Posted in My thought

Perjalanan gw….

Lagi rame artis yang buka jilbab. Padahal dia dibayar untuk jadi pemandu acara jalan-jalan karena salah satu alasannya adalah dia pemakai jilbab. Tampaknya dari hasil perjalanannya keliling-keliling dunia itu, dia memaknai sesuatu yang baru. Pandangan baru yang berbeda dari yang biasa dia lihat. Memaknainya dengan hal cara yang berbeda.

Ibarat kata, ada aksi ada reaksi. Aksinya satu tapi reaksiya bisa beda. Bisa melenting ke kanan, ke kiri, atas, bawah, muter atau bahkan melesak ke dalam. Ga ada yang bisa memperkirakan. Bahkan bisa bikin kaget.

==================================

Jujur aja, gw mengalami apa yang dialami sang artis. Pernah mengalami. Dan masih belajar memahami. Meski, jujur juga, gw ga paham alasan sebenarnya dari sang artis tapi gw kira, kami ga jauh berbeda.

Begini ceritanya:

———————————————————-

Dari dulu gw ga terlalu dekat dengan agama. Bego banget. Ngaji aja patah-patah ga lancar. Pandangan orang terhadap manusia kayak gw nih kayak melihat pendosa. Dan itu salah satu yang mendorong gw buat tidak bersentuhan dengan agama. Begitu baca kitab suci berbahasa arab dengan kalimat patah, gw takut mereka akan memandang gw buruk. Menghancurkan ilusi gw akan kesempurnaan. Well, sorry if I was  always pushing myself to be in top and be a better one.

Salah satu yang masih gw inget adalah when they pushed me aside since I was not that keen to religion. Mereka membedakan gw karena gw ga berkerudung. Gadis-gadis berkerudung itu membentuk satu kelompok, saat kuliah, ga mau baur, ga senyum dan selalu menjaga jarak dengan non kerudung. (Meski kadang gw bersyukur juga, jadi ga terlibat acara2 yang memberikan paham yang digeser buat salah). Beberapa wanita berkerudung yang waktu itu gw kenal malah lebih parah dari gw yang masih suka kabur buat nonton film atau nongkrong di mall karena ga inget pulang cepat dan bertemu dengan induk semang tempat gw tinggal sementara.

Kami, perempuan tak bekerudung pernah diteriaki dan dimarahi sebagai kafir. Rambut teman gw yang kebetulan berwarna pirang (dari sononya) dituduh sebagai wanita yang tidak menghargai ciptaan tuhan. Gw lupa bawa kitab suci saat kuliah agama karena sehari sebelumnya itu ganti tas. Biasanya tuh kitab suci ada terus dalam tas. Sakit hati. Gw sebenernya pengen terbang dari kelas daripada mendengar teriakan mengkafirkan.

Teman gw yang diteriakin sebagai perusak ciptaan tuhan di kemudian hari menggunakan jilbab lebar (sampai sekarang), sedang gw……

So gw lulus dan wisuda dengan rambut berkonde tebal.

Saat diterima kerja, gw pikir sudah saatnya gw kembali ke tuhan. Lupakan teriakan kafir, lupakan diskriminasi saat training (gw dan yang ga berjilbab lainnya – terlepas dari agamanya apa- diusir supaya baris dibelakang dan wanita berjilbab didepan). Gw pikir, saatnya belajar beragama yang baik. So gw berjilbab. gw bilang, pake kerudung.

Gw berkerudung supaya lebih baik. Gw ga perduli dengan pujian “makin cantik pakai jilbab”. Enggak. Gw ga cantik. Meski memang jilbab menutupi pipi gembil gw. Gw pakai karena gw mau. Beberapa orang mungkin jujur. Mereka bilang gw kayak TKW. Well, muka gw muka ndeso. Yang kalo ke mall orang akan mendatangi gw buat nawarin pemutih dan pencerah muka, mereka ga akan nawarin mobil atau apartemen. Mereka tau: muka ndeso ga akan mampu beli mobil, jadi ga usah ditawarin. Malah ada kejadian di bandara internasional negeri ini gw dihardik buat baris diantrian TKW sampai gw mengeluarkan buku sakti dan masuk ke jalur antrian diplomat.

