Posted in My thought

being single

Gara-garanya tukang sayur yang menawarkan dagangannya dan gw cuma pilih 2 bungkus bukan 5 bungkus yang dia tawarkan. “30 ribu aja bu” murah (berarti 6000 sebungkus). “ga mau, 2 aja”. Bungkis bungkus, bayar 15 ribu untuk 2 jenis belanjaan.

Berikutnya ternyata ibu tetangga belanja dan sempat meneriaki gw seolah-olah gw gila: “ko, ini 15 ribu loh 3, kenapa cuma beli 2, lebih mahal” dan gw jawab dengan sedikit tersinggung: “saya butuh 2 dan mau hanya 2”.

“Beli aja lagi, simpen buat kapan-kapan”

“enggak, saya cuma mau dua. Buat apa beli banyak-banyak tapi mubazir. Kecuali ada yang mau makan, baru beli banyak”

Sambil menutup pintu dan berusaha untuk tidak memperdulikan.

Yang ga ibu itu tahu si abang kasih diskon 1000 ke saya untuk setiap 1


Ibu itu udah beberapa kali mengotak-atik nerve gw dengan mempertanyakan keputusan gw. Mungkin semua keputusan gw terlalu aneh bagi pemahaman umum. Beberapa kali gw harus terseret-seret karena si ibu memaksa untuk nebeng dalam segala kegiatan.

Orang dengan kepercayaan diri rendah dan kemampuan rendah namun memiliki daya hisap yang kuat itu sangat melelahkan.


Being single, disamping semua kemewahan dan kemudahan, pasti dong ada kesulitan. Dan orang-orang paling gampang menunjukan kerugian being single. Bikin riwet hidup gw.

Beberapa kali gw menangis karena keinginan dasar sebagai manusia terhambat: keinginan untuk memiliki keturunan. Melihat dinamika ibu dan anak sangat menyakitkan, melihat anak terbuang bikin perih hati, melihat anak berlari dan menangis meminta perlindungan kepada ibunya sangat bikin hati sedih. paling sebel

Menyadari bahwa gw ga akan bisa menyayangi, membentuk dan melihat keturunan gw tuh rasanya nyesss… sakit.

Apalagi kalau sudah ditertawakan atau disindir tentang status dan usia yang semakin bertambah. Makin sulit dapat jodoh katanya, makin sulit dapat anak, makin ga ada rasanya.

Terlepas dari semua sindiran dan kesedihan, sebenarnya ada juga terselip rasa syukur. Rasa syukur karena gw ga nambah populasi manusia di muka bumi. Bersyukur karena gw terlepas dari beban pikiran akan kualitas generasi baru yang berasal dari perut gw. Bersyukur karena gw tidak mengalami masalah yang mungkin dan bisa jadi ditimbulkan oleh penyatuan dua manusia.

Well, ngaku aja sih gw kalo kemarin malam gw nangis karena merasa gagal sebagai anak untuk meneruskan keturunan bagi keluarga besar gw. Maafkan saya, bapak dan ibu.

Advertisements

Author:

Woman. Single.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s