Blog

Posted in Uncategorized

So, every day, once i arrived home, i am thinking what i’ve done today. Most of it is regrets.

Then i depressed, then allergic come. Fall asleep with guilty feeling.

It does not mean i did something wrong, it just a feeling that i did not enough or too happy or too selfish. Or too obvious or too stupid… Which might other people think it is casual for me.

How to stop the feeling of quilt for doing my own daily normal things? I feel so under achieve in every way

Advertisements
Posted in My thought

Perjalanan gw….

Lagi rame artis yang buka jilbab. Padahal dia dibayar untuk jadi pemandu acara jalan-jalan karena salah satu alasannya adalah dia pemakai jilbab. Tampaknya dari hasil perjalanannya keliling-keliling dunia itu, dia memaknai sesuatu yang baru. Pandangan baru yang berbeda dari yang biasa dia lihat. Memaknainya dengan hal cara yang berbeda.

Ibarat kata, ada aksi ada reaksi. Aksinya satu tapi reaksiya bisa beda. Bisa melenting ke kanan, ke kiri, atas, bawah, muter atau bahkan melesak ke dalam. Ga ada yang bisa memperkirakan. Bahkan bisa bikin kaget.

==================================

Jujur aja, gw mengalami apa yang dialami sang artis. Pernah mengalami. Dan masih belajar memahami. Meski, jujur juga, gw ga paham alasan sebenarnya dari sang artis tapi gw kira, kami ga jauh berbeda.

Begini ceritanya:

———————————————————-

Dari dulu gw ga terlalu dekat dengan agama. Bego banget. Ngaji aja patah-patah ga lancar. Pandangan orang terhadap manusia kayak gw nih kayak melihat pendosa. Dan itu salah satu yang mendorong gw buat tidak bersentuhan dengan agama. Begitu baca kitab suci berbahasa arab dengan kalimat patah, gw takut mereka akan memandang gw buruk. Menghancurkan ilusi gw akan kesempurnaan. Well, sorry if I was  always pushing myself to be in top and be a better one.

Salah satu yang masih gw inget adalah when they pushed me aside since I was not that keen to religion. Mereka membedakan gw karena gw ga berkerudung. Gadis-gadis berkerudung itu membentuk satu kelompok, saat kuliah, ga mau baur, ga senyum dan selalu menjaga jarak dengan non kerudung. (Meski kadang gw bersyukur juga, jadi ga terlibat acara2 yang memberikan paham yang digeser buat salah). Beberapa wanita berkerudung yang waktu itu gw kenal malah lebih parah dari gw yang masih suka kabur buat nonton film atau nongkrong di mall karena ga inget pulang cepat dan bertemu dengan induk semang tempat gw tinggal sementara.

Kami, perempuan tak bekerudung pernah diteriaki dan dimarahi sebagai kafir. Rambut teman gw yang kebetulan berwarna pirang (dari sononya) dituduh sebagai wanita yang tidak menghargai ciptaan tuhan. Gw lupa bawa kitab suci saat kuliah agama karena sehari sebelumnya itu ganti tas. Biasanya tuh kitab suci ada terus dalam tas. Sakit hati. Gw sebenernya pengen terbang dari kelas daripada mendengar teriakan mengkafirkan.

Teman gw yang diteriakin sebagai perusak ciptaan tuhan di kemudian hari menggunakan jilbab lebar (sampai sekarang), sedang gw……

So gw lulus dan wisuda dengan rambut berkonde tebal.

Saat diterima kerja, gw pikir sudah saatnya gw kembali ke tuhan. Lupakan teriakan kafir, lupakan diskriminasi saat training (gw dan yang ga berjilbab lainnya – terlepas dari agamanya apa- diusir supaya baris dibelakang dan wanita berjilbab didepan). Gw pikir, saatnya belajar beragama yang baik. So gw berjilbab. gw bilang, pake kerudung.

