Posted in Curhat Colongan

What if i die?

Akhir-akhir ini nafas menjadi sedikit lebih berat. Entah karena lump, entah memang ada gangguan pernafasan lainnya. Entah.

What if i die?

Gw harus mempertanggungjawabkan hidup gw kehadapan tuhan. Tuhan yang belum pernah gw bayangkan. Yang selama ini gw nafikan karena berbagai alasan dan kesombongan. Dan gw pasrah. Karena ga bisa dielakan. Gw percaya itu.

Apa yang terjadi setelah gw meninggal? Berapa lama orang akan mengingat gw? Bagaimana dengan barang2 yang gw tumpuk? Adakah orang lain yang bersedia membagikan dan memanfaatkan? Bagaimana dengan hutang gw, adakah yang bersedia menanggulangi? Adakah yang mendoakan gw? Adakah legacy yang gw tinggalkan?

Atau gw hanya sekedar nama diantara ribuan nama. Sekelebat wajah yang tak bernilai. Sekedar kenangan yang makin mengabur.

Atau nama yang berusaha dilupakan karena memberikan kenangan tang tak menyenangkan. Bisik-bisik tentang keburukan dan kegagalan gw.

Gw ga tahu…

Teman gw baru-baru ini menjadi widower. Seorang teman teasingly menyodorkan gw dan bilang: kalo di kasur tutup aja mukanya.

Gw sedikit terkejut. Is that bad?

I know i am not pretty and i never think myself prettt. I am just feel fine with myself. I hardly look on mirrow since mirrow give me false reflection.

I feel fine looking myself but not others when they see me. So when this man said cover the face when you are in bed, it was hurt me.

At the end it is appearance that more important than brain and attitude. The size of your breast, ass, body, the good looking.

Will they remember me as fat, ugly, old maid? Or cheerful sweet kindhearted girl? Or clever but ill fate old woman?

Never know.

Should i consider those assumptions now? I think i shouldn’t even though it is bugging me right now and make me stay awake and crying.

I just need to clean my house and sort everything so wheb the time come, they know what to do with all of these stuff.

I need to leave some legacies for them so they can make the best use of it. Having no future and limited tine, i need to be well-prepared.

While writing this (and crying), i remember all people that i love, i think i love and concern. Some backstab me, some actually don’t care about me, some are not know me. One or two loves me without knowing me deeply. One or two always reach for me. Some depend on me.

Eventually i just a dust on their mind.

Besides remark about my face, some men love to tease my big butt and breast which i can handle it. And how fat i am.

No more hurt no more mad. Just like when they tease my marital status. They will pity on me if they understand the lump but it will not help me to get adequate respect from them.

Do i need them to respect me?

I do not know.

I am just a big fat, unflattering old maid who love to smile and fun, who love to tease young men or gatal, eat alot, lazy and talk loud.

While i consider myseld as lonely woman with no one around who struggle to wake up and cheer up herself each morning, who try to lost weight by any means, and encourage herself that it is ok being ugly and stupid, who still hoping for unconditional love from someone who could be non exist.

Mimpi itu mungkin akan menjadi kenyataan. Tahun ini.

Posted in Curhat Colongan, My thought

Pria impianku

Kemarin malam gw mimpi. Mimpi yang menurut gw menyenangkan. Ni kayaknya gara-gara gw kekeringan kasih sayang huahahaha…

which_ryan_gosling_is_your_dream_man_featured_large
it’s not Ryan Gosling though

Seperti biasa gw bangun jam 12-1 malam. Kebiasaan. Cuma buat liat jam dan ganti channel tv, lanjut tidur lagi. Nah tidur fase ke dua ini gw mimpi. Ketemu seorang pria – jangan tana gimana ketemunya, gw ga inget – berkulit sawo matang, rambut hitam rada keriting dan kurus. Sepertinya gw kenal dia. Sepertinya. Dan berhubungan dalam pekerjaan. Sepertinya.

Dan dia jauh lebih muda (hehehehe….)

