Posted in Curhat Colongan, tumor

Perjalanan sejauh ini: Sebulan sejak operasi

Sudah sebulan sejak operasi dan sampai hari ini gw belum dapat hasil PA dari rumah sakit. Gelisah? Takut? Bingung?

Tapi ga ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu dan pasrah.

Gw makin ga berani melihat ke bekas operasi tapi kadang saat berpakaian, gw bisa melihat pantulan dari cermin. Bekas luka memanjang dengan warna kecoklatan, sedikit warna gelap di sekitar. Gw ga merasakan lagi ada benda keras didalam dada. Kadang gatal, kadang sakit terutama saat kedinginan dan menjelang menstruasi.

Sialnya, pada saat yang hampir bersamaan alergi gw kambuh. Alergi yang baru gw tahu dan sadari setelah bertahun-tahun hidup. Yup… eczema. Dokter cuma bilang untuk menghindari stress dan mengetahui apa pencetusnya. Bisa aja makanan, udara, debu, tungau…. Sampai sekarang gw ga tahu apa pencetusnya selain lembab, panas, keringat dan abu.

Ga pakai pelembab, kulitnya kering banget dan gatel. Pakai pelembab, gatal dan bikin luka. Kepanasan dan debu bikin gatal. Ditambah dengan ga sadar untuk menahan diri buat ga garuk.

Berobat ke dokter cuma dikasih salep yang ga mempan. Gw cuma ingin jangan gatal sehingga ga menambah luka dan sejauh ini gagal. Sekarang setiap gatal gw jadi ketakutan. Takut kalau menyebar dan ga sembuh.

Nasib….

Advertisements
Posted in My thought

Hari Pertama…! (kerja)

Hari ini adalah hari pertama masuk kerja setelah libur panjang, cuti bersama hari raya. Sebenernya sih ini hari biasa aja, kecuali kalau salam-salaman dengan kawan mau dianggap pembeda tapi buat gw hari ini berbeda.

Apa yang berbeda?

Gw ga terlalu semangat menyambut hari. Gw malas membayangkan orang yang menanyakan sakit apa dan kemana aja. Gw malas menjelaskan orang yang merasa tahu gw kemana aja. Gw malas berbasa basi. Satu-satunya alasan yang mengingatkan gw untuk bangun adalah mungkin hari ini adalah hari terakhir gw. Mungkin besok gw ga bisa bangun dan bertemu orang atau menikmati hari.

Seolah hari ini adalah pembatas semuanya. Hari ini adalah awal babak baru. Babak yang lebih menahan diri, kembali mengingat fitrah dan tidak lagi berambisi. Lebih tenang. Sanggupkah gw?

Entah. Karena gw ga sanggup menunggu. Gw ga punya kekuatan untuk menunggu.

As I said to him: I start releasing everything. I release you, cut the tie between us so you will not sad and remember only a loving healthy me (which I think you will not understand what I mean).

I can hear your voice between my sobbing. You said: “I thought you will be happy to meet me” before put the phone down.

I do… i do.. I do…

Image result for sad

Posted in My thought

Slow down….

Semenjak gw sakit kemudian dirawat dan keluar dari rumah sakit, gw bisa dibilang ga terima tamu. Agak sulit buat cerita, berbagi susah dan menerima iba dari orang. Setelah dua mingguan gw rada tenang dan mencoba menikmati hari.

Kalau umur lo memang sudah terjatah, daripada menunggu dan mempertanyakan kapan datangnya ajal, mungkin lebih baik kalau menikmati aja. Asal jangan tambah parah hehehe….

So, gw mulai keluar rumah meski sambil harus sedikit menekan dada biar ga goyang dan perih. Cari makan, olahraga jalan di lapangan brimob yang bikin kulit gw makin hitam eh eksotis, pergi creambath dan diurut. Bawa motor sendiri dan kadang mengurangi ngomel di jalan karena macet. Gila bener, libur lebaran bikin macet dimana-mana.

Dan menerima dua orang tamu. Tamu pertama mungkin work-related as i saw it. Bincang-bincang dengan sedikit muatan politik kantor. Karena gw berada di pinggir sistem maka gw lwbih mudah melihatnya dari kacamata penonton, bukan kacamata pelaku dan itu sedikit menyenangkan. Kalau jadi pelaku, lebih sulit dan harus menimbang berbagai aspek yang hanya diketahui dalam sistem. Seperti biasa, penonton selalu lebih (merasa) cerdas.

Tamu kedua adalah seorang teman kerja yang gw ijinkan untuk datang. Bertukar cerita tanpa gosip. Dan jujur aja, dari kedua tamu yang datang gw lebih pada posisi yang mendengarkan. Salah satu keahlian gw. Meski kadang gw ingin menyela dan didengarkan tapi kadang berada pada posisi yang mendengarkan itu lebih aman.