Gw berkerudung supaya lebih baik. Gw ga perduli dengan pujian “makin cantik pakai jilbab”. Enggak. Gw ga cantik. Meski memang jilbab menutupi pipi gembil gw. Gw pakai karena gw mau. Beberapa orang mungkin jujur. Mereka bilang gw kayak TKW. Well, muka gw muka ndeso. Yang kalo ke mall orang akan mendatangi gw buat nawarin pemutih dan pencerah muka, mereka ga akan nawarin mobil atau apartemen. Mereka tau: muka ndeso ga akan mampu beli mobil, jadi ga usah ditawarin. Malah ada kejadian di bandara internasional negeri ini gw dihardik buat baris diantrian TKW sampai gw mengeluarkan buku sakti dan masuk ke jalur antrian diplomat.

Berapa tahun ya gw pakai kerudung? Lumayan lama lah. Foto2 berkerudung gw masih ada dan masih terpajang. Sampai suatu hari gw sakit dan ga bisa menolong diri sendiri, jauh di negara orang.

Seorang wanita berkalung salib memegang tangan gw. Berdoa kepada tuhannya untuk melindungi gw dan supaya operasi berhasil. “you pray to your god while me will pray according my religion”. She closed her eyes and praying while i looked at her, observe her praying. No one came to see me, where were you, my sisters from the same religion?

and no one came days, months after the surgery while others with cross on their neck visited me and made sura I ate, cleaned, and kept sane…..

Kalau ada yang bilang itu cara mereka untuk convert gw, maka cara mereka berhasil. Saudara seiman ga ada yang datang.

Butuh beberapa waktu untuk menelan kesedihan. Kemana mereka yang berjamaah dalam shalat dan pengajian saat gw terpuruk? Orang yang memeluk gw saat nangis adalah si atheis, orang yang memasakan makanan buat gw selama sakit adalah si kristen.

Pernah gw tanya dan salah satunya menjawab: kami sibuk kuliah.

Apakah semua itu bikin gw convert? Engga. Gw cuma kecewa. Kecewa dengan saudara seiman gw. Kecewa dengan jilbab gw yang ga merekatkan. Kecewa pada keadaan.

dan gw memutuskan buat berhenti, memulai mencari, menata pemikiran yang rasis dan diskriminatif, dan belajar mencintai tuhan tanpa melihat manusia pemeluknya.

Gw tidak lagi mengenakan jilbab.

Well, gw tidak “seberuntung” artis itu. Ga ada yang bener2 menyerang gw. Cuma ada bisik2 gw terpengaruh pemikiran barat yang tak bertuhan. Mungkin ada benarnya. Ada pemikiran baru yang gw dapat. Pemikiran bahwa agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Bahwa memberi dan menerima pertolongan adalah baik ke sesama mahluk hidup tanpa melihat siapa dia, agamanya, jenis kelaminnya, kekayaannya.

Gw masih belum berkerudung. Gw sedang belajar mencintai tuhan tanpa melihat pemeluknya. Yang gw pelajari dulu adalah pukulan hebat karena berkaca kepada manusianya tapi tidak pada ajaranNya.

Berjilbab bukan sekedar identitas. Jilbab adalah penyerahan jiwa pada aturan yang mengikat meski bukan berarti tidak berjilbab bisa melanggar aturannya. Ga ada alasan bahwa meski berjilbab bukan berarti menjadi manusia suci. Saat berjilbab, sudah selayaknya tidak lagi berlaku jahat, tidak lagi berperilaku tidak senonoh. Menjadi manusia yang lebih baik.

Dan gw ingin mencapai itu. Dengan kembali belajar dan memaknai. Dengan kembali berendah hati dan tidak pongah menjadi yang lebih baik dengan berjilbab. Perjalanan gw masih panjang. Gw mohon ampun untuk itu.

===================================

Gimana dengan sang artis? gw ga tau pergulatan dan kekecewaannya. Namun gw menduga, dia seperti gw: kecewa terhadap pengikut bukan kecewa pada agama dan tuhan.

Gw kira, dia akan belajar untuk memaknai. Seperti gw berusaha memaknai. Meski gw ga tahu apa reaksinya terhadap makna baru yang dia serap. Semoga “kemarahannya” segera mereda. Dan ada orang seiman yang bersedia mengulurkan tangan untuk menemani dan membantunya memahami.

Gw ga ada. Gw sendirian tapi gw memutuskan untuk tidak berpaling. Gw hanya belajar menghadapkan muka kepada sang Khalik dan belajar tunduk.

