dan bersyukur karenanya. Ternyata beberapa hari kemudian, Ko mengalami hal pertama.

Diawali dengan dada yang terasa panas pada hari selasa pukul 1 pagi yang terus menjalar ke bawah sampai ke perut kanan. Hadooooh… hadooooh…. sakit guling-guling. Memastikan itu bukan masuk angin atau kebelet doang, Ko sempat-sempatnya nongkrong di the loo dan malah muntah. Sejam kemudian perut mereda namun masih sakit. Telepon teman dan minta diantar ke UGD. Berangkatlah jam 2 ke RS dan dokter mulai angkat-angkat kaki kanan Ko.

“Sakit?”

“Enggak begitu”

“tapi mukanya kok nyengir?”

Walhasil di rujuk ke RS lain untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan indikasi apendiks akut. Tau dong kalo itu adalah usus buntu. Tapiiii… ko sudah janji untuk presentasi hari rabu malam dan kamis akan mengurus passport. Walhasil, mengingat sakit perut yang berkurang, kita tunda sajalah ke RS-nya.

Memenuhi janji semua, akhirnya kamis jam 2 dengan diantar kakak sepupu, belok ke RS. UGD. Dokter periksa sana sini, ambil darah, ambil pipis. Tekan sana sini daaaaaaan…..

“panggil dokter bedah ya”

Konsul daaaaaaaaan… BEDAH!

“Laparoskopi ga bisa dok?”

“Bisa tapi kamu lebih lama lagi ntar. Soalnya butuh tim panel kalo ini mah saya aja sendiri”

Terpaksa mau.

Jam 5 sore masuk ke kamar inap. Ganti baju operasi. Ga pake mandi. Jam 7 malam diseret ke ruang perantara. Jam 8 malam masuk ruang operasi. Jam 1 pagi, Jumat, kembali ke kamar.

Teringat dong cerita kemarin: segala sesuatu bisa jadi yang pertama. Dan meski operasi ini bukan yang pertama tapi operasi buka perut buat Ko ini adalah yang pertama. Operasi di Indonesia adalah yang pertama. Menggunakan BPJS adalah yang pertama dan mendapatkan pelayanan dari RS RP di Sunter adalah yang pertama. Diurus orang lain saat sakit adalah yang pertama.

Semuanya pertama.

Saat ingin mengeluh karena suster tidak terlalu membantu, saat ingin mengeluh karena sakit yang sangat dirasa, sangat ingin menangis karena merasa terabaikan, pusing karena kelamaan terbaring.

Semuanya pertama. Nikmati aja.

Sambil meringis saat pertama kali turun dari kasur untuk pipis….. “aduh susteeeer….”