Posted in My thought

Tidak beruntung tahun ini

Ditolak aplikasi training di China

Ditolak lamaran magang di Inggris

Paper ditolak

Terpaksa harus bikin proposal dan cari sekolah – d’oh

Paper tidak terbit sama sekali dari tahun kemarin

Tidak ada satupun yang mengikutsertakan dalam projectnya

Cut the contacts with others

Have lump

and it is already almost the end of the year

Feel so frustrated…..

People blame me for being lazy and so self-centered

while I am trying to prove myself that I am alright with all those failure

Want to cry but cry won’t help me.

Advertisements
Posted in My thought

Man and woman behind keyboard

Today a woman (i suspect it is a woman based on her name account) call me crazy girl when replied my comment. I thought my comment was nothing, simple and not intended to other people but the subject. But somehow this woman thought it was appropriate to call me crazy girl.

Based on her account she is living abroad, married with a foreigner, and has 1 kid.

It could be she insulted my knowledge of immigration laws or just being a troll. Don’t know and don’t care. After she replied with the same word, i thought it was better if i left the fight and let other read and decided who was the crazy one. It is not worth to have cat fight on social media.

But it make me think about man and woman behind the keyboard. Just like i do. I follow several entertainment accounts and sometimes it is hard to hold my fingers after reading some (i think) stupid comments. Once i can keep my fingers but lately it is getting harder.

Gw selalu gatel buat komentarin status orang terutama di fb yang kelihatan konyol, hoax, ga ditunjang bukti valid. Apalagi kalo yang nulisnya gw anggap orang yang harusnya ngerti membedakan mana yang benar dan mana yang hoax. (Hasilnya gw sering banget di-unfollow 😂 ).

Tapi gw jarang banget koment ttg orang lain atau gossip. Mo att dibully banyak orang krn tingkahnya atau mj dicerca karena tikam temannya, apa hak gw buat menilai. Meski jujur aja, gw baca tuh akun2 gosip dan lebih suka baca komentarnya. Ajaiiiib 😂.

Ga ngerti gw dengan orang dibalik keyboard. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan ketika mengomentari artis atau orang lain dengan bahasa yang begitu menyakitkan. Samaga ngertinya gw kenapa ni emak emak mangggil gw orang gila karena koment gw. Gw ga kenal dia, gw ga komentari dia (well, gw jawab sih kenapa ente jadi personal attack dan dijawab lo gila). Apa uang menyebabkan dia dengan mudahnya menilai orang lain?

Keyboard warrior dengan segala pemikirannya. Ada yang senang2 kayak gw dan ada yang benar2 merespon dengan sepenuh hati sehingga mampu mengejek orang lain. Apalagi tim sumbu pendek, gampang banget meledak. Dikasih foto nyeleneh sikit langsung meledak tanpa lihat latar belakang tanpa mau mencari tahu berita lengkapnya.

Aissssh…..

Ga ngerti gw…

—————–

Kronologi gw dibilang gila:

Gw komentar ttg berita seorang pedofilia ditangkap di inggris (kali dah tau beritanya). Jujur aja gw cenderung ke iseng drpd beneran mikir. Gw tulis: tolak dia balik ke sini, jangan kasi balik.

Dan this clever, wise-as* woman bilang: hey orang gila, dia pasportnya negara ini, harus balik ke negara ini, tau hulum (sic) imigrasi.

Gw jawab: oke lah gw gila situ waras yang tahu HULUM imigrasi. Kenapa ente personal attack, cuci dulu deh otaknya.

She said: orang gila lo.

Oh wow. Kalo koment gw yang dikut dan simpel kayak gitu bikin dia angot, kayaknya dia harus manjat koment2 sebelumnya yang menurut gw lebih kejam. Mungkin geger otak ni emak

Posted in My thought

Do i hate you?

I did. When i had my emotions and struggled to identify myself. 

Do i hate you now? 

I do not know.