Ni orang mengajukan lamaran ke gw ala-ala bule gitu, yang nanya ke orangnya bukan langsung ke ortunya. Gw yang dah malas bercinta (huatciiiiih…..) tapi masih pengen dicintai (huahaha) dan ga percaya sama yang namanya jodoh (dah keburu males) ya rada-rada mikir dan ga percaya. Gile bo, anak kecil lamar tante-tante (ehem). Dan tu cowo keukeuh.

Bosen karena dipepet terus, gw bilang supaya dia dateng aja ke wali gw kalo emang serius dan harus menyetujui 3 syarat. Kalo ga mau ya dadah bye bye aja. Secara gw dah ga minat-minat banget buat nikah. Syaratnya gampang: ga ada resepsi mewah, ortu setuju (secara cowo gw yang sekarang, ortunya ga setuju ma gw dan gw ga mau memisahkan anak dengan orang tua) dan satu syarat lagi adalah jangan mengharapkan anak dari gw karena usia gw dah males buat punya anak. Dan tu cowo serius setuju.

Sambil mikir dan liatin tuh anak orang gw berfikir kalo dia serius maka gw bersedia meninggalkan pekerjaan gw dan bersedia hamil dan ngikutin dia. Pengorbanan yang gw anggap besar.

Sial, habis itu kebangun karena menjelang subuh. Seperti biasa gw selalu bangun jam 4 dam tergantung keadaan apakah mata mau merem lagi menunggu subuh atau tetap melotot. Seperti biasa itu juga waktu gw mengosongkan kandung kemih dan usus besar. Beres, tidur lagi. dan mimpi pun tak kembali.

Bangun pagi dengan kepala yang lebih ringan karen sebelumnya gw ditolak (banyak amat yang nolak gw, ga cuma manusia tapi juga peluang jalan-jalan).

Malam ini gw bersiap tidur dan berharap ada kelanjutan dari mimpi kemarin. Apa jadi tuh bocah ngelamar gw?

Apa perlu gw cari di dunia nyata bocah brondong yang lagi ngejar gw….

Entah lah.

Mari kita tidur dan bersiap mimpi indah.

Posted in Curhat Colongan

It Sucks

It sucks, saat lo mengalami kegagalan.

Dulu gw suka menyalahkan keadaan atau orang lain. Gw begini karena lo begitu atau karena situasi yang bikin gw kayak gini. Gampangnya aja lah: Gw terlambat masuk karena jalanan penuh dan ada kemacetan parah. Padahal gw bisa memperkirakan waktu yang dibutuhkan buat jalan dan ga ambil waktu mepet tapi ya gitu, gw tipe karet meski sekarang ga terlalu ngaret.

Nah, kemarin gw mengalami penolakan. 2x. Pada hari yang sama. Sakit hati? jelaaaaas. Apalagi tipe gw yang punya keyakinan tinggi akan kemampuan gw. Meski jujur aja, gw sebenernya bego huahahahahahaha…… eh tapi bener, gw yakin kalo gw udah berbuat semaksimal mungkin. Dalam 2 hari.

Huaaaah….

dan sekarang gw menyesal. Apa dua hari itu cukup buat menuliskan abstrak yang kurang dari 250 kata dan sebuah aplikasi training yang ga lebih dari 1000 kata. Kesal, sedih dan marah.

Tapi seperti penyesalan terlambat karena macet dan berangkat mepet, gw harus terima resiko. Menyedihkan. Tapi saat ini gw tidak lagi menyalahkan keadaan namun diri sendiri. Seandainya gw lebih mempersiapkan diri….

Meski jujur aja, orang kayak gw ga bakalan akan pernah merasa sempurna dan selalu menunda mengerjakan sesuatu sampai kepepet. Bukan karena malas, bukan karena merasa sok jago seperti (harapan) dugaan gw diatas tapi karena gw tau I am not the sharpest knife in the drawer.

Oh well…. mo nangis juga susah. Lagi rame orang..