Berapa tahun ya gw pakai kerudung? Lumayan lama lah. Foto2 berkerudung gw masih ada dan masih terpajang. Sampai suatu hari gw sakit dan ga bisa menolong diri sendiri, jauh di negara orang.

Seorang wanita berkalung salib memegang tangan gw. Berdoa kepada tuhannya untuk melindungi gw dan supaya operasi berhasil. “you pray to your god while me will pray according my religion”. She closed her eyes and praying while i looked at her, observe her praying. No one came to see me, where were you, my sisters from the same religion?

and no one came days, months after the surgery while others with cross on their neck visited me and made sura I ate, cleaned, and kept sane…..

Kalau ada yang bilang itu cara mereka untuk convert gw, maka cara mereka berhasil. Saudara seiman ga ada yang datang.

Butuh beberapa waktu untuk menelan kesedihan. Kemana mereka yang berjamaah dalam shalat dan pengajian saat gw terpuruk? Orang yang memeluk gw saat nangis adalah si atheis, orang yang memasakan makanan buat gw selama sakit adalah si kristen.

Pernah gw tanya dan salah satunya menjawab: kami sibuk kuliah.

Apakah semua itu bikin gw convert? Engga. Gw cuma kecewa. Kecewa dengan saudara seiman gw. Kecewa dengan jilbab gw yang ga merekatkan. Kecewa pada keadaan.

dan gw memutuskan buat berhenti, memulai mencari, menata pemikiran yang rasis dan diskriminatif, dan belajar mencintai tuhan tanpa melihat manusia pemeluknya.

Gw tidak lagi mengenakan jilbab.

Well, gw tidak “seberuntung” artis itu. Ga ada yang bener2 menyerang gw. Cuma ada bisik2 gw terpengaruh pemikiran barat yang tak bertuhan. Mungkin ada benarnya. Ada pemikiran baru yang gw dapat. Pemikiran bahwa agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Bahwa memberi dan menerima pertolongan adalah baik ke sesama mahluk hidup tanpa melihat siapa dia, agamanya, jenis kelaminnya, kekayaannya.

Gw masih belum berkerudung. Gw sedang belajar mencintai tuhan tanpa melihat pemeluknya. Yang gw pelajari dulu adalah pukulan hebat karena berkaca kepada manusianya tapi tidak pada ajaranNya.

Berjilbab bukan sekedar identitas. Jilbab adalah penyerahan jiwa pada aturan yang mengikat meski bukan berarti tidak berjilbab bisa melanggar aturannya. Ga ada alasan bahwa meski berjilbab bukan berarti menjadi manusia suci. Saat berjilbab, sudah selayaknya tidak lagi berlaku jahat, tidak lagi berperilaku tidak senonoh. Menjadi manusia yang lebih baik.

Dan gw ingin mencapai itu. Dengan kembali belajar dan memaknai. Dengan kembali berendah hati dan tidak pongah menjadi yang lebih baik dengan berjilbab. Perjalanan gw masih panjang. Gw mohon ampun untuk itu.

===================================

Gimana dengan sang artis? gw ga tau pergulatan dan kekecewaannya. Namun gw menduga, dia seperti gw: kecewa terhadap pengikut bukan kecewa pada agama dan tuhan.

Gw kira, dia akan belajar untuk memaknai. Seperti gw berusaha memaknai. Meski gw ga tahu apa reaksinya terhadap makna baru yang dia serap. Semoga “kemarahannya” segera mereda. Dan ada orang seiman yang bersedia mengulurkan tangan untuk menemani dan membantunya memahami.

Gw ga ada. Gw sendirian tapi gw memutuskan untuk tidak berpaling. Gw hanya belajar menghadapkan muka kepada sang Khalik dan belajar tunduk.

Tuhan itu ada. selalu ada. Menemani kita, memberikan rahmat kepada kita. Hanya kita yang sombong dan angkuh merasa paling layak duduk dalam kebahagian surga janji hadiah kebaikan dan ketaatan.

Semoga ada kesempatan kedua buat sang artis dan buat gw.

Jangan tinggalkan dan hina kami yang sedang berusaha belajar. Jangan bikin berpaling seperti saat sang dosen teriak ke kami: Kafir kamu! karena kami tidak bawa kitab suci.

Gw yakin, diantara manusia berkerudung, ada yang ga lebih baik dari gw dan sang artis. Gw ga berani menilai dia pendosa atau enggak. Biarkan tuhan yang menilai.