I cursed people when they cut my line. I yelled at people when they caressly behave. But do i hate them? No i don’t think so.

I just try not to cry and depress. I tend to forget everything lately-just like my mom on the end of her life.

I want to remember every beatiful things. Enjoy every moments since one day maybe i will not or can not remember it.

Maybe one day i forget you. I forget how to write or call your name. Maybe i will tell a story about a friend which is you, to you. Maybe i will cursed you and told you about my hatred. Without knowing that you i am talking about.

But, do i hate you now?

I don’t think so. I am busy preparing myself. I do not want to waste my energy. 

I don’t give a damn bout you.

I am busy preparing myself.

To wake up…

To smile

To pretend everything ok

To drag myself on the circuit of life.

Posted in My thought

Out of breathe

Semenjak gw merasakan dan mulai khawatir dengan adanya lump, gw makin concern dan cemas.

Setiap hari gw mulai merasakan nafas gw makin pendek dan tersenggal. Tidak nyaman. Entah karena lump itu atau sekedar kegendutan atau ada masalah lain.

Gw ga tau sampai bisa periksa ke dokter dan itu berarti 2 bulan lagi. Gw yang selalu cemas akan sakit sendirian, semakin cemas dan ketakutan.

Meski orang bilang berfikiran positif akan membantu dalam penyembuhan tapi kondisi gw yang dalam status quo menyulitkan buat berfikir positif.

Bahkan dalam pengambilan keputusan akan masa depan pun gw ga berani. Gw hanya berani berencana untuj hari ini, tidak untuk esok hari.

Gw takut.

Posted in Curhat Colongan, My thought

Pria impianku

Kemarin malam gw mimpi. Mimpi yang menurut gw menyenangkan. Ni kayaknya gara-gara gw kekeringan kasih sayang huahahaha…

which_ryan_gosling_is_your_dream_man_featured_large
it’s not Ryan Gosling though

Seperti biasa gw bangun jam 12-1 malam. Kebiasaan. Cuma buat liat jam dan ganti channel tv, lanjut tidur lagi. Nah tidur fase ke dua ini gw mimpi. Ketemu seorang pria – jangan tana gimana ketemunya, gw ga inget – berkulit sawo matang, rambut hitam rada keriting dan kurus. Sepertinya gw kenal dia. Sepertinya. Dan berhubungan dalam pekerjaan. Sepertinya.

Dan dia jauh lebih muda (hehehehe….)

Ni orang mengajukan lamaran ke gw ala-ala bule gitu, yang nanya ke orangnya bukan langsung ke ortunya. Gw yang dah malas bercinta (huatciiiiih…..) tapi masih pengen dicintai (huahaha) dan ga percaya sama yang namanya jodoh (dah keburu males) ya rada-rada mikir dan ga percaya. Gile bo, anak kecil lamar tante-tante (ehem). Dan tu cowo keukeuh.

Bosen karena dipepet terus, gw bilang supaya dia dateng aja ke wali gw kalo emang serius dan harus menyetujui 3 syarat. Kalo ga mau ya dadah bye bye aja. Secara gw dah ga minat-minat banget buat nikah. Syaratnya gampang: ga ada resepsi mewah, ortu setuju (secara cowo gw yang sekarang, ortunya ga setuju ma gw dan gw ga mau memisahkan anak dengan orang tua) dan satu syarat lagi adalah jangan mengharapkan anak dari gw karena usia gw dah males buat punya anak. Dan tu cowo serius setuju.

Sambil mikir dan liatin tuh anak orang gw berfikir kalo dia serius maka gw bersedia meninggalkan pekerjaan gw dan bersedia hamil dan ngikutin dia. Pengorbanan yang gw anggap besar.

Sial, habis itu kebangun karena menjelang subuh. Seperti biasa gw selalu bangun jam 4 dam tergantung keadaan apakah mata mau merem lagi menunggu subuh atau tetap melotot. Seperti biasa itu juga waktu gw mengosongkan kandung kemih dan usus besar. Beres, tidur lagi. dan mimpi pun tak kembali.