Nasiiiiiib… nasib… Nasib akibat jalan yang gw pilih…

ya sudahlah…

Posted in Curhat Colongan, My thought

Lump (2) – The Anxiety

Minggu pagi.  Baru jam 4. Alarm di hp teriak-teriak membangunkan. Biasanya gw pasang alarm 3x selama Ramadhan kemarin: jam 3 untuk masak nasi dan menghangatkan makanan, jam 3.30 untuk siap-siap makan, dan jam 4 untuk membangunkan seandainya gagal bangun jam 3.30 pagi. Tapi Ramadan sudah lewat, alarm kembali di-setting 1x: 4.00 AM. Seminggu libur lebaran.

Tiga hari pertama diisi dengan menyelesaikan kristik yang ga beres-beres setelah berbulan-bulan. Dua hari terakhir dilakukan dengan memperak-porandakan rumah: tempat tidur tua seukuran king size dibongkar dan diganti dengan tempat tidur single yang dulu dibelikan adik untuk mama. Sampai menjelang akhir hayatnya mama ga pernah tidur di tempat tidur yang layak. Kami tidur di kasur yang digelar di depan tv.

Adik membelikan karena melihat hal itu dan mama tetap memilih mengelar kasur depan tv. Gw belom bisa menyiapkan kamar yang layak karena semenjak pindah, gw ga sempat atau ga mau bongkar barang cepat-cepat dan kami tetap dengan moto kami: tidur depan tv.

Sekarang ruang tamu sudah bersih dari kasur dan sedikit lebih layak. TV dipindahkan ke dalam. Seandainya mama masih ada, beliau pasti ikut pindah ke kamar. Seandainya…..

So pagi ini sambil menarik kembali selimut, gw merasakan hawa sejuk dingin yang bikin malas keluar dari kamar. Hawa sejuk yang hanya dirasakan di Jakarta pada pukul 3 dini hari, tapi disini, kesejukan bisa sampai siang dan bikin enak berlindung dalam selimut. Tapi gw harus bangun. Rindu dengan lontong padang yang dibuat ibu itu di depan RM Simpang Raya. Ibu Padang cuma buka maksimal sampai jam 9 atau bisa jadi lebih cepat tutup, tergantung dagangannya habis atau enggak. Gw ga mau ketinggalan. Ini hari terakhir libur, besok gw cuma bisa lewat dan ga bisa mampir.

Dengan berat hati gw keluar dari balik selimut, ganti baju dan cuuus berangkat. Kalo ada proses yang tertinggal, lupakan saja. Ini hari Minggu, gw ga harus mandi pagi. Menjelang belok ke Ibu Padang, dari jalur depan, satu mobil putih melaju melewati mobil dihadapannya, gw yang berenti memberikan jalur sebelum belok, terpana: kalau memang harus ditabrak, gw pasrah. Ga perduli siapa yang benar dan salah. Toh ga ada gunanya hidup.

Dalam perjalanan pulang gw nangis. Hidup sepertinya meluncur ke bawah. Hidup sendirian, ga punya pasangan apalagi anak, orang tua sudah ga ada, apalagi yang gw pertahankan? hidup gw cuma menunggu kematian. Gw ga tau apakah operasi besok akan membawa gw kekebaikan atau malah memulai fase baru: sebagai nama yang tinggal kenangan atau bertahun-tahun menderita sebagai pejuang kanker. Gw udah menyaksikan bagaimana kanker menyiksa dan merenggut nyawa secara perlahan

Dan gw akan menjalaninya sendirian

Beberapa waktu yang lalu teman gw bercerita bahwa dia bermimpi gw meninggal dan dia menangis terisak sampai dibangunkan. Gw sempat menyebut sekilas bahwa gw memang sakit. Tapi selayaknya orang Indonesia, yang ada gw di-sush untuk tidak berfikir yag tidak-tidak. Dan gw berhenti bicara. Gw ga bisa berbagi dan takut berbagi. Mereka hanya ingin mendengar bahwa semua baik-baik saja padahal gw menjerit sendirian. Gw cuma ingin mereka mendengar dan tidak perlu menilai atau bilang gw baik-baik saja. Karena keadaan gw ga baik. Gw cuma butuh teman bercerita.