===============================

 

 

Advertisements
Posted in My thought

being single

Gara-garanya tukang sayur yang menawarkan dagangannya dan gw cuma pilih 2 bungkus bukan 5 bungkus yang dia tawarkan. “30 ribu aja bu” murah (berarti 6000 sebungkus). “ga mau, 2 aja”. Bungkis bungkus, bayar 15 ribu untuk 2 jenis belanjaan.

Berikutnya ternyata ibu tetangga belanja dan sempat meneriaki gw seolah-olah gw gila: “ko, ini 15 ribu loh 3, kenapa cuma beli 2, lebih mahal” dan gw jawab dengan sedikit tersinggung: “saya butuh 2 dan mau hanya 2”.

“Beli aja lagi, simpen buat kapan-kapan”

“enggak, saya cuma mau dua. Buat apa beli banyak-banyak tapi mubazir. Kecuali ada yang mau makan, baru beli banyak”

Sambil menutup pintu dan berusaha untuk tidak memperdulikan.

Yang ga ibu itu tahu si abang kasih diskon 1000 ke saya untuk setiap 1


Ibu itu udah beberapa kali mengotak-atik nerve gw dengan mempertanyakan keputusan gw. Mungkin semua keputusan gw terlalu aneh bagi pemahaman umum. Beberapa kali gw harus terseret-seret karena si ibu memaksa untuk nebeng dalam segala kegiatan.

Orang dengan kepercayaan diri rendah dan kemampuan rendah namun memiliki daya hisap yang kuat itu sangat melelahkan.


Being single, disamping semua kemewahan dan kemudahan, pasti dong ada kesulitan. Dan orang-orang paling gampang menunjukan kerugian being single. Bikin riwet hidup gw.

Beberapa kali gw menangis karena keinginan dasar sebagai manusia terhambat: keinginan untuk memiliki keturunan. Melihat dinamika ibu dan anak sangat menyakitkan, melihat anak terbuang bikin perih hati, melihat anak berlari dan menangis meminta perlindungan kepada ibunya sangat bikin hati sedih. paling sebel

Menyadari bahwa gw ga akan bisa menyayangi, membentuk dan melihat keturunan gw tuh rasanya nyesss… sakit.

Apalagi kalau sudah ditertawakan atau disindir tentang status dan usia yang semakin bertambah. Makin sulit dapat jodoh katanya, makin sulit dapat anak, makin ga ada rasanya.

Terlepas dari semua sindiran dan kesedihan, sebenarnya ada juga terselip rasa syukur. Rasa syukur karena gw ga nambah populasi manusia di muka bumi. Bersyukur karena gw terlepas dari beban pikiran akan kualitas generasi baru yang berasal dari perut gw. Bersyukur karena gw tidak mengalami masalah yang mungkin dan bisa jadi ditimbulkan oleh penyatuan dua manusia.

Well, ngaku aja sih gw kalo kemarin malam gw nangis karena merasa gagal sebagai anak untuk meneruskan keturunan bagi keluarga besar gw. Maafkan saya, bapak dan ibu.

Posted in My thought

Tidak beruntung tahun ini

Ditolak aplikasi training di China

Ditolak lamaran magang di Inggris

Paper ditolak

Terpaksa harus bikin proposal dan cari sekolah – d’oh

Paper tidak terbit sama sekali dari tahun kemarin

Tidak ada satupun yang mengikutsertakan dalam projectnya

Cut the contacts with others

Have lump

and it is already almost the end of the year

Feel so frustrated…..

People blame me for being lazy and so self-centered

while I am trying to prove myself that I am alright with all those failure

Want to cry but cry won’t help me.

Posted in My thought

Man and woman behind keyboard

Today a woman (i suspect it is a woman based on her name account) call me crazy girl when replied my comment. I thought my comment was nothing, simple and not intended to other people but the subject. But somehow this woman thought it was appropriate to call me crazy girl.

Based on her account she is living abroad, married with a foreigner, and has 1 kid.

It could be she insulted my knowledge of immigration laws or just being a troll. Don’t know and don’t care. After she replied with the same word, i thought it was better if i left the fight and let other read and decided who was the crazy one. It is not worth to have cat fight on social media.