Bangun pagi dengan kepala yang lebih ringan karen sebelumnya gw ditolak (banyak amat yang nolak gw, ga cuma manusia tapi juga peluang jalan-jalan).

Malam ini gw bersiap tidur dan berharap ada kelanjutan dari mimpi kemarin. Apa jadi tuh bocah ngelamar gw?

Apa perlu gw cari di dunia nyata bocah brondong yang lagi ngejar gw….

Entah lah.

Mari kita tidur dan bersiap mimpi indah.

Posted in Curhat Colongan, My thought

Lump (2) – The Anxiety

Minggu pagi.  Baru jam 4. Alarm di hp teriak-teriak membangunkan. Biasanya gw pasang alarm 3x selama Ramadhan kemarin: jam 3 untuk masak nasi dan menghangatkan makanan, jam 3.30 untuk siap-siap makan, dan jam 4 untuk membangunkan seandainya gagal bangun jam 3.30 pagi. Tapi Ramadan sudah lewat, alarm kembali di-setting 1x: 4.00 AM. Seminggu libur lebaran.

Tiga hari pertama diisi dengan menyelesaikan kristik yang ga beres-beres setelah berbulan-bulan. Dua hari terakhir dilakukan dengan memperak-porandakan rumah: tempat tidur tua seukuran king size dibongkar dan diganti dengan tempat tidur single yang dulu dibelikan adik untuk mama. Sampai menjelang akhir hayatnya mama ga pernah tidur di tempat tidur yang layak. Kami tidur di kasur yang digelar di depan tv.

Adik membelikan karena melihat hal itu dan mama tetap memilih mengelar kasur depan tv. Gw belom bisa menyiapkan kamar yang layak karena semenjak pindah, gw ga sempat atau ga mau bongkar barang cepat-cepat dan kami tetap dengan moto kami: tidur depan tv.

Sekarang ruang tamu sudah bersih dari kasur dan sedikit lebih layak. TV dipindahkan ke dalam. Seandainya mama masih ada, beliau pasti ikut pindah ke kamar. Seandainya…..

So pagi ini sambil menarik kembali selimut, gw merasakan hawa sejuk dingin yang bikin malas keluar dari kamar. Hawa sejuk yang hanya dirasakan di Jakarta pada pukul 3 dini hari, tapi disini, kesejukan bisa sampai siang dan bikin enak berlindung dalam selimut. Tapi gw harus bangun. Rindu dengan lontong padang yang dibuat ibu itu di depan RM Simpang Raya. Ibu Padang cuma buka maksimal sampai jam 9 atau bisa jadi lebih cepat tutup, tergantung dagangannya habis atau enggak. Gw ga mau ketinggalan. Ini hari terakhir libur, besok gw cuma bisa lewat dan ga bisa mampir.

Dengan berat hati gw keluar dari balik selimut, ganti baju dan cuuus berangkat. Kalo ada proses yang tertinggal, lupakan saja. Ini hari Minggu, gw ga harus mandi pagi. Menjelang belok ke Ibu Padang, dari jalur depan, satu mobil putih melaju melewati mobil dihadapannya, gw yang berenti memberikan jalur sebelum belok, terpana: kalau memang harus ditabrak, gw pasrah. Ga perduli siapa yang benar dan salah. Toh ga ada gunanya hidup.