Kemarin kembali dia bertanya kenapa gw selalu pasang status tentang kematian. Mengingat dia cuma bisa dan hanya ingin mendengar semua baik, gw jawab karena gw sedang belajar dan baru sampai pada ayat tentang kematian. WTF, kembali gw diceramahi tentang mengkaji ayat seorang diri. Lolos dari hardikan: “lo ngomong apa sih” masuk ke teguran: “lo ngaji dengan setan”.

1338379b01647eb935f0d449108b3c12
Source: pinterest

So I shut up. Close the connection for today. Sejauh ini, teman-teman yang fisiknya berdekatan tidak bisa menjadi kawan. CP sesekali bertanya dan mengingatkan untuk ke dokter, menanyakan kabar dan gw bisa nangis meski cuma lewat kiriman text. Dia ga pernah menilai gw salah, dia akan mengingatkan kalau dianggapnya gw salah pilihan, meski keputusan tetap di masing-masing.

Kami punya sifat yang sama: berkorban apapun buat orang lain tapi ketika diri sendiri sakit, mulai sulit menentukan keputusan. Dia yang menguatkan saat ini dan gw yang berusaha membuka pikirannya waktu CP mengeluh giginya bermasalah dan harus operasi. Seperti gw, dia juga tahu bahwa harus mengambil tindakan medis dan seperti gw juga, dia mengulur untuk cari pembenaran.

Kembali ke kamar, gw menangis. Gw percaya tuhan ada. Gw percaya tuhan akan memanggil gw. Gw percaya tuhan punya caranya. Tapi gw ga percaya apakah gw sanggup melewatinya, Gw ga percaya apakah gw bisa menerimanya. Hidup gw jatuh, karir gw ga ada, sekolah gw gagal, dan gw sakit. Apalagi…

Jangan bilang gw ga bersyukur, karena gw bersyukur tapi gw ga tau apakah gw sanggup menjalani cobaan atau anugrah berikutnya.

Beberapa waktu yang lalu gw memberikan komentar tentang seorang pria yang meninggalkan surat untuk anak-anaknya dan melakukan bunuh diri. Gw bilang; It is easy to judge people as not a believer or easily give up but actually it is hard for him so he decides to do suicide. So please don’t judge them, they need our help. Banyak yang likes komentar gw dan kayaknya ada juga yang membantah. I don’t care, I just give my sincere opinion. Karena gw tahu, gw seperti bapak itu dan gw ga tahu apakah gw sanggup melewati besok.

137743138705fdabb5fd96186b93c5c6
Source: pinterest

Lump di payudara kanan gw terasa membesar dan mendekati jadwal menstruasi gw, saat payudara mengeras, lump akan makin terasa.

Gw nangis lagi saat menulis ini, tapi gw yakin sebentar lagi gw akan berusaha menikmati setiap detik kehidupan dan berharap tuhan bersabar dan sayang gw. Mengampuni semua kenakalan gw yang mungkin sampe detik ini gw masih kelepasan. Gw ga berharap menikah, gw ga berharap memiliki anak, but being single sometimes suck.

Semoga tuhan mengampuni gw…

Posted in Curhat Colongan, Pengalaman

Lump (1)

Gw pagi ini malas pergi ke kantor. Gara-garanya sih bakal ada upacara dan sebagai pengecut pemberani, gw memutuskan ga berangkat. Tapi buat ga berangkat harus ada alasan dan memang beberapa hari ini gw merasa sakit.

Diare mulai tadi malam

Perut mulai perih.

Mungkin karena puasa dan gw jarang iftar dengan makanan full, cukup teh dan sepotong cemilan. Beres.

Tapi sakitnya kok makin menjadi. Ga cuma sekedar perih yang biasa. Harus ke dokter nih. Tapi kalau cuma ke dokter buat periksa perut ga usum deh. Ga asik. Mari kita koleksi penyakit lainnya: Nyeri di ulu hati, diare, panas dingin dan oh ya, lump di dada kanan.

Sebenarnya dah setahun sih, dulu kecil sekarang membesar. Dulu sih berharap bisa operasi tahun ini, namun salah satu saudara bilang: aaah palingan cuma benjolan biasa. Well, sepertinya ini luar biasa.

