Posted in My thought

Post Perdana

Segala sesuatu ada yang pertama dong. Sama kayak pertamanya post di blog ini. Antara iseng-iseng, ingin mengedukasi, ingin nulis dan meluapkan uneg-uneg maka dibuatlah blog Te Kohine ini.

Kohine itu berasal dari bahasa Maori, artinya girl, perempuan. Sedangkan Te itu berarti The. The Girl. Perempuan. Wanita.

Perempuan itu memiliki kromosom XX. Lawannya adalah XY. Perempuan itu punya ovarium dan uterus. Selebihnya perempuan itu adalah manusia. Dampak memiliki ovarium dan uterus mengakibatkan adanya menarche, mens, haid, period, datang bulan, palang merah, pendarahan rutin. Ada beberapa perempuan yang tidak memiliki kesempurnaan seperti itu tapi tetap diakui sebagai wanita. Ada juga pihak yang ingin menyeberang dan diakui sebagai wanita. Tapi ga usahlah kita bahas. Ntar jadi rame.

Beberapa perempuan juga tidak sempurna dalam menjalani daftar hidup normal. Saya dari kecil sudah memikirkan urutan kehidupan saya: sekolah, kuliah, kerja, menikah. Urutan yang sederhana. Ternyata dalam perjalanannya saya hanya sampai pada tingkatan bekerja. Tidak sampai untuk memenuhi cita-cita menikah.

Beberapa perempuan sampai pada tahapan menikah, namun terhenti sampai proses memiliki keturunan. Beberapa perempuan terus lanjut, tapi berhenti pada tahap mendapatkan keturunan dari keturunan pertama alias cucu, entah karena anak tidak menikah atau tidak mendapatkan keturunan. Beberapa wanita bahkan terputus dalam masa hidupnya. Entah terputus saat sekolaj, saat bekerja, saat menikah atau saat menuggu cucu. Alias meninggal.

Waktu usia masih berada angka yang kinyis-kinyis, masih pede dong bisa menikah. Bahkan sempat iri saat teman-teman seangkatan mulai meninggalkan masa lajang dan menjadi ganda campuran. Meski ketawa-ketawa tapi ada rasa sedih.

Masa iri menjadi masa mencari. Kalap. Berharap. “Jodohku… maunya ku dirimu….” Gitu kata Anang. Bahkan kalo ada tukang parkir niup peluit mo mundurin mobil pun, bisa bikin deg-degan: jangan-jangan lagi periwitin gue nih….

Lewat deh masa kalap. Timbul masa santai. Ya udahlah, kalo ga ada yang melamar, nikmatin aja hidup. Saking nikmatnya hidup, semua dibawa senang. Sampai ga bisa membedakan ni orang emang suka atau cuma main-main. Semuanya dibawa main. Bahkan mulai membalik: sibuk gangguin orang.

Saat ini sih, enak-enak aja. Tapi yang ga enak itu lingkungan sekitar. Entah kenapa mereka lebih ribut dibandingkan pelaku. Orang tua, jelaslah khawatir. Meski orang tua Ko masih ga nanya-nanya terlalu jauh, tapi paman, bibi, ponakan yang dah gede bahkan tetangga ikut “menghakimi”. Capek tauuuuuuu…

Teman, rekan kerja, ikut menanyakan bahkan mempertanyakan. Malah bikin tambah stress.

Tapi ya gitu lah. Normanya, normalnya, adabnya, baiknya, – apalagi tuhan sudah menjanjikan- bahwa semua orang itu berpasangan. Kayak pagi dan sore, siang dan malam, terang dan gelap, kanan dan kiri. Sialnya kadang suka ada gerhana yang berkepanjangan Atau mati lampu terus-terusan, atau kidal yang berkepanjangan. Walhasil, single bukan lagi pilihan, single bukan lagi kemauan tapi single adalah satu-satunya cara yang harus dihadapi.

Demikian

Advertisements

Author:

Woman. Single.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s