Tuhan itu ada. selalu ada. Menemani kita, memberikan rahmat kepada kita. Hanya kita yang sombong dan angkuh merasa paling layak duduk dalam kebahagian surga janji hadiah kebaikan dan ketaatan.

Semoga ada kesempatan kedua buat sang artis dan buat gw.

Jangan tinggalkan dan hina kami yang sedang berusaha belajar. Jangan bikin berpaling seperti saat sang dosen teriak ke kami: Kafir kamu! karena kami tidak bawa kitab suci.

Gw yakin, diantara manusia berkerudung, ada yang ga lebih baik dari gw dan sang artis. Gw ga berani menilai dia pendosa atau enggak. Biarkan tuhan yang menilai.

===============================

 

 

Posted in Uncategorized

I don’t believe the herb medication but look at me now…. pouring myself with this oily thing made from the fruit of certain species.

Hoping it works and the tumor disappear

Posted in My thought

being single

Gara-garanya tukang sayur yang menawarkan dagangannya dan gw cuma pilih 2 bungkus bukan 5 bungkus yang dia tawarkan. “30 ribu aja bu” murah (berarti 6000 sebungkus). “ga mau, 2 aja”. Bungkis bungkus, bayar 15 ribu untuk 2 jenis belanjaan.

Berikutnya ternyata ibu tetangga belanja dan sempat meneriaki gw seolah-olah gw gila: “ko, ini 15 ribu loh 3, kenapa cuma beli 2, lebih mahal” dan gw jawab dengan sedikit tersinggung: “saya butuh 2 dan mau hanya 2”.

“Beli aja lagi, simpen buat kapan-kapan”

“enggak, saya cuma mau dua. Buat apa beli banyak-banyak tapi mubazir. Kecuali ada yang mau makan, baru beli banyak”

Sambil menutup pintu dan berusaha untuk tidak memperdulikan.

Yang ga ibu itu tahu si abang kasih diskon 1000 ke saya untuk setiap 1


Ibu itu udah beberapa kali mengotak-atik nerve gw dengan mempertanyakan keputusan gw. Mungkin semua keputusan gw terlalu aneh bagi pemahaman umum. Beberapa kali gw harus terseret-seret karena si ibu memaksa untuk nebeng dalam segala kegiatan.

Orang dengan kepercayaan diri rendah dan kemampuan rendah namun memiliki daya hisap yang kuat itu sangat melelahkan.


Being single, disamping semua kemewahan dan kemudahan, pasti dong ada kesulitan. Dan orang-orang paling gampang menunjukan kerugian being single. Bikin riwet hidup gw.

Beberapa kali gw menangis karena keinginan dasar sebagai manusia terhambat: keinginan untuk memiliki keturunan. Melihat dinamika ibu dan anak sangat menyakitkan, melihat anak terbuang bikin perih hati, melihat anak berlari dan menangis meminta perlindungan kepada ibunya sangat bikin hati sedih. paling sebel

Menyadari bahwa gw ga akan bisa menyayangi, membentuk dan melihat keturunan gw tuh rasanya nyesss… sakit.

Apalagi kalau sudah ditertawakan atau disindir tentang status dan usia yang semakin bertambah. Makin sulit dapat jodoh katanya, makin sulit dapat anak, makin ga ada rasanya.

Terlepas dari semua sindiran dan kesedihan, sebenarnya ada juga terselip rasa syukur. Rasa syukur karena gw ga nambah populasi manusia di muka bumi. Bersyukur karena gw terlepas dari beban pikiran akan kualitas generasi baru yang berasal dari perut gw. Bersyukur karena gw tidak mengalami masalah yang mungkin dan bisa jadi ditimbulkan oleh penyatuan dua manusia.

Well, ngaku aja sih gw kalo kemarin malam gw nangis karena merasa gagal sebagai anak untuk meneruskan keturunan bagi keluarga besar gw. Maafkan saya, bapak dan ibu.

Posted in Uncategorized

I never have experience of having a baby. Feel a little creature coming out from my body. Crying for the first time holding a baby, smooth and weak. And feel love.

Never know how desperate and tired yet happy and proud.

I give up to find love of my life