Dunia tetap dan terus berputar selama gw off dari dunia kerja. Matahari tetap terbit dari timur dan terbenam di barat. Pengunjung tetap datang berkunjung menikmati kebun dan orang-orang sekeliling gw semakin maju. Sedang gw? tetap terpuruk dalam perjuangan mencari jati diri, keahlian, kepandaian dan kesehatan yang nyata.

Kedatangan kedua tamu itu mengingatkan gw bahwa masa gw udah lewat. Gw dah ga sanggup lagi bertahan pada fisik. Kemungkinan kemo dan masek masih membayangi. Kalaupun kedua hal itu tidak terjadi, trauma akan kemungkinan tumor dan kanker akan selalu ada. Meski gw kira intelegensi gw yang ga seberapa akan tetap ada.

Karir gw mulai mendatar dan menurun. Sulit bertahan sepertinya. Gw ga akan bisa berpacu lagi di 100 km per jam. Gw cuma bisa tertatih sekarang. Saatnya slowing down. Saatnya mulai menunduk dan menonton.

Posted in Kuliner, Pengalaman

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Ini Idul Fitri ketiga gw tanpa orang tua, sebagai yatim piatu. Rasanya berbeda ketika orang tua masih ada tapi gw ga bisa pulang dengan orang tua sudah wafat. Rasanya kosong.

Note: gw sedang bulanan dan mood cengeng lebih mendominasi.

Shalat Idul Fitri kali ini (dan sepertinya akan jadi langganan, kalau masih ada jatah umur) bertempat di halaman restoran Rindu Alam Taman. Lapangan parkirnya luas dan tepat di tepi jalan. Jadi ga susah cari parkir. Menurut gw, prosesi ibadahnya (shalat, berdoa dan ceramahnya) bisa khusyu meski di tepi jalan propinsi yang menghubungkan dua kota. Tikar dan karpet sajadah disediakan sehingga tidak perlu khawatir tentang ga dapat tempat, meski gw sedia kertas koran, jaga-jaga kalau ga dapat tempat (berangkat jam 5.45, tempat masih kosong. Shalat Id start jam 6.30)

Salah satu kejutan yang menarik saat pertama kali gw shalat Id disini adalah sajian lontong Padang setelah shalat. Pemiliknya menyediakan sajian dan pegawainya melayani jamaah peserta shalat Id. Tadi sepertinya ada 100 orang lebih dan makanan tersedia melimpah. Minuman kopi, teh dan air putih tersedia.

Buat gw, ini adalah blessing. Gw ga pernah bikin ketupat karena ga akan ada yang makan dan kalaupun ada yang makan cuma gw sendirian. Ngabisin 4 buah ketupat aja bisa berhari-hari bahkan pernah terbuang. Lebaran tanpa ketupat tuh ibarat sayur asam tanpa asam, ada yang kurang. So saat tahu ada sajian lontong padang, feel soooooooo happy.

It is not about the food, it is about the kindness and humanity. Saat gw sendirian, ga ada siapa-siapa, sajian ala rumahan bikin gw termehek-mehek. Mengingatkan kembali atas ibu dan bapak, mengingatkan kembali atas kenangan lebaran dengan keluarga lengkap.

Semoga kesediaan mereka untuk menyediakan tempat dan makanan menjadi ibadah dan pahala yang melimpah.

So buat pemudik yang kebablasan dan masih di jalan saat hari raya tiba, bisa minggir dan mampir di resto ini dan sama2 shalat serta menikmati hidangan ala rumahan di sini.

Info

Restoran Rindu Alam Ciherang: Jalan Raya Ciherang, Cianjur Regency, West Java 43253.

Image result for rindu alam taman ciherang
Sumber: google
Posted in My thought

Tetangga gue. Edisi Julid

Pagi ini beneran gw mau julid. Sebenernya dah lama banget sih keselnya cuma dibiarin aja. Dimaklumi. Tapi ya lama-lama pegel juga.

Tetangga gw baik. Anaknya ada 4 tapi 3 yang bersamanya. Kami kadang berbagi rejeki. Tapi satu yang bikin gw ga suka: selalu menyalahkan keputusan gw. Pertama kali bertemu saat membangun rumah. Dia dah nyalahin gw karena bikin gerbang kecil disamping gerbang untuk garasi.

“Buat apaan bikin ginian. Kayak punya motor aja”

*tepok jidat. Gw waktu itu ga punya motor tapi dalam rencana gw di masa yang akan datang gw beli motor.