Dokter yang memeriksa menatap dengan takjub sedang gw malu-malu. “periksa ya.., dirujuk ke rumah sakit”. Aiyoooh serius ni. Memang harus dilakukan biopsi mau ga mau. Meski ga dirasa mengganggu tapi kemunculan bola asing ini memang harus segera ditndaklanjuti.

Bargain lah gw. Secara tahun lalu, gue dah siap-siap berangkat terpaksa batal karena operasi usus buntu. Masak tahun ini harus masuk meja operasi dan batal lagi. hadeeeh….

Posted in Curhat Colongan, My thought

Teman. Friend. Hoa

Seorang teman menulis tentang “kegelisahannya” mengenai perilaku orang yang berbicara dibelakang. Well, dia ada masalah dan hampir semia orang tahu. Ko juga tahu.

Ko bisa mengerti perasaannya. Saat sendirian menghadapi masalah dan tak tahu harus berbuat apa, butuh seseorang untuk mendengarkan dan berbagi cerita. Rasanya dunia gelap dan buntu.

Bicaralah pada tuhan. Katanya.

Mungkin saya kurang berbicara dan bercengkrama pada tuhan, seperti kata mereka. Memohon dan berharap pada kebaikan tuhan tanpa berjuang adalah sia-sia dan Ko merasakan berusaha untuk bangun dan melangkah setiap hari, setiap jam, setiap detik, sangat…sangat…sangat susah. Apalagi sendirian.

Dan itu salah satu penyebab dari berbagai macam kegagalan yang dampaknya sampai sekarang masih dirasakan. Masih ada sisa. Malah mungkin begitu kembali ke Indonesia, muncul masalah baru yang harus disembunyikan dalam senyum kepura-puraan.

Anyway, dulu saat Ko susah dan terpuruk di negara orang, ada beberapa orang yang mendekat dan menjadikan Ko teman, secara tidak sengaja. Menjadikan Ko aman dan terlindungi. Kemudian mereka menyusut karena kesibukan namun tidak melupakan. Tertinggal 1-2 orang yang saling berkirim kabar dan menguatkan.

Tidak menilai, tidak men-judge, mengingatkan, mentertawakan kebodohan masing-masing. Cerita yang ga pernah habis.

Menurut KO, mereka adalah teman. Kami berani bercerita tentang rahasia terdalam, semua kesedihan dan kegembiraan tanpa takut akan ada issue dibelakangnya atau kemarahan yang timbul.

Tapi kemewahan itu terasa dicabut ketika kembali kesini. Hingga sekarang Ko ga merasa punya teman. Teman berbagi dan saling menguatkan. Seseorang yang selama ini dianggap cukup dekat dan bisa menjadi tempat curahan hati malah memarahi Ko ketika Ko mulai bercerita tentang kecemasan. (Yes, I have anxiety)

“Gw ga suka kalo lo mulai gitu. Lo harusnya kuat. Lo selalu dengerin cerita gue tapi lo ga pernah cerita seperti gw cerita….

Dan ko terdiam. Ga berani meneruskan pembicaraan.

Ada lagi yang bereaksi lain. Menyalahkan. “kamu sih terlalu sensitif. Orang cuma gitu aja. Orang lain aja ga papa. Kamunya aja yang cengeng”

Oh well, Ko memang sensitif sejak dulu. Kalau ada yang bilang rupa Ko jelek, maka seumur hidup stigma itu tertinggal. Lebay? jangan ikut-ikutan deh menyalahkan Ko.

Makin menarik diri. Makin takut untuk membuka diri. Dan ini menambah beban.

Jadi, ketika seorang bilang: “Yok ikut aja acara kumpul-kumpul, Mas J teman Ko kok, jangan takut sendirian”

Ko terpana. Tau ga sih kenapa dari dulu gw ga mau kumpul terutama dengan Mas J? karena dia pencemooh dan Ko tidak sanggup berhadapan dengan seseorang yang mudah mencemooh.

