Posted in Pengalaman

Usus buntu! Sebuah perjalanan

Never ever ever again.

Untung usus buntu itu diciptakan untuk ga tumbuh lagi. Jadi setidaknya ga akan ada kemungkinan terjadi lagi appendisitis.

Sehari setelah operasi, Ko masih merasakan kantuk yang lumayan dan otak yang melayang. Berusaha untuk sadar dan berfikir jernih. Mendapati tangan tertancap jarum dan setiap 8 jam disuntik obat-obatan, bikin pasrah. Kateter masih dipakai, blood drain masih tertancap. Bergerak pun susah.

Untung sepupu bersedia menemani dan mengurus selama Ko sakit. Salah satu kesedihan yang paling dalam adalah saat sakit sendirian dan ga ada yang bisa mengurus saat lemah tak berdaya.

Balik lagi cerita. Hari kedua masih tak berdaya. tapi otak mulai cerdih. Penghilang nyeri yang disuntikan setiap beberapa jam memberikan rasa sakit yang parah saat disuntikan. Dokter bilang: “kamu sempat kesakitan saat akhir operasi”. Ya Ko masih mengingat erangan dan rasa sakit yan sangat. Jadi, saat penghilang nyeri menimbulkan nyeri saat masuk ke pembuluh darah, Ko bersedia menahannya. Mulai diberikan makanan karena observasi 24 jam telah selesai dan pergerakan usus ditemukan sudah membaik.

Hari ketiga sudah belajar untuk miring kanan dan kiri. Ko selalu tidur menghadap kanan. Tidur terlentang bukan pilihan yang menarik. Apalagi tidur tengkurep. Bakal ga bisa. Masih terasa ngiluuuu dan perih di bekas luka operasi yang tertutup perban. Salah satu kebijakan rumah sakit adalah mandi dengan menggunakan tissue basah. Hal yang sangat memberatkan karena tissue basah cenderung lama terdegradasi di tanah. Walhasil Ko menunggu sepupu untuk melap badan.

Hari ke empat dokter memutuskan untuk membuka selang infus. Lumayan. Meski jarum masih tertancap untuk memasukan obat tapi pergerakan tangan lebih baik. Bisa menggaruk. Kateter mulai diikat dan setiap 4 jam dibuka untuk memastikan kandung kemih sudah belajar untuk menahan pipis.

Hari ke lima, kateter dibuka. Ngiluuuuu saat dicabut. Tantangan baru. Karena berarti harus turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Belajar turun dengan berpegangan pada suster atau sepupu yang ko remas kuat-kuat saking ngilu dan perihnya. Hari itu adalah mandi pertama dan keramas pertama.

Hari ke enam, libur. Karena itu weekend dan dokter ga ada. Menikmati belajar turun sendiri. Ngilu dan nyeri sudah makin berkurang dan Ko HARUS belajar mandiri. Sulit membungkuk. Blood drain masih menghalangi.

Hari ke tujuh, suster membawa ke ruang periksa dokter. Perban diganti. dan blood drain dicabut. Tarik napas katanya. Tapi siapa yang sanggup menarik napas tanpa mengeluarkan selama beberapa menit saat blood drain dicabut. Ngiluuuuuuuuu dan perih. Dokter memutuskan untuk memulangkan Ko.

Hari ke delapan. Ko sudah di rumah sepupu. Entah emang kebluk, entah terbiasa di rumah sakit atau memang masih terbawa suasana bius, hari itu dilewati dengan tidur. Begitupun hari ke sembilan. Tapi Ko memutuskan untuk belajar mandi (mengelap diri) sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.

Luka pada perut masih sangat terasa. Menggunakan korset ibu paska melahirkan sangat membantu untuk mengurangi rasa nyeri meski menimbulkan kesan habis melahirkan. Bangkit dari kasur, duduk, berdiri, berjalan masih menyakitkan.

Hari ke sepuluh, semuanya jadi lebih baik. Tapi ketakutan akan rasa sakit masih menyebabkan semua pergerakan menjadi lambat. Hari kesebelas hingga saat ini (hari ke sembilan belas), rasa ngilu dan nyeri makin berkurang. Jika kita sudah terbiasa dengan kepedihan, maka kepedihan akan menjadi bagian dari diri kita. Namun kadang masih terasa pedih yang mendadak. Luka makin mengering. Kadang terasa baal dan aneh saat tersentuh. Napas terasa mudah habis meski perjalanan yang sedikit dan kepala terasa nyut-nyutan. Mungkin bukan karena dampak samping operasi tapi penyesuaian akibat terlalu lama beristirahat.

====================

Sebagai seorang single yang harus mengalami sakit dan harus dirawat, sendirian itu menyesakan. Kunjungan dari orang yang sangat dianggap dekat sangatlah membantu. Berbicang-bincang tanpa menyinggung soal sakit, akan sangat menyenangkan dibandingkan dikunjungi teman dan mereka menunjukan rasa kasihan.

Meski suster selalu ada dan siap membantu, diurus oleh keluarga sendiri menjadi sangat diharapkan. Yang paling susah adalah saat harus mengurus administrasi, pertanggungjawaban menjalankan operasi, pengambilan obat, yang membutuhkan pergerakan fisik.

Ko sempat mendengar dokter berbicang dengan suster yang merasa kerepotan dalam hal administrasi dan pertangungjawaban akibat sang pasien diantar teman dan dia ga berani bertanggung jawab dan membubuhkan tanda tangan. Sedih rasanya.

Advertisements

Author:

Woman. Single.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s