Dalam perjalanan pulang gw nangis. Hidup sepertinya meluncur ke bawah. Hidup sendirian, ga punya pasangan apalagi anak, orang tua sudah ga ada, apalagi yang gw pertahankan? hidup gw cuma menunggu kematian. Gw ga tau apakah operasi besok akan membawa gw kekebaikan atau malah memulai fase baru: sebagai nama yang tinggal kenangan atau bertahun-tahun menderita sebagai pejuang kanker. Gw udah menyaksikan bagaimana kanker menyiksa dan merenggut nyawa secara perlahan

Dan gw akan menjalaninya sendirian

Beberapa waktu yang lalu teman gw bercerita bahwa dia bermimpi gw meninggal dan dia menangis terisak sampai dibangunkan. Gw sempat menyebut sekilas bahwa gw memang sakit. Tapi selayaknya orang Indonesia, yang ada gw di-sush untuk tidak berfikir yag tidak-tidak. Dan gw berhenti bicara. Gw ga bisa berbagi dan takut berbagi. Mereka hanya ingin mendengar bahwa semua baik-baik saja padahal gw menjerit sendirian. Gw cuma ingin mereka mendengar dan tidak perlu menilai atau bilang gw baik-baik saja. Karena keadaan gw ga baik. Gw cuma butuh teman bercerita.

Kemarin kembali dia bertanya kenapa gw selalu pasang status tentang kematian. Mengingat dia cuma bisa dan hanya ingin mendengar semua baik, gw jawab karena gw sedang belajar dan baru sampai pada ayat tentang kematian. WTF, kembali gw diceramahi tentang mengkaji ayat seorang diri. Lolos dari hardikan: “lo ngomong apa sih” masuk ke teguran: “lo ngaji dengan setan”.

1338379b01647eb935f0d449108b3c12
Source: pinterest

So I shut up. Close the connection for today. Sejauh ini, teman-teman yang fisiknya berdekatan tidak bisa menjadi kawan. CP sesekali bertanya dan mengingatkan untuk ke dokter, menanyakan kabar dan gw bisa nangis meski cuma lewat kiriman text. Dia ga pernah menilai gw salah, dia akan mengingatkan kalau dianggapnya gw salah pilihan, meski keputusan tetap di masing-masing.

Kami punya sifat yang sama: berkorban apapun buat orang lain tapi ketika diri sendiri sakit, mulai sulit menentukan keputusan. Dia yang menguatkan saat ini dan gw yang berusaha membuka pikirannya waktu CP mengeluh giginya bermasalah dan harus operasi. Seperti gw, dia juga tahu bahwa harus mengambil tindakan medis dan seperti gw juga, dia mengulur untuk cari pembenaran.

Kembali ke kamar, gw menangis. Gw percaya tuhan ada. Gw percaya tuhan akan memanggil gw. Gw percaya tuhan punya caranya. Tapi gw ga percaya apakah gw sanggup melewatinya, Gw ga percaya apakah gw bisa menerimanya. Hidup gw jatuh, karir gw ga ada, sekolah gw gagal, dan gw sakit. Apalagi…

Jangan bilang gw ga bersyukur, karena gw bersyukur tapi gw ga tau apakah gw sanggup menjalani cobaan atau anugrah berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu gw memberikan komentar tentang seorang pria yang meninggalkan surat untuk anak-anaknya dan melakukan bunuh diri. Gw bilang; It is easy to judge people as not a believer or easily give up but actually it is hard for him so he decides to do suicide. So please don’t judge them, they need our help. Banyak yang likes komentar gw dan kayaknya ada juga yang membantah. I don’t care, I just give my sincere opinion. Karena gw tahu, gw seperti bapak itu dan gw ga tahu apakah gw sanggup melewati besok.

137743138705fdabb5fd96186b93c5c6
Source: pinterest

Lump di payudara kanan gw terasa membesar dan mendekati jadwal menstruasi gw, saat payudara mengeras, lump akan makin terasa.

Gw nangis lagi saat menulis ini, tapi gw yakin sebentar lagi gw akan berusaha menikmati setiap detik kehidupan dan berharap tuhan bersabar dan sayang gw. Mengampuni semua kenakalan gw yang mungkin sampe detik ini gw masih kelepasan. Gw ga berharap menikah, gw ga berharap memiliki anak, but being single sometimes suck.

Semoga tuhan mengampuni gw…