Habis itu dia masuk rumah gw dan mulai point out dan komentar berbagai macam didampingi adiknya. Itu awal ketidaksenangan gw. Gw miskin, berupaya punya rumah setelah berpuluh tahun dan itupun dipinjami uang sama nyokap. Gw ngisi rumah ya semampu gw. Kalo cuma sanggup buat beli kursi plastik, ya gw ga akan beli kursi rotan. Period.

Berikutnya adalah pinjam duit. Pernah satu periode, tiap minggu ke rumah buat pinjam uang. Belum bayar sudah pinjam lagi. Awalnya sih gw ga keberatan, Kadang sisa uang di dompet gw pinjemin meninggalkan dompet kosong. Toh gw bisa narik dari atm bentar lagi, itu isi otak gw. Tapi ya lama-lama pegel ya dan makin susut tabungan gw sampai akhirnya gw nyerah dan negur.

Berhenti? sebentar. Habis itu pinjam lagi tapi dengan frekuensi yang makin dikit dan berjarak. Ga papa lah, gw jadi bisa nafas dan ga harus tiap minggu sedia uang buat dipinjam.

Apa itu berarti kebiasaan point outnya berakhir? enggaaaaaa…..

Gw punya cara sendiri buat bagi rejeki. Karena sering banget berprasangka dengan orang yang meminta-minta, apalagi dengan banyaknya berita pengemis yang pendapatannya lebih gede dari gw, gw mulai memilih dan memilah serta mengikuti kata hati. Kalau dirasa perlu, ya gw kasih. Kalau ada prasangka, ya ga gw kasih. Kesannya ga adil ya tapi gimana lagi, daripada gw ngomel ga rela. salah satu yang biasanya dilakukan adalah tidak menawar. Belanja tanpa menawar ke pedagang kecil itu yang gw lakukan dan tetangga gw melihat potensi buat point out. Gosh….

Walhasil kalau belanja ke tukang sayur, gw sembunyi-sembunyi karena tahu kalau ibu itu keluar, dia akan berdiri/duduk sambil ngamati kayak elang. Ga nyaman. Atau kalau ibu itu belanja, gw buru-buru menyelesaikan belanjaan dan masuk. Ga nyaman rasanya mendengar si ibu tarik urat leher nawar sampai rupiah terdekat.

Seperti pagi ini, gw yang memilih bertahan di rumah daripada jalan ke pasar, memesan udang ke tukang sayur. Memesan lewat tukang sayur tentu lebih mahal daripada beli langsung di pasar. Tapi hari gini, 4 hari menjelang lebaran, lo bakal bisa prediksi kan pasar tuh kayak apa: penuh manusia, macet, ditambah panas dan jujur aja, gw mah panik di tengah lautan manusia. So, memilih nitip tukang sayur adalah pilihan terbaik.

Dan berarti peluang buat tetangga buat amatin dan mematikan transaksi dengan koment2 betapa mahalnya harga yang diberikan, lebih baik beli dengan dia aja bla bla bla…

Nyerah gw….

“bagi-bagi rejeki bu…” sambil melengos.

hadooooh… pagi-pagi dah bikin runyam. Mungkin maksudnya baik supaya gw dapat lebih murah tapi itu memposisikan gw pada posisi yang serba salah.

Mematikan transaksi orang itu sangat buruk

Posted in Curhat Colongan, My thought

Anxiety

Kabar baru dari meninggal seorang perancang tas terkenal dunia karena bunuh diri akibat depresi mengingatkan gw pada masa-masa kegelapan gw dulu. Sekarang sih masih gelap tapi dulu itu the darkest point.

Gw bisa menangis kejer kayak anak kehilangan boneka dan diam berhari-hari. Mojok di kamar dan hidup ga jelas. It was suck… bener-bener muak. Gw menyesal membuang waktu dengan anxiety dan ketakutan yang ga masuk akal. Tapi itu memang terjadi dan gw ga bisa berbuat apa-apa.

Hidup gw kayak dibawah langit mendung yang membekap. Ga bisa bergerak. Ga bisa berfikir normal dan logis. Gila semuanya.

Keinginan buat bunuh diri selalu ada. Tapi biasanya orang yang berkoar buat bunuh diri itu biasanya penakut. Mereka masih memikirkan keinginan untuk hidup dan karenanya saat keinginan itu muncul, mereka selalu mencari alasan buat tetap hidup. Itu sih menurut gw. Karena itu yang gw rasakan. Saat pisau sudah menusuk-nusuk lengan, gw mencari alasan kenapa gw harus hidup. Saat menimbang-nimbang menjerat leher, gw memikirkan gimana harus hidup kedepannya.