I keep myself friendly just to keep some space from others.

Being near someone it does not mean you are a friend. No no no…

cc7a8bbb6120bc86831b192b1dc458f8

Teman ga perlu menilai. Teman ga perlu ikut-ikutan berlaku bodoh. Teman adalah seseorang yang menjaga kita dari keterpurukan dan menemani saat jatuh terpuruk. Tidak mencemooh saat kita tergelincir atau merasa tergelincir, yang mengulurkan tangan saat kita terjatuh kemudian mentertawakan bersama kebodohan yang dilakukan.

c605ef2bb92f595928550165198768d7

Teman adalah yang sms atau telepon kita saat lama tak bersua hanya untuk bilang: oooooi….. memastikan kita hidup dan tidak jatuh dalam kesendirian. Yang akan membiarkan kita menggila sesaat dan menarik kembali untuk bilang: have you done?

640baee28d0c5cf97303f1cda5214dbe

However, If I am being nice and supportive to you, it does not mean I am your friend. I just treat you as a human being even though I know you treat me like a garbage.

Posted in Curhat Colongan, My thought

It is a no-no untuk Single Baper

Nah nah nah… Jadi single itu punya masalah sendiri apalagi kalo yang baperan kayak gw. Jujur aja, gw baperan apalagi menjelang menstruasi: tingkat baper meningkat berkali-kali lipat.

Mulai dari baper yang tingkat rendah sampe baper yang tingkat tinggi dengan meraung-raung. Apalagi pas masa PMS, tingkat kebaperan tau-tau melonjak.

Nah masalahnya kan karena kita (ciyeeee… kita….) perempuan, doyan dong sama yang manis-manis, unyu, penuh pengharapan. Kayak nonton itu tuh “Say Yes to The Dress”. Itu acara tentang pencarian baju nikah yang ideal atau yang dicari para calon pengantin. Mereka mencoba berbagai baju, mendapatkan masukan dan membeli baju yang sesuai atau pulang dengan tangan hampa untuk mencari baju lain yang dirasa sempurna.

Menyaksikan mereka menangis bahagia karena menemukan baju yang sempurna itu bikin baper tingkat dewa. Karena gw tau gw ga akan bisa memakai baju indah atau berada dalam upacara penyatuan dua manusia.

Eh tapi gw tetep terus nonton sambil baper juga sih wkwkwkwk

Mana TLC siarinnya maraton lagi. Hadeeeh….

800
Source: The Onion

Terus dilanjut dengan Bride gone wild  dan the Big Day. Hadoh…hadoh… skala baper melonjak.

Eh tapi gw tetep terus nonton sambil siapin tissue dan ngutuk-ngutuk tapi iri. Campur aduk perasaan

Memang seharusnya single baperan ga boleh nonton acara-acara kayak gini.

Satu lagi yang bikin baperan adalah nonton channel food. Hadooooh… makanan dan masakan. Enaaaaak dan bikin lapar. Juga bikin baper. Lah mo masak, buat siapa? juga pasti butuh efforts yang banyak tanpa ada yang makan.

Mo kasih tetangga? tetangga gw cuma 1. Agak kurang memuaskan juga. Hadeeeeh.

8441725e94b3095e75b6de5d426479ca
Source: Instagram

Baper… baper… baper… laper….

Ga baik kayaknya kalo si single baperan nonton kayak ginian.

Baca chicklit juga bikin gw baper. Tuh buku-buku dah lama ga masuk dalam daftar pustaka gw. Ga sangguuuup liat wanita-wanita itu mendapatkan keinginan mereka sedang gw masih kejar-kejaran mencari cinta dan ga pernah tertangkap.

iriiiiii…….

Nonton film drama romantis satu lagi siksaan. Ish.. ish…ish…. Malah lebih banyak nangis dan bapernya. Rasanya sakiiiiit banget pas diakhir cerita pasangan itu mendapatkan kebahagiaan.

Gw kapaaaaann????

Bapernya si single yang baperan emang dasyat….

4a277054f1ebed5dfc57ac7ae2ecb654
Source : Instagram