But it make me think about man and woman behind the keyboard. Just like i do. I follow several entertainment accounts and sometimes it is hard to hold my fingers after reading some (i think) stupid comments. Once i can keep my fingers but lately it is getting harder.

Gw selalu gatel buat komentarin status orang terutama di fb yang kelihatan konyol, hoax, ga ditunjang bukti valid. Apalagi kalo yang nulisnya gw anggap orang yang harusnya ngerti membedakan mana yang benar dan mana yang hoax. (Hasilnya gw sering banget di-unfollow 😂 ).

Tapi gw jarang banget koment ttg orang lain atau gossip. Mo att dibully banyak orang krn tingkahnya atau mj dicerca karena tikam temannya, apa hak gw buat menilai. Meski jujur aja, gw baca tuh akun2 gosip dan lebih suka baca komentarnya. Ajaiiiib 😂.

Ga ngerti gw dengan orang dibalik keyboard. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan ketika mengomentari artis atau orang lain dengan bahasa yang begitu menyakitkan. Samaga ngertinya gw kenapa ni emak emak mangggil gw orang gila karena koment gw. Gw ga kenal dia, gw ga komentari dia (well, gw jawab sih kenapa ente jadi personal attack dan dijawab lo gila). Apa uang menyebabkan dia dengan mudahnya menilai orang lain?

Keyboard warrior dengan segala pemikirannya. Ada yang senang2 kayak gw dan ada yang benar2 merespon dengan sepenuh hati sehingga mampu mengejek orang lain. Apalagi tim sumbu pendek, gampang banget meledak. Dikasih foto nyeleneh sikit langsung meledak tanpa lihat latar belakang tanpa mau mencari tahu berita lengkapnya.

Aissssh…..

Ga ngerti gw…

—————–

Kronologi gw dibilang gila:

Gw komentar ttg berita seorang pedofilia ditangkap di inggris (kali dah tau beritanya). Jujur aja gw cenderung ke iseng drpd beneran mikir. Gw tulis: tolak dia balik ke sini, jangan kasi balik.

Dan this clever, wise-as* woman bilang: hey orang gila, dia pasportnya negara ini, harus balik ke negara ini, tau hulum (sic) imigrasi.

Gw jawab: oke lah gw gila situ waras yang tahu HULUM imigrasi. Kenapa ente personal attack, cuci dulu deh otaknya.

She said: orang gila lo.

Oh wow. Kalo koment gw yang dikut dan simpel kayak gitu bikin dia angot, kayaknya dia harus manjat koment2 sebelumnya yang menurut gw lebih kejam. Mungkin geger otak ni emak

Posted in My thought

Do i hate you?

I did. When i had my emotions and struggled to identify myself. 

Do i hate you now? 

I do not know.

I cursed people when they cut my line. I yelled at people when they caressly behave. But do i hate them? No i don’t think so.

I just try not to cry and depress. I tend to forget everything lately-just like my mom on the end of her life.

I want to remember every beatiful things. Enjoy every moments since one day maybe i will not or can not remember it.

Maybe one day i forget you. I forget how to write or call your name. Maybe i will tell a story about a friend which is you, to you. Maybe i will cursed you and told you about my hatred. Without knowing that you i am talking about.

But, do i hate you now?

I don’t think so. I am busy preparing myself. I do not want to waste my energy. 

I don’t give a damn bout you.

I am busy preparing myself.

To wake up…

To smile

To pretend everything ok

To drag myself on the circuit of life.

Posted in My thought

Out of breathe

Semenjak gw merasakan dan mulai khawatir dengan adanya lump, gw makin concern dan cemas.

Setiap hari gw mulai merasakan nafas gw makin pendek dan tersenggal. Tidak nyaman. Entah karena lump itu atau sekedar kegendutan atau ada masalah lain.

Gw ga tau sampai bisa periksa ke dokter dan itu berarti 2 bulan lagi. Gw yang selalu cemas akan sakit sendirian, semakin cemas dan ketakutan.

Meski orang bilang berfikiran positif akan membantu dalam penyembuhan tapi kondisi gw yang dalam status quo menyulitkan buat berfikir positif.

Bahkan dalam pengambilan keputusan akan masa depan pun gw ga berani. Gw hanya berani berencana untuj hari ini, tidak untuk esok hari.

Gw takut.