So biasanya gw berakhir dengan duduk menangis. Kejer. Untung gw tinggal sendirian, ga ada orang yang terganggu dengan tangisan gw. Kalopun orang lewat yang dengar suara perempuan menangis, paling mikirnya: kunti mana nih yang lepas. Betewe, gw emang cengeng sih.

Butuh lama buat pemulihan. Dan gw melakukannya, bisa dibilang sendirian. Gw ga bisa ngomong ke keluarga karena buat mereka itu berarti gw gila atau jauh dari agama. Gw ga bisa ngomong ke teman karena berarti gw berpotensi dijauhi dan jadi bahan gosipan.

Gila, berjuang sendirian sedang gw sendiri ga ngerti dan ga paham dengan diri sendiri. Butuh kekuatan besar dan butuh hati yang besar. Yang ga selalu gw punya.

Sampai sekarang gw belum “sembuh”. Gw masih punya GAD. Gw masih berdebar2, takut membuka surat dan email, gemeter saat mulai membacanya, nangis saat merasa ketakutan, berusaha tampil ceria dan babak belur belakangan.

Sejauh ini gw belum menemukan pelabuhan yang benar buat menanggulangi anxiety gw. Pelabuhan yang friendly tanpa menghakimi dan melabeli.

Posted in Curhat Colongan, My thought, Pengalaman, tumor

Perjalan sejauh ini: Tumor – Paska operasi

Empat hari menunggu itu serasa berbulan-bulan. Rasanya lama banget. Gw bahkan lupa hari dan tanggal. Banyak dilewatkan dengan menjahit kristik dan tidur. Gw berusaha belajar memasang bebat sendiri. Bebat itu membantu supaya dada gw ga banyak bergerak dan jadi nyeri. Setelah bebat merosot terus, gw kira gw harus punya beha yang nyaman dan tidak ketat. So gw beli online bra sport yang diagung-agungkan sebagai magic bra. Lumayan.

Mandi gw dengan cara di lap. Gw bisa mandi sendiri karena terlatih mengurus diri pasca operasi. Ini bukan operasi pertama gw: tangan kiri, perut kanan bawah karena usus buntu dan sekarang ini. Gw ga berani melihat jahitan yang diperban.

Senin (28) tiba. Gw mendaftar online, jadi sampai sana gw langsung ke meja pendaftaran online. Gw diminta ke loket 13 untuk BPJS kemudian balik ke meja pendaftaran online menyerahkan rujukan dan surat konsul kemudian diberi nomor. Setelah itu diberi pengantar ke poli bedah dan menunggu sampai jam 11. Menunggu di Musholla yang berdekatan dengan kandang rusa sampai jam 10.30. Kembali ke poli bedah. Menunggu

Dokter datang jam 11 lewat. Menunggu lagi sampai gw dipanggil. Gw dah bisa ketawa lega. Dokter bilang dah ga nangis lagi ya dah bisa ketawa. Perban dibuka oleh dokter koas wanita dan buset…. nyeriiiiii….. “dah mau kering kok” kata dokter koas.

“Bagus kok” Dokter bilang. Ternyata gw ga dijahit tapi dilem, jadi gw ga ngerasain ngilu saat benang dicabut, cuma nyeri saat plester perban dibuka. Gw diminta kembali lagi nanti saat hasil PA. Gw ga bisa diskusi lama karena dokter koas ngegiring gw keluar. Gw masih mau tanya tentang bagaimana perawatan paska operasi, bagaimana penanggulangan tumor di payudara kiri gw, apakah ada yang harus dilakukan?

Oh well, next time mungkin.

Dada gw masih terasa nyeri kadang-kadang, apalagi kalau terguncang. Selain itu gw merasakan bahwa ada massa yang keras dibawah bekas operasi. Gw ga berani megang, gw cuma membersihkan saat mandi dengan tidak menekan keras-keras kemudian mengusapkan antibiotik di luka operasi, mengingatkan kembali adanya kemungkinan tumor baru. Dokter bilang sih semua tumor sudah diangkat tapi gw tetep cemas.

Gw balik ke rumah Senin malam. Dijemput abah. Kakak gw bilang: “operasi lagi bah” Abah cuma ketawa aja. Gw memang ga memberi tahu banyak orang. Gw ga sanggup kalau ditanya-tanya. Sedih rasanya. Apalagi dengan ketidakpastian gini. Gw cuti kerja sampai lebaran. Pengen sendiri dan belajar menerima bahwa mungkin satu saat gw akan mengalami masa-masa sulit.

Let me enjoy my last times.

Gw masih menunggu telepon dari RS untuk megetahui hasil PA. Semoga setelah lebaran….